Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #83

Malam Sebelum Badai (H-1)

Salju turun tanpa suara yang berarti di atas atap garasi tua keluarga Tanaka.

Butiran-butiran putih berjatuhan melewati cahaya lampu jalan, sesekali berputar ketika angin malam menyelinap di antara bangunan-bangunan rendah di kawasan itu. Di kejauhan, kota masih hidup. Lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di sepanjang jalan raya, sementara jendela-jendela gedung memancarkan cahaya kekuningan yang samar di balik tirai salju. Suara mesin, klakson yang sesekali terdengar, dan dengung kereta dari kejauhan menyatu menjadi latar yang begitu jauh sehingga nyaris terasa seperti milik dunia lain.

Di atas garasi, dunia mereka jauh lebih sederhana.

Hanya ada atap beton yang mulai dingin, dua peti kayu bekas yang digunakan sebagai tempat duduk, sebuah termos berisi minuman hangat, serta selimut tebal yang dibawa Kenji dari dalam rumah. Sebuah lampu portabel diletakkan di dekat pintu akses atap, menerangi permukaan beton dengan cahaya pucat. Di sudut, salju mulai menumpuk tipis, membentuk garis putih di sepanjang pagar besi yang sudah berkarat.

Ren duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas lutut. Mantelnya tertutup sampai ke leher, tetapi udara dingin tetap merembes melalui celah-celah kain. Di sampingnya, Mai membungkus kedua telapak tangan dengan cangkir logam berisi teh hangat. Uap tipis naik dari permukaannya, sesekali menghilang ketika diterpa angin.

Mereka sudah cukup lama berada di sana tanpa banyak bicara.

Tidak ada kamera pengawas yang mengarah ke wajah mereka. Tidak ada petugas keamanan yang berdiri beberapa meter di belakang. Tidak ada suara langkah staf yang mendekat untuk mengingatkan Mai tentang batas waktu kunjungan atau menyampaikan bahwa Souichiro menginginkan Ren kembali ke ruang belajarnya.

Untuk pertama kalinya sejak pelarian mereka dimulai, keheningan di antara mereka bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Mai mengangkat cangkirnya ke bibir. Teh yang semula panas kini hanya menyisakan kehangatan ringan, tetapi ia tetap meminumnya perlahan. Tatapannya mengikuti satu mobil yang melintas di persimpangan jauh di bawah sana, kemudian berhenti pada lampu merah yang memantul di permukaan jalan basah.

"Rasanya aneh," gumamnya.

Ren menoleh. "Apa?"

Mai menggerakkan cangkir di antara kedua telapak tangannya. "Bisa duduk seperti ini tanpa harus memikirkan apakah ada orang yang sedang melihat kita."

Ren mengikuti arah pandangnya. Di kejauhan, lampu sebuah gedung berkedip sebelum kembali menyala stabil.

"Kurasa aku mulai lupa rasanya."

"Kamu bahkan tidak perlu berpura-pura sedang belajar."

"Aku bisa berpura-pura sedang memikirkan soal matematika kalau itu membuatmu lebih nyaman."

Mai menoleh cepat, lalu menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

"Ren, kita sedang berada di tengah pelarian, dan kamu masih sempat-sempatnya membuat lelucon tentang matematika?"

"Aku sedang berusaha menjaga suasana."

"Itu bukan suasana yang perlu dijaga."

"Kalau begitu, aku akan berhenti."

Ren mengangkat kedua tangan sedikit, menyerah sebelum Mai sempat melanjutkan protesnya. Gerakan itu membuat Mai mengembuskan napas melalui hidung. Sudut bibirnya terangkat, meskipun senyumnya tidak bertahan lama.

Di bawah mereka, sebuah pintu dibuka. Terdengar suara Kenji berbicara dengan seseorang di telepon, disusul bunyi pintu yang kembali ditutup. Sahabat Ren itu telah memastikan kendaraan yang akan digunakan esok hari siap, perlengkapan mereka tersimpan di tempat yang aman, dan tidak ada tanda-tanda orang asing berkeliaran di sekitar garasi.

Sebelum meninggalkan mereka berdua, Kenji sempat muncul di pintu akses atap dengan dua bungkus makanan ringan di tangannya.

"Aku akan turun sebentar," katanya, sambil meletakkan makanan itu di dekat termos. "Kalau kalian butuh sesuatu, panggil saja. Aku tidak akan menguping."

Ia berhenti, melirik Ren, lalu menambahkan, "Dan kalau kalian berdua memutuskan untuk mengadakan rapat rahasia yang sangat dramatis, tolong jangan sampai ada yang jatuh dari atap. Aku tidak punya anggaran untuk mengurus dua orang bodoh sekaligus."

"Pergilah, Kenji," kata Ren datar.

"Ya, ya. Aku tahu kapan harus mundur."

Kenji mengangkat kedua tangan, kemudian menghilang melalui pintu. Sesaat kemudian, suara langkahnya terdengar menuruni tangga besi.

Mai memandang pintu yang tertutup itu.

"Dia benar-benar mengkhawatirkan kita."

"Kenji memang seperti itu."

"Dia juga berusaha keras untuk tidak terlihat terlalu khawatir."

Ren mengusap ibu jari pada ruas jarinya sendiri. "Dia tidak terlalu berhasil."

Kali ini, Mai tertawa kecil. Suaranya segera larut di antara hembusan angin, tetapi tawa itu cukup untuk membuat bahunya yang sejak tadi kaku sedikit mengendur.

Kemudian, ketika tidak ada lagi yang perlu mereka katakan tentang Kenji, keheningan kembali datang.

Ren memandang Mai lebih lama daripada sebelumnya. Cahaya lampu portabel jatuh pada sisi wajah gadis itu, memperlihatkan helai rambut yang terlepas dari ikatannya dan ujung hidung yang memerah karena dingin. Kalung perak berinisial M terletak di atas pakaiannya, sesekali menangkap cahaya ketika ia bergerak.

Ren menarik napas perlahan.

"Miyauchi Mai."

Jari-jari Mai berhenti bergerak pada permukaan cangkir.

Ia menoleh.

Ren tidak sedang tersenyum. Namun, wajahnya juga tidak menunjukkan ekspresi tegang yang biasanya muncul setiap kali mereka membicarakan masa depan. Ia hanya menatap Mai dengan ketenangan yang membuat gadis itu mendadak tidak tahu harus berbuat apa dengan kedua tangannya.

"Ya?"

Ren membiarkan jeda singkat berlalu sebelum melanjutkan.

"Aku ingin memanggilmu dengan nama itu malam ini."

Mai menunduk sedikit. Ibu jarinya bergerak menyusuri tepi cangkir, mengikuti lingkaran logam yang dingin.

"Kamu sudah sering memanggilku Mai."

"Aku tahu."

"Jadi, kenapa sekarang harus menyebut nama lengkapku?"

Ren mengalihkan pandangannya sesaat ke arah kota. Salju mendarat di bahunya, lalu meleleh menjadi titik-titik kecil ketika menyentuh kain mantel.

"Karena besok, banyak orang akan berusaha menentukan siapa dirimu."

Mai tidak menjawab.

"Mereka mungkin akan menyebutmu pembohong. Mereka mungkin akan menyebutmu penipu, atau seseorang yang telah mengambil nama orang mati untuk mendapatkan keuntungan." Ren berhenti sebentar, mengatupkan rahangnya sebelum melanjutkan. "Saito mungkin akan menggunakan setiap halaman kontrak yang pernah kau tandatangani untuk membuatmu merasa bahwa kau tidak berhak memilih apa pun setelah ini."

Tangannya mengepal di atas lutut, lalu perlahan terbuka kembali.

"Aku tidak bisa menghentikan mereka mengatakan semua itu. Aku juga tidak bisa menjamin bahwa mereka tidak akan mencoba menyakitimu melalui cara lain."

Ia menoleh kembali kepada Mai.

"Tapi aku tidak ingin nama aslimu kembali menjadi sesuatu yang hanya boleh kita bicarakan ketika tidak ada orang lain di sekitar."

Mai menatapnya tanpa berkedip.

Angin melewati atap, mengangkat ujung selimut di pangkuannya. Ia buru-buru menahannya dengan satu tangan, tetapi tidak segera menarik selimut itu kembali ke tempat semula. Jemarinya justru mencengkeram kain tersebut lebih erat.

Selama berbulan-bulan, namanya telah menjadi sesuatu yang harus disimpan rapat-rapat. Miyauchi Mai adalah gadis yang pernah bekerja di sebuah kafe kecil di Akihabara, yang menghitung uang transportasi sebelum pulang, yang menghafal pesanan pelanggan dan mengukur keramahan berdasarkan berapa lama seseorang bersedia mendengarkan keluhan mereka. Ia adalah gadis yang menerima pekerjaan berbahaya karena membutuhkan uang, kemudian perlahan-lahan kehilangan ruang untuk mengakui dirinya sendiri.

Di kediaman Kisaragi, nama itu tidak lebih dari sebuah fakta yang tercetak di dokumen kontrak.

Bukan sesuatu yang boleh dipanggil dengan suara hangat di meja makan. Bukan sesuatu yang dapat dibawa ke sekolah. Bukan sesuatu yang dapat ia kenakan di hadapan orang-orang yang mengharapkannya menjadi Kanade.

Dan kini Ren menyebutnya di tengah malam bersalju, tanpa meminta apa pun sebagai balasannya.

"Aku tidak tahu harus menjawab apa," kata Mai akhirnya.

"Kau tidak perlu menjawab."

"Tapi kamu sudah mengatakannya dengan sangat serius."

"Maaf."

"Jangan minta maaf." Mai mengangkat wajahnya. "Aku hanya sedang berusaha supaya tidak menangis."

Ren terdiam.

Mai segera mengalihkan pandangan, seolah-olah baru saja mengakui sesuatu yang seharusnya tidak perlu diketahui orang lain. Ia tertawa pendek, tetapi suaranya bergetar di ujung.

"Aku tahu ini konyol. Kita sudah melewati banyak hal, dan sekarang aku malah hampir menangis hanya karena kamu menyebut nama lengkapku."

"Itu tidak konyol."

"Kamu selalu mengatakan begitu."

"Karena memang begitu."

Mai menatapnya kembali. Untuk sesaat, ia melihat pemuda yang dahulu dikenalnya sebagai Ren yang patuh, Ren yang menundukkan kepala ketika ayahnya berbicara, Ren yang menerima jadwal belajar tanpa bertanya, Ren yang bahkan setelah terbangun dari koma seolah-olah takut melakukan sesuatu yang dapat membuat semua orang kecewa.

Namun, pemuda yang duduk di hadapannya kini bukan lagi orang yang sama sepenuhnya.

Ia masih membawa luka-luka yang belum sembuh. Ia masih memiliki kebiasaan mengatupkan rahang ketika menahan sesuatu yang tidak ingin diucapkannya. Ia masih terdiam terlalu lama sebelum menyentuh kenangan tertentu, seolah-olah setiap kata harus melewati pemeriksaan ketat sebelum boleh keluar dari mulutnya.

Tetapi sekarang, ia mampu mengatakan apa yang diinginkannya.

Dan ia tidak lagi meminta Mai menjadi orang lain agar keinginannya dapat terpenuhi.

Mai meletakkan cangkir di antara kedua kakinya, lalu meraih kalung di lehernya. Logam perak itu dingin ketika menyentuh ujung jarinya.

"Aku masih takut," katanya.

Ren tidak segera menjawab. Ia menggeser duduknya sedikit, memberi Mai seluruh perhatian yang bisa ia berikan.

"Takut pada Saito?"

Mai mengangguk.

"Aku tahu kita sudah berhasil keluar dari sekolah waktu itu. Aku juga tahu Kenji sudah menyiapkan tempat ini dan kendaraan untuk besok." Ia menelan ludah. "Tapi setiap kali mendengar suara mobil berhenti di jalan, aku langsung berpikir dia datang untuk membawaku pergi."

Jari-jarinya mengerat di sekitar liontin.

"Aku terus membayangkan dia akan menunjukkan kontrak itu, lalu mengatakan bahwa aku sudah melanggar perjanjian. Dia akan bilang aku tidak punya pilihan, bahwa aku sudah menandatangani semuanya sendiri, dan bahwa apa pun yang terjadi kepadaku sekarang adalah akibat keputusanku sendiri."

Mai berhenti. Napasnya sempat tertahan ketika bayangan ruang UKS muncul kembali di benaknya: pintu yang tertutup, jari-jari Saito yang mencengkeram lengannya, rasa sakit ketika ia berusaha melepaskan diri, serta bunyi peralatan medis yang jatuh menghantam lantai.

Ia menggosok lengan yang sempat dicengkeram itu, meskipun memar yang ditinggalkan Saito sudah mulai memudar.

"Bagian paling menakutkan bukan ketika dia menarikku," lanjutnya pelan. "Melainkan ketika aku menyadari bahwa dia benar-benar percaya dirinya berhak melakukannya."

Ren menunduk. Bayangan tangan Saito yang meraih Mai masih cukup jelas dalam ingatannya untuk membuat pergelangan tangannya terasa nyeri kembali.

"Aku tidak akan mengatakan bahwa kau tidak perlu takut," ujarnya.

Mai mengangkat mata.

"Aku tidak bisa menjamin bahwa Saito akan berhenti mengejarmu besok. Aku juga tidak tahu apakah keluargaku akan membiarkan kita keluar dari kediaman tanpa perlawanan. Kalau kita kembali ke sana, kita mungkin akan menghadapi hal-hal yang tidak bisa kita perkirakan."

Ren menarik napas, kemudian melepaskannya perlahan.

"Aku tidak ingin membuatmu merasa aman dengan menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa kutepati."

Mai memperhatikannya dalam diam.

"Tapi aku bisa menjanjikan satu hal," lanjut Ren. "Aku tidak akan menggunakan ketakutanmu sebagai alasan untuk mengambil keputusan atas namamu. Dan aku tidak akan meminta kau menghadapi semua akibat ini sendirian."

Tidak ada nada heroik dalam suaranya. Ia tidak mengucapkannya seperti seorang pangeran yang bersumpah akan melindungi seseorang dengan kekuasaannya. Ia bahkan tidak berusaha meraih tangan Mai ketika mengatakannya.

Ren hanya menyampaikan batas yang bersedia ia pertahankan, sekalipun batas itu membuat jalannya sendiri menjadi lebih sulit.

Mai merasakan sesuatu menghangat di balik tulang dadanya. Ia menunduk cepat, berpura-pura memeriksa liontin yang masih dipegangnya.

"Kalau begitu," katanya, "aku juga tidak akan berpura-pura bahwa aku sama sekali tidak takut."

"Bagus."

"Bagus?"

"Aku lebih suka kau mengatakan yang sebenarnya daripada memaksakan diri terlihat berani."

Mai mengerutkan hidung.

"Kamu mulai terdengar seperti orang dewasa."

"Aku delapan belas tahun."

"Itu bukan berarti kamu sudah menjadi orang dewasa yang bijaksana."

"Aku tidak pernah mengklaim demikian."

"Bagus. Setidaknya kamu masih punya sedikit kesadaran diri."

Ren menggeleng kecil. Senyum tipis sempat muncul di wajahnya, tetapi segera memudar ketika Mai kembali memandang kota.

"Ada hal lain yang membuatku sedih," katanya.

Ren menunggu.

"Sekolah."

Satu kata itu terdengar begitu sederhana dibandingkan persoalan yang mereka hadapi. Namun, Mai mengucapkannya dengan kehati-hatian seseorang yang sedang membuka sebuah kotak berisi benda-benda rapuh.

"Aku tahu aku tidak bisa terus kembali ke sana sebagai Kanade. Aku juga tahu bahwa kalau kita berhasil meninggalkan kediaman besok, aku tidak bisa begitu saja kembali menjalani kehidupan yang sama seperti sebelumnya." Ia menarik ujung lengan mantelnya menutupi telapak tangan. "Tapi ketika aku memikirkan ruang kelas itu, aku masih ingat suara teman-teman yang ribut sebelum pelajaran dimulai. Aku ingat orang yang duduk di belakangku dan selalu meminjam penghapus. Aku ingat album yang mereka berikan waktu pesta perpisahan."

Senyumnya muncul sebentar, kecil dan rapuh.

"Aku bahkan masih ingat betapa berisiknya klub otaku itu."

Ren mendengus pelan.

"Kurasa mereka akan membuat teori konspirasi baru setelah kita menghilang."

"Mungkin mereka akan bilang kamu benar-benar menculikku."

"Setelah semua yang terjadi, itu mungkin teori paling sederhana yang bisa mereka buat."

Mai tertawa, kali ini sedikit lebih lepas. Ia membayangkan sekelompok siswa yang pernah mengamatinya dengan mata berbinar karena yakin telah menemukan maid favorit mereka, kemudian menyusun dugaan-dugaan liar tentang hubungan antara dirinya dan Ren. Kenangan itu membuatnya geli sekaligus getir.

Mereka tidak pernah mengetahui seluruh kebenaran. Sebagian dari mereka bahkan tidak pernah memahami bahwa gadis yang mereka anggap karakter menarik dalam sebuah cerita memiliki kehidupan yang tidak bisa mereka tebak dari kejauhan.

Namun, kenangan itu tetap nyata.

"Aku tahu nama Kanade bukan milikku," kata Mai setelah tawanya mereda. "Tapi waktu-waktu yang kuhabiskan di sekolah itu tetap menjadi bagian dari hidupku. Aku tidak bisa mengatakan bahwa semuanya palsu hanya karena aku berbohong tentang namaku."

"Memang bukan semuanya palsu."

Ren memungut sebutir salju yang jatuh di atas lututnya. Ia mengamati kristal kecil itu mencair di telapak tangannya sebelum menutup jari-jari.

"Orang-orang yang kau temui benar-benar ada. Percakapan yang kau lakukan benar-benar terjadi. Kalau ada seseorang yang membuatmu tertawa, tawamu tetap nyata, meskipun dia tidak tahu siapa dirimu sebenarnya."

Ia berhenti sejenak.

"Tapi aku juga tidak akan memintamu mempertahankan kehidupan itu hanya karena ada bagian-bagiannya yang kau sayangi."

Mai memandang album kenangan yang tidak dibawanya malam itu, seolah-olah benda tersebut masih tersimpan di suatu tempat di dalam tasnya.

"Aku tidak ingin melupakan semuanya," bisiknya.

"Kau tidak harus melupakan."

"Kalau aku pergi, mungkin mereka akan membenciku ketika mengetahui kebenarannya."

"Mungkin."

Jawaban itu membuat Mai menoleh cepat. Ia sempat berharap Ren akan menyangkalnya, mengatakan bahwa semua orang pasti mengerti, atau bahwa teman-teman sekelasnya akan memaafkannya karena ia tidak memiliki pilihan lain.

Namun, Ren tidak mengatakan hal-hal semacam itu.

Ia tidak mengambil risiko yang belum terjadi dan mengubahnya menjadi kepastian hanya demi menenangkan Mai selama beberapa menit.

"Mereka mungkin marah," lanjut Ren. "Mungkin ada yang merasa dipermainkan. Mungkin ada yang tidak mau mendengarkan penjelasanmu. Kita tidak bisa menentukan bagaimana mereka akan bereaksi."

Mai mengatupkan bibir. Angin menyusup ke balik kerah mantelnya, tetapi rasa dingin yang membuatnya menggigil tidak sepenuhnya berasal dari cuaca.

"Tapi kalau aku terus hidup sebagai Kanade hanya karena takut kehilangan kenangan itu," katanya perlahan, "aku akan kehilangan diriku sendiri."

Ren mengangguk.

"Ya."

Mai memejamkan mata sejenak. Ia teringat wajah-wajah teman sekelasnya, surat-surat yang diselipkan ke dalam album, meja yang selama berbulan-bulan menjadi tempatnya duduk, serta koridor tempat Ren menunggunya setelah pesta perpisahan. Semua itu merupakan potongan kehidupan yang tidak bisa ia bawa kembali dengan cara yang sama.

Tetapi ia juga tidak harus membencinya.

Ia bisa menyimpan kenangan itu tanpa terus mengenakan nama yang bukan miliknya.

"Aku ingin suatu hari nanti kembali ke sekolah," katanya. "Bukan sebagai Kanade. Bukan sebagai gadis yang harus menjelaskan setiap tindakannya kepada seseorang yang mengawasinya."

Mai menatap kedua tangannya.

"Aku ingin masuk ke ruang kelas dan memperkenalkan diriku dengan nama yang benar. Miyauchi Mai. Aku ingin berteman dengan orang-orang tanpa harus menghafal cerita tentang masa kecilku yang sebenarnya tidak pernah kualami."

Suaranya mengecil pada kalimat terakhir.

"Aku ingin bisa mengatakan sesuatu tentang diriku tanpa terlebih dahulu memikirkan apakah Saito akan menganggapnya sebagai pelanggaran kontrak."

Ren memandangnya dengan sorot mata yang tenang.

"Kalau itu yang kau inginkan, kita akan berusaha mewujudkannya."

Mai mengangkat wajah.

"Kita?"

"Ya."

"Kamu tidak keberatan kalau aku ingin kembali sekolah?"

"Kenapa aku harus keberatan?"

Mai mengangkat bahu, lalu menurunkannya lagi.

"Entahlah. Kamu mungkin ingin kita langsung pergi ke rumah nenekmu dan tidak pernah berurusan lagi dengan keluarga Kisaragi."

"Aku memang ingin meninggalkan keluarga Kisaragi."

Ren mengatakannya tanpa ragu, tetapi ia tidak berhenti di sana.

"Namun, itu bukan berarti aku ingin menentukan seluruh hidupmu setelah kita pergi. Kalau kau ingin kembali sekolah, kita akan mencari cara. Kalau kau ingin bekerja sambil belajar, kita akan menghitung apa yang memungkinkan. Kalau kau membutuhkan waktu sebelum memutuskan apa pun, kau juga berhak mendapatkannya."

Ia mengusap tengkuknya, sedikit canggung ketika menyadari betapa banyak hal yang belum ia ketahui tentang kehidupan di luar perlindungan kekayaan keluarganya.

"Aku tidak punya jawaban untuk semuanya, Mai. Aku belum pernah mengurus biaya hidup dengan penghasilan sendiri. Aku belum tahu bagaimana cara menyeimbangkan pekerjaan dan persiapan masuk universitas tanpa seseorang menyusun jadwalku sampai ke menit terakhir."

"Kalau soal itu, kita bisa belajar bersama."

Ren menatapnya.

Mai mengangkat telunjuk, berusaha mengembalikan sedikit keceriaan ke dalam suaranya.

"Tentu saja, dengan syarat kamu tidak membuat jadwal belajar empat belas jam sehari untuk kita berdua."

"Aku tidak berniat melakukannya."

"Bagus. Karena aku akan menolak."

"Aku juga tidak akan memintamu mengerjakan ratusan soal latihan setiap malam."

"Kalau kamu melakukan itu, aku akan menyembunyikan semua alat tulismu."

Ren terkekeh. Suara itu pendek, hampir tertelan angin, tetapi tidak dipaksakan.

"Kalau begitu, kita sudah menyelesaikan dua masalah besar."

Mai tersenyum. Kali ini senyumnya bertahan lebih lama.

Namun, setelah beberapa saat, ia kembali menatap liontin di lehernya. Ia mengangkatnya sampai huruf M berada tepat di depan matanya, lalu membiarkannya jatuh kembali ke dada.

"Ren."

"Hm?"

"Aku ingin memastikan satu hal."

Ren menunggu, tanpa menyela.

"Aku memilih pergi bersamamu bukan karena kamu memberiku kalung ini. Bukan karena kamu menerima identitasku. Dan bukan karena aku merasa harus membayar semua bantuan yang sudah kamu berikan kepadaku."

Mai menarik napas dalam-dalam. Udara dingin terasa menyakitkan di pangkal tenggorokannya.

"Aku tahu kamu sudah banyak membantuku. Kamu memberiku kesempatan untuk menjadi diriku sendiri ketika aku bahkan tidak yakin masih berhak melakukannya. Kamu juga tidak pernah menggunakan rahasiaku untuk memaksaku tinggal bersamamu."

Ia menatap Ren lurus-lurus.

"Tapi kalau aku pergi hanya karena berutang budi kepadamu, berarti aku masih membiarkan orang lain menentukan hidupku. Aku hanya mengganti alasan untuk menurut."

Ren tidak bergerak.

Mai mengusap kedua telapak tangannya pada mantel, kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih mantap.

"Aku pergi karena aku ingin pergi. Aku ingin hidup di tempat yang tidak mengharuskanku menjadi orang lain. Aku ingin bisa memutuskan sendiri kapan harus belajar, kapan harus bekerja, apa yang ingin kulakukan, dan dengan siapa aku ingin menghabiskan waktuku."

Ia berhenti sejenak.

"Dan aku ingin menghabiskan waktu itu bersamamu."

Kali ini, pipinya memerah bukan hanya karena udara dingin. Mai menyadari betapa langsung kalimat terakhirnya terdengar, tetapi ia tidak menariknya kembali.

"Aku mencintaimu, Ren," katanya. "Tapi aku tidak ingin cintaku menjadi alasan baru bagi seseorang untuk mengatur hidupku. Termasuk kamu."

Ren menunduk. Untuk sesaat, ibu jarinya bergerak menggosok bekas memar di pergelangan tangannya. Kemudian ia mengangkat kepala kembali.

"Aku mengerti."

"Benarkah?"

"Benar."

Ren menggeser tubuhnya menghadap Mai sepenuhnya.

"Aku juga tidak ingin kau tinggal bersamaku karena merasa harus melakukannya. Kalau suatu hari nanti kau ingin mengambil jalan yang berbeda, aku ingin kau bisa mengatakannya tanpa takut aku akan menganggapmu mengkhianatiku."

Mai terdiam.

"Dan aku tidak akan menganggap keputusanmu untuk pergi sebagai sesuatu yang menghapus semua hal yang pernah kita jalani."

Ia menghela napas pelan, seolah-olah sedang menimbang kalimat berikutnya sebelum membiarkannya keluar.

"Aku ingin kau memilihku, Mai. Bukan karena kau tidak punya pilihan lain."

Sesuatu di wajah Mai berubah. Bibirnya terbuka sedikit, tetapi kata-kata yang ingin diucapkannya tidak segera muncul. Ia menunduk, menekan pangkal hidung dengan ibu jari dan telunjuk, berusaha menahan air mata yang mulai mengaburkan pandangannya.

Ren tidak menyentuhnya.

Ia membiarkan Mai menangis tanpa segera mengubah air matanya menjadi masalah yang harus diselesaikan.

"Aku benci sekali ketika kamu mengatakan hal-hal seperti itu," gumam Mai.

Ren mengerutkan kening. "Kenapa?"

"Karena aku jadi tidak bisa membalasnya dengan sesuatu yang pintar."

"Aku tidak sedang menguji kemampuanmu menjawab."

"Aku tahu." Mai tertawa lirih di sela napas yang bergetar. "Itulah masalahnya."

Ia menyeka sudut matanya dengan lengan mantel. Kemudian, setelah menarik napas beberapa kali, ia menoleh kepada Ren.

"Kalau begitu, aku akan mengatakannya sekali lagi supaya tidak ada yang salah paham."

Ren menatapnya dengan sabar.

"Aku memilihmu. Bukan karena kontrak. Bukan karena rasa bersalah. Bukan karena aku ingin menggantikan seseorang yang sudah meninggal."

Mai menempelkan telapak tangannya pada dadanya, tepat di atas kalung perak itu.

"Aku memilihmu karena aku mencintai Ren Kisaragi, orang yang ada di hadapanku sekarang. Dan aku ingin menjalani hidupku sendiri, bersamamu, selama kita berdua masih memilih untuk berjalan ke arah yang sama."

Ren menahan napas sesaat.

Kemudian ia mengangguk.

"Kalau begitu, aku menerima pilihanmu."

Ia mengangkat tangan, berhenti sejenak di antara mereka, lalu membiarkan telapak tangannya terbuka di atas selimut.

"Tidak sebagai kepala keluarga. Tidak sebagai orang yang menyelamatkanmu. Dan tidak sebagai seseorang yang merasa kau berutang sesuatu kepadanya."

Ren memandang Mai.

"Sebagai Ren."

Mai menatap tangan itu. Jari-jari Ren sedikit memerah karena dingin, dan bekas luka kecil di dekat buku jarinya tampak lebih jelas di bawah cahaya lampu. Tangan itu bukan tangan seorang pangeran yang dapat menyelesaikan semua masalah hanya dengan memerintahkan orang lain. Tangan itu juga bukan jaminan bahwa hari esok akan berjalan sesuai rencana.

Tetapi tangan itu terbuka.

Mai meletakkan tangannya di atas tangan Ren.

"Sebagai Mai," jawabnya.

Jari-jari mereka bertaut.

Tidak ada janji bahwa mereka tidak akan pernah terluka lagi. Tidak ada sumpah bahwa keluarga Kisaragi akan menerima keputusan mereka atau bahwa Saito akan menyerah mengejar mereka. Bahkan rumah tua peninggalan nenek Ren yang menunggu di Nagano belum tentu segera menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Masih ada urusan dokumen, biaya hidup, sekolah, dan masa depan yang harus mereka susun dari awal.

Namun, di atas atap garasi yang dingin itu, mereka tidak sedang berusaha menyelesaikan seluruh masa depan dalam satu malam.

Mereka hanya memastikan bahwa pilihan yang mereka buat benar-benar milik mereka sendiri.

Beberapa menit berlalu sebelum Ren kembali berbicara.

"Ada satu hal lagi yang perlu kita bicarakan."

Mai mengangkat alis. "Kedengarannya serius."

"Memang serius."

"Kalau ini tentang soal matematika, aku benar-benar akan turun."

"Ini tentang Kanade."

Senyum Mai menghilang perlahan.

Ren tidak melepaskan tangannya, tetapi genggamannya melonggar sedikit. Ia memandang hamparan lampu kota yang mulai kabur di balik salju, kemudian menunduk pada jemari mereka yang saling bertaut.

"Aku masih merindukannya."

Kalimat itu sederhana. Tidak ada penjelasan panjang, tidak ada upaya untuk membuatnya terdengar lebih mudah diterima. Justru karena itulah, Mai merasakan betapa beratnya kata-kata tersebut ketika akhirnya diucapkan.

Ren mengembuskan napas.

"Ada kalanya aku masih terbangun dan selama beberapa detik tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi. Aku masih berharap mendengar langkahnya di lorong atau suara biolanya dari ruang musik. Kadang-kadang, ketika melihat sesuatu yang mungkin disukainya, aku hampir ingin membelinya sebelum menyadari bahwa aku tidak punya siapa-siapa untuk memberikannya."

Ia mengusap telapak tangannya pada lutut, gerakan kecil yang tidak berhasil menyembunyikan ketegangan di jari-jarinya.

"Aku tahu dia sudah meninggal. Aku tahu apa yang dilakukan ayahku kepadanya. Aku tahu bahwa berpura-pura semuanya baik-baik saja tidak akan mengubah apa pun."

Ren berhenti.

"Tapi mengetahui semua itu tidak membuatku berhenti merindukannya."

Lihat selengkapnya