Salju turun tipis ketika mobil yang mereka tumpangi memasuki jalan menuju Kediaman Kisaragi.
Dari balik kaca depan, bangunan itu muncul perlahan di antara pepohonan yang pucuknya memutih. Dinding batu berwarna pucat, jendela-jendela tinggi, serta atap gelap yang menjulang di atas taman tertata rapi masih tampak sama seperti ketika Mai pertama kali tiba di sana. Bahkan lampu-lampu di sepanjang jalan masuk menyala dengan warna keemasan yang sama, seolah-olah tidak pernah ada sesuatu yang berubah di dalam rumah itu.
Namun, pagi itu, Mai tidak lagi memandangnya sebagai tempat yang harus ia pelajari agar dapat bertahan hidup.
Ia memandangnya sebagai tempat yang harus ia tinggalkan.
Kedua tangannya terlipat di atas pangkuan. Ibu jarinya berulang kali mengusap buku jari telunjuk, kebiasaan kecil yang muncul setiap kali ia berusaha menahan kegelisahan. Di lehernya tergantung kalung perak berinisial M, tersembunyi sebagian di balik kerah sweter. Ia sengaja tidak mengenakan pakaian yang pernah dipilihkan untuknya oleh staf keluarga Kisaragi. Tidak ada gaun dengan potongan lembut, tidak ada sepatu mengilap yang disiapkan untuk seorang putri keluarga konglomerat, dan tidak ada pita rambut yang selama ini membantu membangun kesan seorang gadis bernama Kanade.
Pagi itu, ia mengenakan mantel sederhana berwarna gelap, rok selutut, dan sepatu yang nyaman untuk berjalan jauh.
Pakaian seorang gadis biasa.
Pakaian Miyauchi Mai.
Di sebelahnya, Ren duduk tegak dengan mantel wol sederhana dan kemeja berwarna terang. Rambut hitamnya tidak ditata serapi biasanya. Sebagian helainya jatuh ke dahi, bergerak sedikit setiap kali mobil melewati jalan yang tidak rata. Wajahnya masih memperlihatkan sisa kelelahan dari dua malam terakhir, tetapi tidak ada lagi ketundukan yang dahulu sering membuat orang mengira ia akan menerima apa pun yang diputuskan keluarganya.
Ren menatap gerbang besi yang semakin dekat.
“Kalau kau ingin berhenti sebentar, kita masih bisa melakukannya,” katanya.
Mai menoleh. “Sekarang?”
“Sekarang. Sebelum kita masuk.”
Nada suaranya tenang, tanpa desakan. Ia tidak sedang menguji keberanian Mai. Ia sungguh-sungguh memberinya kesempatan untuk berubah pikiran, bahkan ketika mereka sudah sejauh ini.
Mai memandang kedua tangannya. Ada bekas kemerahan samar di pergelangan tangannya, sisa pergulatan ketika Saito berusaha menyeretnya keluar dari ruang UKS. Bekas itu mulai memudar, tetapi sentuhan kasar yang meninggalkannya belum sepenuhnya hilang dari ingatan. Sesekali, ketika lengannya bergesekan dengan kain mantel, tubuhnya masih menegang sebelum ia sempat menyadarinya.
Ia menarik napas perlahan.
“Kalau kita berhenti sekarang, aku akan terus memikirkan apa yang mungkin terjadi kalau kita masuk.”
“Dan kalau kita masuk?”
“Aku mungkin akan terus memikirkan apa yang seharusnya kulakukan setelahnya.” Mai mengangkat wajah, lalu tersenyum kecil tanpa benar-benar menghilangkan ketegangan di sekitar matanya. “Tapi setidaknya, itu akan menjadi masalah yang kupilih sendiri.”
Ren tidak langsung menjawab.
Tangannya bergerak di atas jok, berhenti di antara mereka, telapak menghadap ke atas. Mai menatapnya sebentar sebelum menyelipkan jemarinya ke dalam genggaman itu.
Jari-jari Ren terasa dingin.
“Baiklah,” katanya pelan. “Kita masuk bersama.”
Mobil melambat.
Di luar, gerbang besi terbuka setelah petugas keamanan mengenali kendaraan Kenji yang membawa mereka. Dua orang penjaga berdiri di sisi jalan, memperhatikan mobil dengan kewaspadaan yang terlalu kentara untuk sekadar pemeriksaan rutin. Salah satunya berbicara melalui alat komunikasi di telinganya. Yang lain tidak melepaskan pandangan dari jendela penumpang.
Mai merasakan genggaman Ren mengerat sesaat, lalu mengendur kembali.
Ia tahu mereka telah terlihat.
Tidak ada lagi gunanya berpura-pura bahwa kedatangan mereka bisa berlangsung tanpa diketahui siapa pun.
Mobil berhenti di depan tangga utama. Mesin dimatikan, menyisakan suara angin yang menggesekkan ranting-ranting pohon dan bunyi halus salju menyentuh kaca.
Kenji memutar tubuh dari kursi pengemudi. Ia mengenakan jaket tebal yang sedikit kebesaran, dengan syal kusut yang ujungnya terselip sembarangan di balik kerah. Wajahnya tidak menunjukkan keceriaan berisik yang biasa ia gunakan untuk menyembunyikan rasa gugup. Namun, ketika matanya bertemu dengan Ren, ia masih sempat mengangkat satu jari.
“Jangan membuatku menyesal sudah mengantar kalian sampai sini,” katanya. “Aku tidak mau harus menjelaskan kepada keluargaku kenapa mobil mereka dipakai untuk terlibat dalam skandal konglomerat sebelum jam sarapan.”
Mai tertawa kecil. Suaranya pendek, nyaris habis sebelum benar-benar terdengar.
“Maaf, Kenji.”
“Jangan minta maaf dulu. Aku belum tahu apakah kalian akan pulang dengan membawa koper atau justru membawa masalah hukum satu truk.” Kenji mengembuskan napas, lalu menatap Ren dengan lebih serius. “Aku akan menunggu di luar sesuai rencana. Kalau keadaan berubah, jangan memaksakan diri hanya karena sudah telanjur datang.”
Ren mengangguk. “Aku mengerti.”
“Dan kau.” Kenji menunjuk Mai dengan dua jari. “Kalau ada yang mencoba menyeretmu lagi, berteriaklah. Serius. Tidak perlu mempertimbangkan sopan santun, tata krama keluarga kaya, atau apa pun. Teriak saja sekeras-kerasnya.”
Mai mengangguk, kali ini dengan senyum yang sedikit lebih nyata.
“Baik.”
“Bagus.” Kenji kembali menghadap ke depan, lalu bergumam, “Semoga pagi ini tidak berubah menjadi episode terakhir drama keluarga yang anggarannya terlalu besar.”
Ren membuka pintu.
Udara dingin segera menyusup ke dalam mobil. Ia turun lebih dahulu, menapakkan sepatu di atas batu pijakan yang lembap. Setelah berdiri, ia berbalik dan mengulurkan tangan kepada Mai.
Mai menyambutnya.
Begitu kedua kakinya menjejak tanah, pintu mobil tertutup dengan bunyi berat. Kenji mengangkat tangan dari balik kemudi, lalu menunggu sampai mereka berdua berjalan menuju tangga sebelum memindahkan mobil ke tempat yang telah disepakati.
Ren dan Mai berdiri berdampingan di depan pintu utama.
Untuk beberapa detik, keduanya tidak bergerak.
Pintu itu pernah menjadi batas antara kehidupan Mai sebelumnya dan dunia yang dibangun keluarga Kisaragi untuknya. Ketika ia pertama kali melangkah masuk, ia masih membawa kebiasaan seorang pekerja maid café: senyum yang harus muncul pada waktu yang tepat, punggung yang selalu tegak, dan jawaban yang telah disiapkan sebelum pertanyaan selesai diajukan. Ia mengira, jika memainkan peran dengan cukup baik, ia akan mampu melewati tiga ratus enam puluh lima hari tanpa meninggalkan bagian dirinya sendiri di dalam rumah itu.
Ternyata, bagian dirinya justru tumbuh di tempat yang paling tidak ia duga.
Dan kini ia harus mengambil kembali nama yang selama ini ditinggalkannya di luar.
Ren mengangkat tangan untuk mengetuk.
Pintu terbuka sebelum buku-buku jarinya menyentuh kayu.
Seorang pelayan senior berdiri di baliknya. Rambutnya yang mulai beruban disanggul rapi, sementara kedua tangannya terlipat di depan tubuh. Pandangannya jatuh pada Ren, kemudian berpindah kepada Mai. Ada keterkejutan yang berusaha ia sembunyikan di balik ekspresi profesional, tetapi matanya sempat membesar ketika melihat penampilan mereka.
“Tuan Ren,” katanya. “Nona Kanade.”
Sapaan itu membuat Mai merasakan sesuatu mencengkeram bagian dalam dadanya.
Bukan karena ia ingin dipanggil demikian.
Justru karena, untuk pertama kalinya, nama itu terdengar seperti sesuatu yang sedang dipinjamkan kepadanya oleh orang lain—bukan sesuatu yang harus ia kenakan agar diizinkan berada di sana.
Pelayan itu menundukkan kepala sedikit.
“Tuan Souichiro menunggu Anda di aula utama. Nyonya Reiko dan Tuan Saito juga sudah berada di sana.”
“Tentu saja,” jawab Ren.
Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada pertanyaan mengenai keadaan mereka setelah meninggalkan rumah tanpa izin. Hanya penyampaian informasi, sebagaimana seseorang melaporkan jadwal rapat kepada seorang eksekutif yang terlambat hadir.
Ren melangkah masuk.
Mai mengikuti di sisinya.
Lorong utama membentang panjang di hadapan mereka, lantainya mengilap hingga memantulkan cahaya lampu gantung. Aroma lilin beraroma kayu bercampur dengan bau bunga segar dari vas-vas tinggi di sepanjang dinding. Segalanya tertata begitu sempurna hingga terasa tidak tersentuh oleh waktu. Bahkan rangkaian bunga musim dingin di dekat tangga tidak menunjukkan satu kelopak pun yang layu.
Namun, ada sesuatu yang berbeda pada pagi itu.
Para staf berdiri di kedua sisi lorong.
Sebagian mengenakan seragam kerja, sebagian lain masih mengenakan pakaian rumah yang biasa digunakan untuk tugas pagi. Dua pengawal berdiri di dekat persimpangan menuju sayap timur. Seorang petugas keamanan tampak berbicara pelan melalui alat komunikasi. Beberapa pelayan yang biasanya menunduk tanpa banyak memperhatikan penghuni rumah kini mengangkat wajah, berusaha memahami mengapa pewaris keluarga dan gadis yang seharusnya masih berada di bawah pengawasan Saito datang bersama-sama setelah melarikan diri.
Bisik-bisik tipis terdengar di antara mereka, lalu mendadak lenyap ketika Ren melewati barisan tersebut.
“Apakah Tuan Ren benar-benar kembali?”
“Bukankah beliau dilarang meninggalkan kediaman?”
“Lalu Nona Kanade—”
“Diam. Mereka bisa mendengar.”
Mai menjaga langkahnya tetap stabil. Ia dapat merasakan tatapan yang mengikuti setiap gerakannya, menelusuri pakaian yang berbeda, rambut yang dibiarkan tergerai, serta wajah yang tidak lagi dibingkai oleh ekspresi manis yang biasa ia gunakan untuk menenangkan orang lain.
Dahulu, ia akan segera tersenyum kepada mereka.
Ia akan mengangkat tangan kecilnya dan berkata, Selamat pagi! Onii-sama sudah kembali!
Ia akan berusaha memastikan tidak seorang pun merasa canggung karena kehadirannya.
Sekarang, ia hanya berjalan.
Bukan karena ia membenci mereka. Sebagian besar staf tidak mengetahui apa yang terjadi. Ada yang pernah membawakan teh untuknya ketika ia sakit, ada yang diam-diam menambahkan makanan ke nampannya ketika ia lupa makan, dan ada pula yang membantunya mencari buku pelajaran tanpa pernah menanyakan alasan ia terlihat begitu lelah.
Mereka juga hidup di dalam rumah yang mengajarkan bahwa pertanyaan tertentu tidak boleh diajukan.
Namun, kebaikan kecil mereka tidak mengubah kenyataan bahwa selama tiga ratus enam puluh lima hari, Mai telah dipanggil dengan nama seorang gadis yang telah meninggal.
Dan ia tidak bisa terus membiarkan itu terjadi hanya demi menjaga suasana tetap nyaman.
Mereka tiba di depan pintu aula utama.
Dua pengawal berdiri di sisi pintu. Salah seorang menatap Ren dengan sikap hati-hati, seolah-olah sedang menunggu perintah untuk menghalangi langkahnya. Namun, ketika Ren berhenti dan menatapnya, pria itu akhirnya menyingkir.
Ren tidak perlu meminta jalan.
Ia mendorong pintu sendiri.
Aula utama terasa lebih dingin daripada lorong di luarnya.
Jendela-jendela tinggi membiarkan cahaya pagi masuk dalam warna pucat, sementara perapian di sisi ruangan menyala tanpa banyak suara. Di tengah aula terdapat meja panjang dengan permukaan kayu gelap. Beberapa dokumen telah tersusun di atasnya, sebagian dimasukkan ke dalam map berwarna hitam, sebagian lain dibiarkan terbuka dengan sudut-sudut kertas yang sedikit terangkat.
Souichiro berdiri di dekat jendela.
Jasnya sempurna. Rambutnya tertata tanpa satu helai pun tampak menyimpang. Ia memegang cangkir kopi di tangan kanan, tetapi tidak sedang meminumnya. Ketika pintu terbuka, ia hanya menoleh sedikit sebelum meletakkan cangkir itu di atas meja kecil.
Reiko duduk di sofa panjang dekat perapian. Ia mengenakan blus berwarna gading dan rok gelap, dengan rambut yang disisir rapi ke belakang. Sebuah cangkir teh berada di atas meja di hadapannya. Uapnya telah menghilang, dan permukaan teh tampak tenang tanpa disentuh.
Saito berdiri di dekat meja utama, mengenakan setelan gelap yang sama kaku seperti biasanya. Sebuah map kulit berada di tangan kirinya. Di bawah lengannya terselip berkas kontrak, lengkap dengan dokumen tambahan yang telah ia gunakan untuk menekan Mai beberapa hari sebelumnya.
Ketiganya menoleh hampir bersamaan.
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Souichiro adalah orang pertama yang memecah keheningan.
“Akhirnya kau kembali.”
Ia tidak menyambut Ren. Tidak menanyakan apakah putranya terluka atau mengapa ia pergi. Kalimat itu terdengar seperti penilaian terhadap seorang karyawan yang akhirnya datang ke ruang rapat setelah menimbulkan gangguan operasional.
“Dan kau membawa Kanade bersamamu.”
Tatapan Souichiro berpindah kepada Mai. Ia memeriksa mantel sederhana yang dikenakannya, lalu rambutnya yang tidak lagi diikat dengan pita khas Kanade. Kerutan kecil muncul di antara kedua alisnya.
“Setelah semua yang terjadi, kau masih menganggap ini permainan?”
Mai merasakan jemari tangannya menegang di sisi tubuh. Sebelum ia sempat menjawab, Ren melangkah maju setengah langkah.
“Aku tidak kembali untuk mendengarkan penilaian Ayah tentang keputusanku.”
Souichiro meletakkan kedua tangannya di belakang punggung.
“Kalau begitu, jelaskan tujuanmu. Kau meninggalkan rumah tanpa izin, mengabaikan pengawasan keamanan, dan membawa seorang anggota keluarga keluar dari kediaman. Kau pikir tindakan seperti itu tidak akan menimbulkan konsekuensi?”
“Aku tahu akan ada konsekuensi.”
“Benarkah?” Souichiro mengangkat sebelah alis. “Kalau begitu, kau seharusnya cukup dewasa untuk memahami bahwa kau tidak bisa begitu saja menghilang, kemudian kembali seolah-olah tidak terjadi apa-apa.”
“Aku tidak menganggap tidak terjadi apa-apa.”
Ren mengucapkannya tanpa meninggikan suara. Justru karena itu, kalimatnya terdengar jelas di dalam aula yang luas.
“Aku kembali karena ada sesuatu yang harus diakhiri di sini.”
Saito bergerak sedikit. Ia membuka map di tangannya dan menarik keluar selembar dokumen, seolah-olah ingin mengingatkan semua orang bahwa persoalan ini memiliki prosedur resmi yang harus diikuti.
“Kalau yang Anda maksud adalah penyelesaian kontrak penugasan Nona Kanade,” katanya, “saya telah menyiapkan dokumen untuk menutup pekerjaan ini sesuai ketentuan yang berlaku. Mengingat pelanggaran yang terjadi selama beberapa hari terakhir, kita perlu membahas kewajiban masing-masing pihak secara terstruktur.”
Kata-kata Nona Kanade meluncur dari mulutnya dengan kelancaran yang nyaris mekanis.
Mai menoleh kepadanya.
Saito tidak membalas tatapannya. Matanya tetap tertuju pada Ren, sementara ibu jarinya menekan tepi dokumen yang dipegangnya.
Ia masih berusaha menentukan bahasa percakapan.
Selama ia dapat menyebut ini sebagai penyelesaian kontrak, ia dapat mengatur siapa yang berbicara, dokumen mana yang dibaca, dan informasi apa yang boleh muncul. Ia dapat menjadikan tiga ratus enam puluh lima hari penyamaran itu sebagai persoalan administratif, bukan keputusan yang telah mengubah kehidupan beberapa orang tanpa persetujuan mereka yang sesungguhnya.
Ren melihat map tersebut.
“Jangan terburu-buru, Saito.”
Saito mengangkat pandangan.
“Maaf?”
“Kau tampaknya sudah memutuskan bagaimana percakapan ini akan berakhir sebelum kami sempat mengatakan apa pun.”
“Saya hanya berusaha mencegah situasi menjadi tidak terkendali.”
“Kalau begitu, seharusnya kau tidak memulai dengan menganggap semua orang di ruangan ini akan menerima versi ceritamu.”
Ada perubahan kecil pada wajah Saito. Rahangnya mengeras, dan ia menggeser map itu lebih dekat ke tubuhnya.
Souichiro mendengus pelan.
“Cukup. Ren, kau datang untuk mempermalukan keluarga sendiri atau untuk menyelesaikan persoalanmu? Aku tidak punya waktu untuk permainan kata-kata.”
“Aku juga tidak.”
Ren menghadap ayahnya sepenuhnya.
“Aku datang untuk mengakhiri sandiwara yang selama ini digunakan untuk mengendalikan diriku dan Mai.”
Nama itu membuat ruangan seolah-olah kehilangan udara.
Reiko mengangkat wajah dengan cepat.
“Mai?”
Ia memandang Ren, kemudian gadis yang berdiri di sampingnya. Ada kebingungan yang nyata pada wajahnya, bukan sekadar ketidaksenangan karena mendengar nama yang tidak sesuai dengan kebiasaan rumah tangga mereka.
“Ren, apa maksudmu?”
Souichiro menjawab sebelum putranya sempat membuka mulut.
“Ini tidak perlu diperumit, Reiko. Ren sedang emosional setelah meninggalkan rumah tanpa izin. Kita akan membicarakan masalah kontrak setelah dia tenang.”
“Masalah kontrak?” Reiko mengulang kata-kata itu perlahan.
Ia menoleh kepada Saito.
Saito menundukkan kepala sedikit, sebuah gerakan kecil yang biasanya menandakan penghormatan. Kali ini, gerakan itu terlihat seperti upaya menghindari pertanyaan.
“Penugasan yang berkaitan dengan pemulihan kondisi Tuan Ren, Nyonya. Saya akan menjelaskannya setelah—”
“Setelah apa?” Reiko memotong.
Suaranya belum keras, tetapi ada sesuatu yang tajam di dalamnya.
“Setelah Ren tenang? Setelah kontraknya selesai? Atau setelah kalian berdua memutuskan apa yang boleh saya ketahui tentang keluarga saya sendiri?”
Souichiro memalingkan wajah kepadanya.
“Jangan membuat kesimpulan sebelum mendengar penjelasan.”
“Kalau begitu, berikan penjelasannya.”
Reiko meletakkan cangkir teh di atas tatakan. Bunyi porselen yang bersentuhan terdengar kecil, tetapi begitu jelas di tengah keheningan itu.
Ia berdiri.
“Ren baru saja mengatakan bahwa ada sandiwara yang digunakan untuk mengendalikan dirinya dan gadis ini. Saito membawa dokumen kontrak. Kau menyebutnya masalah penugasan. Dan sekarang aku mendengar nama yang bahkan tidak pernah digunakan di rumah ini.” Reiko menatap suaminya. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Souichiro tidak segera menjawab.
Untuk pertama kalinya sejak Ren memasuki aula, ia tampak tidak sepenuhnya menguasai arah percakapan.
Ren menoleh kepada Mai.
Ia tidak mengatakan apa pun. Tidak ada dorongan agar Mai segera bicara, tidak ada kalimat yang telah disiapkan untuk membantunya. Ia hanya bergeser sedikit, memberi ruang di antara dirinya dan meja utama.
Ruang untuk Mai berdiri tanpa harus bersembunyi di balik tubuhnya.
Mai memandang Reiko.
Ia pernah berdiri di hadapan perempuan itu berkali-kali. Membawakan teh, menjawab pertanyaan mengenai pelajaran, menunduk ketika diberi nasihat, dan tersenyum ketika Reiko memanggilnya dengan nama Kanade. Ia pernah mencoba menebak apakah ada kasih sayang di balik sikap dingin perempuan itu, atau apakah hubungan mereka hanya bagian lain dari pertunjukan yang harus ia jaga.
Kini, ketika kesempatan untuk mengatakan kebenaran akhirnya terbuka, Mai justru menyadari betapa sulitnya mengucapkan kalimat pertama.
Ujung jarinya menyentuh pita rambut yang tidak lagi terpasang. Ia tidak sedang mengenakannya, tetapi ia masih menyimpan pita itu di saku mantel. Benda kecil tersebut telah menemaninya melalui begitu banyak pagi, sampai-sampai ia tidak pernah menyangka suatu hari akan menganggapnya sebagai benda yang harus ia kembalikan.
Mai menarik napas.