Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #85

Pengejaran di Jalanan Tokyo

Suara mesin mobil terdengar sebelum wujudnya muncul di ujung jalan.

Ren berdiri di balik pilar batu dekat gerbang utama Kediaman Kisaragi, satu tangan menggenggam tas perjalanan berwarna hitam, sementara tangan lainnya meraih pergelangan Mai. Di atas mereka, langit siang berwarna kelabu pucat menggantung tanpa matahari yang jelas. Angin membawa aroma aspal basah sisa hujan pagi, bercampur bau tanah dari taman yang selama bertahun-tahun selalu terawat sempurna. Di belakang pagar besi yang tinggi, kediaman itu tampak sama megahnya seperti biasa—jendela-jendela besar memantulkan langit, dinding putih bersih membatasi halaman luas, dan para penjaga berdiri di pos masing-masing.

Namun, bagi Ren, pemandangan itu tidak lagi menyerupai rumah.

Itu adalah bangunan tempat namanya dijadikan milik keluarga, tempat kematian adiknya disembunyikan di balik kebohongan, dan tempat seorang gadis bernama Miyauchi Mai dipaksa menghabiskan hampir setahun hidupnya dengan mengenakan identitas orang lain.

Di sampingnya, Mai menunduk sedikit, berusaha mengatur napas. Rambutnya bergerak ditiup angin. Ia sudah melepaskan pita yang selama ini menjadi salah satu penanda penampilannya sebagai Kanade, dan tidak lagi mengenakan seragam sekolah yang biasa dikenakan ketika memainkan peran sebagai adik perempuan keluarga Kisaragi. Pakaian kasual sederhana yang kini membungkus tubuhnya terasa asing setelah berbulan-bulan hidup di bawah aturan penampilan yang ditetapkan orang lain.

Dari dalam tasnya, ujung kotak kecil berisi beberapa barang pribadi menyembul. Kalung berinisial M yang diberikan Ren masih melingkar di lehernya, tersembunyi di balik kerah baju.

Mai melirik gerbang yang baru saja mereka lewati.

Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang.

“Mobil Tanaka-san akan segera tiba,” ujar seorang petugas keamanan dengan nada kaku. “Kisaragi-sama, Anda diminta menunggu di dalam sampai kendaraan resmi keluarga disiapkan.”

Ren tidak menoleh.

“Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak akan menggunakan kendaraan keluarga.”

“Namun, perintah Tuan Souichiro—”

“Sudah kudengar.” Ren mengangkat pergelangan tangannya, melirik jam. “Dan aku sudah memberikan jawabanku.”

Petugas itu terdiam. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak berani langsung menyentuh Ren. Di tempat terbuka seperti ini, dengan beberapa staf dan penjaga lain yang menyaksikan, tindakan kasar terhadap putra pewaris keluarga Kisaragi akan menjadi masalah tersendiri.

Mai merasakan jemari Ren mengencang sebentar di pergelangan tangannya.

Bukan karena takut.

Ia mengenali gerakan itu sekarang. Ren sedang menghitung waktu.

Mereka tidak boleh berdiri terlalu lama. Setelah pertengkaran di foyer, setelah dokumen-dokumen itu diletakkan di hadapan Souichiro, Reiko, dan Saito, tidak ada lagi alasan bagi siapa pun untuk berpura-pura bahwa semuanya masih berada dalam kendali mereka. Souichiro telah kehilangan kepatuhan putranya. Saito telah kehilangan kendali atas perempuan yang selama ini ia perlakukan sebagai bagian dari kontrak. Dan Reiko, dengan wajah pucat serta amarah yang belum mereda, akhirnya mengetahui bahwa nama putrinya telah digunakan untuk mempertahankan kebohongan keluarga.

Ren tahu mereka tidak akan dibiarkan pergi begitu saja.

“Ren,” bisik Mai.

Ia menoleh. “Apa?”

“Kalau mereka mengejar kita…”

Mai tidak menyelesaikan kalimatnya. Matanya bergerak menuju jalan di luar gerbang, kemudian kembali ke wajah Ren. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi sebagian besar telah mereka bicarakan sepanjang malam di garasi keluarga Tanaka. Mereka sudah menyusun kemungkinan-kemungkinan terburuk, sudah mengetahui bahwa apartemen di Kanagawa tidak lagi aman, dan sudah sepakat bahwa mereka tidak boleh berhenti di tengah jalan.

Tetap saja, mengetahui risiko tidak membuat tubuh seseorang berhenti bereaksi terhadapnya.

Ren menggeser genggamannya, membiarkan tangannya turun hingga jemari mereka bertaut.

“Kalau mereka mengejar kita, kita terus bergerak,” jawabnya. “Kita sudah menyiapkan rute cadangan.”

“Dan kalau rute cadangan itu juga gagal?”

“Kita cari jalan berikutnya.”

Jawabannya begitu sederhana hingga Mai hampir tertawa. Bukan karena situasi mereka lucu, melainkan karena Ren mengucapkannya seolah-olah mereka sedang menentukan jalan pulang dari sekolah, bukan mencoba melepaskan diri dari keluarga konglomerat dan seorang supervisor kontrak yang telah menunjukkan bahwa ia bersedia menggunakan kekerasan.

“Jawabanmu selalu terdengar mudah sekali,” gumam Mai.

“Karena kalau aku menjelaskan semua kemungkinan buruknya sekarang, kau akan semakin tegang.”

“Aku memang sudah tegang.”

“Aku tahu.”

Ren mengatakannya tanpa senyum, tetapi ibu jarinya mengusap punggung tangan Mai sekali. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat napas gadis itu sedikit lebih teratur.

Kemudian, dari kejauhan, terdengar deru mesin yang semakin mendekat.

Sebuah mobil berwarna gelap melesat di jalan di luar gerbang. Kendaraan itu muncul dari balik tikungan dengan kecepatan yang terlalu tinggi untuk sebuah mobil yang sedang mencari alamat, lalu mengerem tajam tepat di depan pintu masuk. Ban berdecit di atas aspal. Bagian belakang mobil sedikit bergeser sebelum akhirnya berhenti sejajar dengan trotoar.

Jendela pengemudi turun.

Tanaka Kenji menjulurkan kepalanya keluar, rambutnya berantakan dan wajahnya tegang.

“WOI! CEPAT! KALIAN MAU JALAN-JALAN DULU ATAU GIMANA?!”

Beberapa penjaga langsung menoleh.

Ren tidak membuang waktu.

“Ayo!”

Ia menarik Mai menuju pintu penumpang belakang. Kenji sudah membuka kunci dari dalam, dan begitu Mai masuk, Ren menyusul dengan tas di tangannya. Pintu dibanting hingga tertutup rapat. Hampir bersamaan, Kenji menginjak pedal gas.

Mobil itu menyambar maju sebelum para penjaga sempat membentuk barisan untuk menghalangi jalan.

“PEGANGAN!”

“Kenji, pelan—!”

“MAI, AKU SAYANG KAMU SEBAGAI TEMAN SAHABAT REN, TAPI SEKARANG BUKAN WAKTUNYA MEMINTA AKU MENGEMUDI SEPERTI KAKEK-KAKEK!”

“ITU BUKAN ALASAN UNTUK MENYETIR SEPERTI PEMBUNUH BAYARAN!”

Kenji membelok keluar dari jalan utama. Tubuh Mai terdorong ke samping, dan ia buru-buru mencengkeram pegangan di atas pintu. Tasnya meluncur dari pangkuan ke lantai, sementara Ren menahan bahunya agar tidak membentur jendela.

Di depan, Kenji melirik kaca spion, lalu mengumpat.

“Ah, sial. Sial, sial, sial!”

Ren menegakkan badan. “Apa?”

“Dua mobil keluar dari gerbang!”

Ren memutar kepala.

Di belakang mereka, dua kendaraan hitam telah meninggalkan halaman Kediaman Kisaragi. Salah satunya sedan dengan kaca gelap yang pernah dilihat Ren beberapa kali di sekitar kantor Saito. Kendaraan kedua mengikuti dari belakang, mengambil jalur yang sama ketika mobil Kenji melewati persimpangan.

Jarak mereka masih cukup jauh, tetapi kedua mobil itu melaju dengan pola yang terlalu terarah untuk disebut kebetulan.

Saito telah mengantisipasi bahwa Ren dan Mai tidak akan kembali untuk tunduk.

Atau, lebih buruk lagi, ia memang sudah menyiapkan orang-orangnya untuk memastikan bahwa jika keduanya meninggalkan kediaman, mereka tidak akan mencapai tujuan berikutnya.

Kenji menepuk kemudi dengan telapak tangan.

“Aku tahu! Aku tahu! Seharusnya aku membawa mobil yang lebih cepat!”

“Mobil ini cukup,” kata Ren.

“Mobil ini cukup kalau kita sedang mengantar orang ke restoran! Bukan kalau dua mobil berisi orang-orang yang dibayar untuk mengejar kita!”

“Kenji.”

“Apa?”

“Fokus ke jalan.”

Kenji menggertakkan gigi. “Aku sedang fokus!”

Ia membelok melewati persimpangan berikutnya, memanfaatkan celah di antara dua kendaraan yang sedang menunggu lampu lalu lintas. Klakson panjang terdengar dari sisi kiri. Seorang pengemudi mengangkat tangan dari balik jendela, meneriakkan sesuatu yang tidak dapat mereka dengar jelas. Kenji tidak menoleh. Ia terus melaju, kedua tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memucat.

Ren melihat kaca spion sekali lagi.

Kedua mobil itu masih mengikuti.

“Kenji, ambil jalur menuju jalan tol yang biasa kau gunakan kalau pulang dari rumahmu,” katanya.

Kenji meliriknya sekilas melalui kaca spion tengah. “Kau yakin? Jalur itu lebih panjang.”

“Jalur utama menuju pusat kota terlalu mudah dipantau. Kalau mereka ingin memotong jalan kita, mereka akan memilih persimpangan besar.”

“Dan kau pikir mereka tidak tahu jalan tol?”

“Mereka tahu jalan tol. Tapi mereka tidak tahu rute mana yang akan kita pilih setelah keluar.”

Kenji menarik napas melalui hidung, lalu mengangguk singkat.

“Baik. Kita gunakan jalurku.”

Mobil mereka bergerak semakin jauh dari kawasan kediaman. Gedung-gedung perkantoran mulai memenuhi sisi jalan, berdiri rapat dengan permukaan kaca yang memantulkan kendaraan dan langit. Di trotoar, orang-orang berlalu-lalang sambil membawa tas belanja atau menatap layar ponsel, sama sekali tidak mengetahui bahwa sebuah pengejaran sedang berlangsung beberapa meter dari mereka.

Tokyo tetap menjalankan rutinitasnya.

Lampu lalu lintas berganti warna. Bus berhenti di halte. Sepeda melintas di antara pejalan kaki. Papan iklan digital berganti dari satu gambar ke gambar lain. Kota yang begitu padat itu tidak menyediakan panggung khusus bagi dua orang yang sedang berusaha merebut kembali hidup mereka.

Bagi sebagian besar orang, mereka hanyalah penumpang sebuah mobil yang bergerak sedikit terlalu cepat.

Bagi Mai, setiap blok yang mereka lewati terasa seperti satu lapis dinding yang terlepas dari punggungnya.

Ia menoleh ke belakang. Gerbang Kediaman Kisaragi sudah lama menghilang dari pandangan, tertutup deretan bangunan dan tikungan jalan. Namun, bayangan pagar besi itu masih terasa melekat di benaknya—begitu juga dengan suara Souichiro yang menggema di foyer, tatapan dingin Saito, dan wajah Reiko ketika menyadari bahwa perempuan yang selama ini ia panggil Kanade ternyata bukan putrinya.

Mai menunduk, menekan kedua telapak tangannya pada lutut.

Ia telah mengatakan namanya sendiri.

Di hadapan mereka semua.

Miyauchi Mai.

Bukan Kisaragi Kanade. Bukan Mei-chan. Bukan tokoh yang dibentuk oleh dokumen kontrak dan instruksi orang lain.

Untuk pertama kalinya, nama itu telah diucapkannya di ruangan tempat kebohongan tersebut bermula, tanpa harus segera menariknya kembali.

Namun, kebebasan yang baru saja ia pilih masih bergerak di atas empat roda, dengan dua mobil pengejar di belakangnya.

“Mai,” panggil Ren.

Ia mengangkat kepala.

“Kau baik-baik saja?”

Mai membuka mulut, hendak menjawab iya seperti yang biasa ia lakukan setiap kali seseorang bertanya apakah ia sanggup melanjutkan pekerjaan. Kebiasaan itu hampir keluar secara otomatis. Ia bahkan sudah menyiapkan senyum kecil yang selama ini menjadi bagian dari pekerjaannya.

Namun, ia menghentikan dirinya sendiri.

“Aku takut,” katanya jujur.

Kenji melirik mereka melalui kaca spion, lalu kembali memandang jalan. Untuk sekali ini, ia tidak melontarkan lelucon.

Ren menggeser posisi duduknya agar menghadap Mai sedikit lebih baik. “Aku juga.”

Mai berkedip. “Kau?”

“Menurutmu aku tidak takut?”

“Aku kira kau sudah memperhitungkan semuanya.”

“Aku memperhitungkan banyak hal. Itu berbeda dengan mengetahui apa yang akan terjadi.”

Ren berbicara dengan tenang, tetapi Mai melihat otot rahangnya bergerak ketika ia menelan ludah. Jari-jarinya yang berada di atas lutut sempat mengepal sebelum ia memaksanya kembali terbuka.

“Aku tidak bisa menjamin semuanya akan berjalan sesuai rencana,” lanjut Ren. “Aku juga tidak bisa menjamin Saito akan berhenti mengejar kita hanya karena kita sudah meninggalkan kediaman. Tapi aku bisa memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Aku tidak akan mengembalikanmu kepada mereka.”

Mai menatapnya cukup lama hingga deru mesin dan suara ban seolah menjauh dari telinganya.

Lalu ia mengangguk.

“Baik,” bisiknya. “Kalau begitu, aku juga tidak akan meminta kita kembali.”

Kenji berdeham keras dari kursi depan.

“Bagus. Kalian sudah selesai dengan janji-janji romantis yang bikin suasana mobil jadi berat? Karena aku punya kabar buruk.”

Ren mengangkat alis. “Kau baru saja mengatakan kau tidak akan bercanda.”

“Aku tidak bilang begitu! Aku hanya sedang menghormati momen emosional kalian!”

Lihat selengkapnya