Salju turun semakin rapat ketika mobil Kenji meninggalkan jalan utama dan memasuki kawasan pedesaan Nagano.
Butir-butir putih menempel pada kaca depan, mencair sesaat ketika tersapu wiper, lalu digantikan lapisan baru yang membuat pemandangan di luar tampak seperti lukisan yang belum selesai. Di kedua sisi jalan, pepohonan berdiri dengan dahan-dahan yang tertutup salju. Rumah-rumah kayu beratap miring muncul sesekali di antara lereng, beberapa di antaranya mengeluarkan asap tipis dari cerobong. Jauh di belakang mereka, deretan perbukitan membentuk lapisan-lapisan kelabu yang semakin samar ditelan kabut sore.
Di dalam mobil, pemanas mengembuskan udara hangat dengan suara mendengung pelan.
Kenji memegang kemudi dengan kedua tangan, sesekali menyipitkan mata ketika melewati tikungan yang permukaannya mulai licin. Rambutnya yang berantakan sudah kehilangan bentuk sejak mereka meninggalkan Tokyo. Jaketnya tergeletak di kursi belakang, sementara botol minuman kosong berguling-guling di dekat tempat duduk penumpang setiap kali mobil melewati jalan yang tidak rata.
“Baik,” gumamnya sambil melihat papan penunjuk di pinggir jalan. “Kalau ingatanku benar, stasiunnya tidak jauh lagi. Lima menit, mungkin sepuluh kalau jalannya tertutup salju.”
Ren yang duduk di sampingnya mengangguk. Di pangkuannya terdapat selembar tiket kereta dan peta kecil yang telah dilipat beberapa kali. Ia sudah memeriksa jadwal keberangkatan sejak mereka tiba di kawasan itu, tetapi tetap saja ia melirik jam tangan setiap beberapa menit.
“Kereta berikutnya pukul empat lewat dua puluh,” katanya. “Kalau kita terlambat, jadwal selanjutnya baru malam.”
“Ya, aku bisa membaca jam, terima kasih.”
“Aku hanya mengingatkan.”
“Dan aku hanya mengingatkan bahwa aku sudah mengemudi sejak pagi, menghindari dua mobil mencurigakan, melewati jalan-jalan yang bahkan tidak diketahui aplikasi peta, dan sekarang mengantar dua buronan cinta ke stasiun antah-berantah.” Kenji menghela napas dramatis. “Setidaknya biarkan aku menikmati lima menit terakhir sebagai sopir pribadi keluarga Kisaragi.”
Dari kursi belakang, Mai mengangkat kepala.
“Buronan cinta?”
“Memangnya kalian mau disebut apa? Dua orang yang meninggalkan rumah konglomerat, menolak warisan, lalu kabur ke pegunungan bersalju bersama-sama?” Kenji melirik mereka melalui kaca spion. “Kedengarannya seperti judul drama televisi yang diputar tengah malam.”
Mai menutup mulut, menahan tawa.
“Kalau begitu, kau pemeran pendukung yang paling banyak mengeluh.”
“Pemeran pendukung?” Kenji memprotes. “Aku ini penyelamat utama! Tanpa aku, kalian mungkin masih terkurung di rumah besar itu, sementara aku akan menjadi satu-satunya orang waras yang tersisa di Tokyo.”
“Orang waras tidak mengemudi sambil mengeluh selama tiga jam,” kata Ren.
“Orang waras juga tidak menolak menjadi pewaris konglomerat demi seorang gadis, tapi lihat siapa yang duduk di sebelahku!”
Ren menoleh kepadanya dengan tatapan datar.
Kenji langsung kembali memusatkan perhatian ke jalan.
“Baik. Aku diam. Aku diam sekarang.”
Mai tertawa kecil. Suaranya terdengar lebih ringan daripada ketika mereka meninggalkan Kediaman Kisaragi, meskipun lelah masih tertinggal di bawah matanya. Ia menyandarkan kepala pada jendela, memandangi salju yang berputar-putar di udara sebelum jatuh ke tanah. Beberapa jam sebelumnya, ia masih berada di jalanan yang padat, dikelilingi kendaraan dan gedung-gedung tinggi. Kini, yang terdengar hanyalah dengung mesin mobil, gesekan ban di atas aspal dingin, dan suara Kenji yang sesekali bergumam sendiri ketika mencari jalan.
Dunia di luar jendela terasa begitu luas.
Dan untuk pertama kalinya, luasnya dunia itu tidak membuatnya takut.
“Ren,” panggil Mai pelan.
“Ya?”
“Apakah rumah nenekmu benar-benar dekat dari stasiun ini?”
“Tidak terlalu jauh. Kita masih perlu berjalan sedikit dari desa tujuan akhir.”
“Dan tidak ada orang dari keluarga Kisaragi yang tahu tempatnya?”
Ren menutup peta, kemudian memasukkannya ke saku jaket.
“Sejauh yang kutahu, tidak ada yang pernah menggunakan rumah itu selama bertahun-tahun. Dokumen kepemilikannya masih atas nama nenekku, dan lokasinya tidak pernah menjadi bagian dari tempat tinggal resmi keluarga.”
Mai mengangguk perlahan.
Ia tidak bertanya lebih jauh. Mereka sudah membicarakan rumah itu berkali-kali—sebuah rumah kayu sederhana di daerah perbukitan, jauh dari pusat kota, yang diwariskan kepada Ren oleh neneknya sebelum ia meninggal. Rumah itu bukan tempat yang mewah. Tidak ada pelayan, tidak ada pagar tinggi, tidak ada sistem keamanan yang memantau setiap langkah. Mereka mungkin harus membersihkan debu, memperbaiki beberapa bagian bangunan, dan menghadapi musim dingin dengan peralatan yang jauh lebih sederhana daripada yang biasa tersedia di Kediaman Kisaragi.
Namun, rumah itu menawarkan sesuatu yang tidak pernah bisa diberikan oleh kediaman megah tersebut.
Mereka dapat menutup pintu karena ingin beristirahat, bukan karena diperintahkan untuk tetap berada di dalam.
Mereka dapat pergi ke luar tanpa harus meminta izin.
Mereka dapat menyebut nama masing-masing tanpa khawatir seseorang sedang mendengarkan.
Dan ketika pagi tiba, tidak ada yang akan meminta Mai bangun sebagai Kanade.
“Kalau rumahnya ternyata berantakan,” ujar Mai sambil tersenyum kecil, “kita harus mulai membersihkannya besok.”
Ren menoleh ke belakang, menatapnya melalui sela-sela kursi.
“Kalau begitu, kita membersihkannya bersama.”
“Kalau dapurnya tidak bisa dipakai?”
“Kita cari cara.”
“Kalau pemanasnya rusak?”
“Kita perbaiki.”
“Kalau ternyata ada tikus?”
Ren terdiam sebentar.
Kenji langsung tertawa keras.
“NAH! AKHIRNYA ADA MASALAH YANG TIDAK BISA DISELESAIKAN OLEH TUAN JENIUS!”
“Aku bisa memasang perangkap,” jawab Ren tenang.
“Kalau tikusnya tidak mau masuk perangkap?”
“Kita cari perangkap lain.”
“Kalau tikusnya punya keluarga besar?”
“Kenji,” sela Mai, tertawa, “jangan menakut-nakuti kami sebelum kami bahkan sampai di rumah.”
“Aku hanya sedang mempersiapkan kalian untuk kehidupan mandiri!”
“Kalau begitu, kami akan mengundangmu datang untuk membantu membersihkan rumah.”
Kenji membuka mulut, kemudian menutupnya lagi.
Ia menatap jalan di depannya dengan ekspresi seseorang yang baru menyadari bahwa ia telah terjebak oleh ucapannya sendiri.
“…Aku seharusnya tidak mengatakan apa-apa.”
Tawa mereka bertahan beberapa saat, sebelum perlahan mereda ketika jalan mulai menurun menuju sebuah desa kecil.
Di ujung jalan, papan kayu dengan tulisan nama stasiun tampak berdiri di dekat persimpangan. Catnya sudah memudar, dan salju menumpuk di bagian atasnya. Sebuah bangunan rendah dengan atap tua terlihat di balik deretan pepohonan. Di sampingnya, rel kereta membelah hamparan putih yang membentang menuju kaki bukit.
Kenji memperlambat mobil.
“Nah,” katanya, kali ini dengan nada yang lebih pelan. “Kita sampai.”
Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada deretan taksi yang menunggu penumpang. Tidak ada papan iklan raksasa atau suara pengeras dari pusat perbelanjaan. Stasiun itu hanya terdiri atas bangunan kecil dengan dinding kayu tua, ruang tunggu sederhana, dan peron sempit yang sebagian permukaannya tertutup salju.
Sebuah jam bundar tergantung di dinding luar bangunan. Jarumnya bergerak mendekati pukul empat sore.
Di seberang rel, lereng bukit naik perlahan, dipenuhi pohon-pohon yang cabangnya memutih. Beberapa lampu jalan telah menyala, memancarkan lingkaran cahaya kekuningan di tengah udara dingin.
Kenji mengarahkan mobil ke area parkir kecil di samping stasiun. Hanya ada beberapa kendaraan di sana, sebagian tertutup salju tipis. Ia memilih tempat yang tidak langsung terlihat dari jalan utama, lalu mematikan mesin.
Seketika, kabin mobil menjadi sunyi.
Dengung pemanas menghilang. Tidak ada lagi suara mesin yang menggetarkan lantai. Hanya bunyi salju yang menyentuh kaca dan desir angin yang menyusup melalui celah-celah kecil di sekitar pintu.
Kenji meletakkan kedua tangannya di atas kemudi.
“Baik,” katanya.
Tidak ada yang langsung bergerak.
Ren menatap stasiun di depan. Mai memandang ke luar jendela, mengikuti gerakan seorang petugas yang sedang menyapu salju dari dekat pintu masuk. Di ujung peron, sebuah bangku kayu kosong berdiri di bawah atap kecil, permukaannya tertutup lapisan putih.
Perjalanan mereka telah sampai pada bagian yang tidak bisa lagi diselesaikan dengan mengemudi lebih cepat.
Setelah ini, Kenji akan kembali ke mobilnya.
Ren dan Mai akan naik kereta.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka berteman, Ren akan melanjutkan perjalanan tanpa sahabatnya berada di sisi yang sama.
Kenji memecah kesunyian dengan suara yang sengaja dibuat ceria.
“Jadi, siapa yang mau turun duluan?”
Mai mengangkat tangan sedikit.
“Aku.”
Ia membuka pintu belakang. Udara dingin langsung menerpa wajahnya, membuatnya menarik napas pendek. Sepatu botnya menyentuh permukaan aspal yang lembap, dan ia buru-buru menarik tas perjalanan dari lantai mobil. Ren keluar dari sisi lain, membawa tas pakaian sederhana yang menjadi satu-satunya barang besar milik mereka.
Kenji keluar terakhir.
Ia berdiri di samping mobil selama beberapa detik, merapatkan jaketnya, lalu mengamati stasiun tua itu. Dari tempat mereka berdiri, rel kereta tampak menghilang di balik bukit, seolah-olah jalur besi itu menghubungkan mereka dengan dunia yang sama sekali berbeda.
“Sepi sekali,” kata Mai.
“Memang itu tujuannya,” jawab Ren.
Mai mengangguk.
Ia tidak pernah menyangka akan menyukai kesunyian seperti ini. Selama berbulan-bulan, kesunyian di Kediaman Kisaragi selalu memiliki makna lain: ada kamera yang mungkin sedang merekam, ada staf yang menunggu instruksi, ada pintu yang tidak boleh dibuka tanpa izin, dan ada seseorang yang akan menanyakan ke mana ia pergi jika ia berdiri terlalu lama di lorong.
Di sini, kesunyian hanya berarti tidak banyak orang yang berbicara.
Tidak lebih dari itu.
Mereka berjalan menuju bangunan stasiun. Langkah sepatu mereka meninggalkan jejak di salju tipis yang menutupi tepi jalan. Kenji mengikuti dari belakang dengan kedua tangan masuk ke saku jaket, sesekali menendang gumpalan salju kecil yang menghalangi jalannya.
Di depan loket, Ren memeriksa tiket sekali lagi.
“Kereta menuju desa berikutnya berhenti di peron satu,” katanya. “Kita turun di stasiun terakhir pada jalur ini, lalu melanjutkan dengan berjalan kaki.”
Kenji mengangguk. “Kau sudah memastikan jadwalnya?”
“Sudah.”
“Dan tiketnya?”
Ren mengangkat dua lembar tiket.
“Sudah.”
“Uang?”
“Cukup.”
“Ponsel?”
Ren menatapnya.
Kenji mengangkat kedua telapak tangan. “Baik, baik. Aku hanya memastikan. Kalau kalian lupa sesuatu, jangan menuduhku tidak bertanggung jawab.”
Mai tersenyum.
“Kami tidak akan menuduhmu begitu.”
“Bagus. Karena aku sudah memutuskan bahwa aku akan menjadi orang paling bertanggung jawab di antara kita mulai sekarang.”
“Keputusan yang cukup ambisius,” kata Ren.
“Diam.”
Mereka tertawa pelan, tetapi kali ini tawa itu tidak berlangsung lama. Dari pengeras suara stasiun terdengar pengumuman singkat mengenai keberangkatan kereta berikutnya. Suaranya sedikit pecah, bercampur dengung statis yang membuat kata-katanya terdengar jauh dan samar.
Ren memandang jam di dinding.
“Sebentar lagi.”
Kenji mengangguk.
“Kalau begitu, ayo ke peron.”
Peron itu lebih dingin daripada yang mereka bayangkan.
Angin bertiup dari arah rel, menyusup melalui celah pakaian dan membuat ujung jari terasa kaku. Salju menempel pada bangku-bangku kayu, sementara lampu-lampu kecil di sepanjang peron memancarkan cahaya kekuningan yang membuat butir-butir putih tampak berkilau sesaat sebelum jatuh.
Di kejauhan, terdengar suara logam bergetar.
Kereta belum terlihat, tetapi suara itu semakin jelas setiap kali angin mereda.
Ren dan Mai berdiri berdampingan di dekat garis aman peron, sementara Kenji berada beberapa langkah di hadapan mereka. Tidak banyak penumpang lain. Seorang pria tua duduk di bangku sambil memegang tas belanja, dan seorang perempuan paruh baya berdiri di dekat tiang sambil membungkus lehernya dengan syal tebal.
Tidak ada yang memperhatikan mereka lebih dari beberapa detik.
Bagi orang-orang itu, Ren dan Mai hanyalah dua anak muda yang sedang melakukan perjalanan bersama seorang teman.
Tidak ada yang tahu bahwa mereka baru saja meninggalkan sebuah keluarga yang menganggap kehidupan sebagai sesuatu yang bisa diatur melalui kontrak. Tidak ada yang tahu bahwa nama yang digunakan Mai selama hampir setahun bukanlah nama yang tercantum pada dokumen kelahirannya. Tidak ada yang tahu bahwa Ren baru saja menolak masa depan yang telah dipersiapkan untuknya sejak kecil.
Dan tidak seorang pun di peron itu akan memanggil Mai dengan nama Kanade.
Ia berdiri dengan bahu sedikit terangkat, berusaha mempertahankan kehangatan tubuh. Angin membuat rambutnya bergerak di sekitar wajah, dan ia merapikan helai yang menutupi mata dengan jemari yang mulai dingin.
Kenji menatap mereka bergantian.
“Jadi,” katanya, “setelah kalian naik kereta, aku harus kembali ke Tokyo sendirian.”
Ren mengangguk. “Ya.”
“Perjalanan panjang, tanpa teman bicara, tanpa orang yang bisa kuajak berdebat, tanpa seseorang yang bisa kusalahkan kalau aku tersesat.”
“Kau punya peta.”
“Aku punya hati yang terluka, Ren.”
Mai tertawa kecil.
“Kalau begitu, kami akan meneleponmu setelah sampai.”
Kenji menunjuknya dengan telunjuk.
“Bukan hanya menelepon. Aku ingin kabar lengkap. Kalian sampai, kalian menemukan rumah, kalian tidak tersesat, kalian tidak dimakan beruang, kalian tidak membeku, dan kalian tidak menemukan bahwa rumah itu ternyata dihuni oleh hantu nenek moyang keluarga Kisaragi.”
Ren mengangkat alis.
“Beruang di kawasan itu tidak umum berkeliaran dekat permukiman pada musim seperti ini.”
Kenji menatapnya tanpa ekspresi.
“Kenapa kau selalu memilih bagian paling tidak penting dari kalimatku untuk ditanggapi?”
“Karena bagian lainnya tidak membutuhkan penjelasan.”
“KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN!”
Mai tertawa lebih keras, sampai ia harus menunduk sebentar untuk mengatur napas. Kenji memandangnya dengan ekspresi pura-pura tersinggung, tetapi sudut bibirnya terangkat.
Kemudian, ketika tawanya mereda, Mai menatap Kenji dengan lebih sungguh-sungguh.
“Terima kasih sudah mengantar kami sejauh ini.”
Kenji membuka mulut untuk menjawab dengan lelucon, tetapi kata-katanya tidak segera keluar.
Ia mengalihkan pandangan ke rel. Salju turun di atas bahunya, menumpuk sedikit di kain jaket yang berwarna gelap. Ia mengusapnya dengan telapak tangan, lalu memasukkan tangannya kembali ke saku.
“Yah,” katanya akhirnya, “kalau aku tidak mengantar kalian, siapa lagi yang akan melakukannya?”
“Kau bisa saja menolak,” ujar Ren.
“Bisa.” Kenji mengangkat bahu. “Tapi aku tidak mau.”
Ren terdiam.
Kenji menoleh kepadanya, lalu menyeringai tipis. “Lagi pula, siapa yang akan mengawasi kalian kalau bukan aku? Kau pintar, tapi kau kadang-kadang terlalu serius. Mai baik hati, tapi dia bisa mengkhawatirkan orang lain sampai lupa menjaga dirinya sendiri. Kalian berdua butuh seseorang yang bisa mengatakan kalau kalian mulai melakukan hal bodoh.”
“Dan orang itu harus kau?” tanya Ren.
“Tentu saja. Aku sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun menghadapi kebodohanmu.”
Ren menggeleng pelan.