Angin malam menyapu lereng perbukitan Nagano, membawa serpihan salju yang berputar-putar di bawah cahaya lampu jalan yang jarang. Jauh dari Tokyo, tidak ada suara klakson yang saling bersahutan, deru kereta yang tak pernah berhenti, ataupun gemerlap gedung pencakar langit yang memantulkan cahaya ke langit malam. Yang terdengar hanyalah desir pepohonan pinus, gesekan ranting yang tertutup salju, dan sesekali suara burung malam dari kedalaman hutan.
Di tepi jalan kecil yang menanjak, sebuah mobil tua berhenti di depan rumah kayu yang berdiri agak terpisah dari bangunan-bangunan lain. Atapnya tertutup lapisan putih tipis. Sebagian pagar kayunya miring, sementara sebuah lentera batu yang sudah berlumut berdiri di dekat jalan masuk. Rumah itu tidak besar, tidak pula terlihat mewah. Dindingnya terbuat dari kayu berwarna cokelat gelap yang mulai memudar, dengan jendela-jendela berbingkai sederhana dan beranda sempit yang menghadap ke pepohonan.
Namun, bagi Ren, tempat itu menyimpan sesuatu yang tidak pernah bisa dibelinya dengan seluruh kekayaan keluarga Kisaragi.
Tempat itu adalah rumah.
Ren turun dari mobil sambil menarik napas panjang. Udara dingin langsung menyusup melalui kerah mantelnya, membuat kulit di sekitar lehernya meremang. Ia menutup pintu mobil, lalu berdiri beberapa saat di tepi jalan, memandangi bangunan tua tersebut seolah-olah sedang memastikan bahwa tempat itu benar-benar ada dan bukan sekadar gambaran yang tersisa dari masa kecilnya.
Mai menyusul dari sisi penumpang. Ia membawa satu tas pakaian berukuran sedang dengan kedua tangan, sementara syal yang melilit lehernya sedikit miring akibat perjalanan panjang. Rambutnya berantakan tertiup angin, dan ujung hidungnya memerah karena udara yang menusuk.
“Jadi... ini rumahnya?”
Ren menoleh. “Ya.”
Mai mengangkat wajah untuk mengamati atap, jendela, lalu beranda yang tampak membutuhkan sedikit perbaikan. Matanya bergerak ke sana kemari dengan rasa ingin tahu yang nyaris membuatnya lupa pada dinginnya udara.
“Wah.”
Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.
Ren mengangkat sebelah alis. “Wah?”
“Ya, wah.” Mai menunjuk rumah itu dengan dagunya, sebab kedua tangannya masih sibuk memegangi tas. “Aku membayangkan rumah peninggalan nenek seorang pewaris konglomerat setidaknya punya gerbang besar, taman luas, atau sesuatu seperti itu.”
“Aku sudah bilang rumah ini sederhana.”
“Kau bilang sederhana, bukan berarti aku harus membayangkan rumah yang kelihatannya bisa memenangkan penghargaan sebagai bangunan paling tenang di seluruh Nagano.”
Ren terdiam sesaat, kemudian sudut bibirnya terangkat.
“Kau masih sempat bercanda setelah perjalanan sepanjang ini?”
“Kalau aku tidak bercanda, aku mungkin sudah menangis sejak kita turun dari mobil.”
Ucapan itu disampaikan dengan nada ringan, tetapi senyum Mai sedikit goyah pada bagian akhirnya. Ia segera menunduk, pura-pura membetulkan posisi tas di tangannya.
Perjalanan mereka belum sepenuhnya menghapus ketegangan yang tertinggal di Tokyo. Bahkan setelah kereta meninggalkan stasiun kecil dan mereka menempuh jalan pedesaan menuju perbukitan, sebagian diri Mai masih terbiasa menunggu suara langkah di belakangnya, panggilan tegas Saito dari ujung koridor, atau perintah yang mengingatkannya bahwa setiap gerakan harus sesuai dengan aturan yang ditentukan orang lain.
Ia masih harus membiasakan diri dengan kenyataan bahwa tidak ada seorang pun yang akan muncul dari balik pepohonan untuk memintanya kembali.
Ren memperhatikan perubahan kecil pada wajahnya. Ia tidak langsung bertanya. Sebaliknya, ia mengulurkan tangan dan mengambil tas dari genggaman Mai.
“Biar aku yang membawa.”
“Aku bisa membawanya sendiri.”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa diambil?”
“Karena tanganku masih bisa digunakan.”
Mai memandangnya dengan ekspresi tidak percaya, kemudian mendengus pelan.
“Jawaban macam apa itu?”
“Jawaban yang masuk akal.”
“Tidak masuk akal sama sekali.”
Meskipun menggerutu, Mai membiarkan Ren membawa tas tersebut. Ia lalu mengikuti pemuda itu menuju beranda, berhati-hati agar tidak terpeleset di atas papan kayu yang licin oleh salju.
Di depan pintu, Ren berhenti dan merogoh saku mantelnya. Jemarinya menemukan sebuah benda kecil yang telah disimpannya sejak meninggalkan kediaman Kisaragi: kunci perunggu tua dengan kepala berbentuk bulat, permukaannya kusam dan sebagian tepinya telah menghitam karena usia.
Ia menggenggamnya selama beberapa detik.
Benda itu terasa lebih berat daripada ukurannya.
Neneknya pernah meletakkan kunci tersebut di telapak tangannya ketika Ren masih kecil. Ia samar-samar mengingat aroma teh panggang dari dapur, cahaya matahari sore yang masuk melalui jendela, dan tangan keriput yang menutup jemarinya sambil berkata bahwa sebuah rumah tidak harus besar untuk menjadi tempat seseorang pulang.
Saat itu, Ren belum memahami maksudnya.
Ia tumbuh di tengah rumah yang memiliki puluhan ruangan, pelayan yang siap memenuhi setiap kebutuhan, serta penjaga yang mengawasi setiap sudut. Ia memiliki segalanya, kecuali kebebasan untuk menentukan apa yang sebenarnya ia butuhkan.
Sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, kunci kecil itu kembali berada di tangannya.
“Ren?”
Suara Mai menariknya dari ingatan.
Ren menunduk, memasukkan kunci ke lubang pintu, lalu memutarnya perlahan.
Terdengar bunyi klik yang pendek.
Ia mendorong pintu.
Engsel tua berderit, mengeluarkan suara panjang yang memecah kesunyian malam. Udara pengap menyambut mereka dari dalam rumah, membawa aroma kayu lama, debu, dan sedikit bau tanah yang lembap. Cahaya dari luar menyentuh lantai kayu yang kusam, memperlihatkan butiran debu beterbangan di udara.
Ren melangkah masuk terlebih dahulu.
“Selamat datang,” katanya pelan.
Mai berdiri di ambang pintu, memandangi ruangan di hadapannya.
“Di rumah kita?”
Ren menoleh kepadanya.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi sesuatu dalam dadanya terasa menghangat ketika mendengarnya.
“Ya,” jawabnya. “Di rumah kita.”
Mai menggigit bibir bawahnya. Untuk sesaat, ia tidak mengatakan apa-apa. Kemudian ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakang mereka, membiarkan bunyi kait pintu terdengar jelas ketika rumah itu kembali tertutup dari dunia luar.
Tidak ada yang memeriksa kedatangan mereka.
Tidak ada yang meminta mereka menyerahkan ponsel.
Tidak ada yang mencatat jam masuk atau menentukan berapa lama mereka boleh berada di dalam.
Hanya mereka berdua.
Mai menatap pintu yang telah tertutup itu, lalu perlahan melepaskan napas yang sejak tadi tanpa sadar ditahannya.
“Baiklah,” katanya sambil menepuk kedua pipinya sendiri. “Misi pertama kita adalah memastikan rumah ini tidak memakan kita hidup-hidup.”
Ren memandang sekeliling. “Aku rasa rumah ini tidak punya kemampuan itu.”
“Kau belum melihat bagian dalamnya.”
“Aku sudah melihat bagian dalamnya.”
“Kalau begitu, kau seharusnya tahu betapa seriusnya situasi kita.”
Kali ini, Ren tertawa kecil. Suaranya masih terdengar agak serak karena kelelahan, tetapi cukup nyata untuk membuat Mai ikut tersenyum.
Mereka meletakkan tas di dekat dinding dan mulai menjelajahi rumah.
Ruang tengah menjadi bagian pertama yang mereka periksa.
Lantainya dilapisi tatami yang sebagian permukaannya telah memudar. Sebuah meja rendah berdiri di tengah ruangan, diselimuti debu tebal yang membuat warna kayunya hampir tidak terlihat. Di sudut ruangan terdapat lemari tua dengan pintu geser, sementara rak kecil di dekat jendela masih menyimpan beberapa mangkuk keramik yang dibungkus kain.
Namun, perhatian Ren segera tertuju pada tungku kayu yang tertanam di salah satu sisi ruangan.
Tungku itu lebih besar daripada yang dibayangkan Mai. Bagian luarnya terbuat dari batu dan tanah liat yang telah menghitam oleh jelaga. Di dekatnya terdapat tempat penyimpanan kayu bakar, masih berisi beberapa potong kayu kering yang disusun rapi. Sebuah cerobong menjulur ke atas, melewati langit-langit kayu menuju atap.
“Nenek biasa menyalakannya setiap musim dingin,” kata Ren sambil berjongkok untuk memeriksa bagian dalam tungku. “Katanya, pemanas modern memang praktis, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan suara kayu terbakar ketika malam terlalu dingin.”
Mai ikut berjongkok di sampingnya.
“Kedengarannya seperti sesuatu yang akan dikatakan seseorang dalam iklan rumah tradisional.”
“Kalau begitu, kau boleh menulis iklannya.”
“Dengan bayaran?”
“Berapa tarifmu?”
Mai langsung menoleh dengan mata berbinar.
“Sebagai mantan pekerja profesional di industri pelayanan, aku punya standar yang cukup tinggi.”
“Aku hanya punya uang tunai secukupnya.”
“Kalau begitu, aku menerima pembayaran dalam bentuk makanan.”
“Kesepakatan yang masuk akal.”
Mai mengangguk mantap, seolah-olah mereka baru saja menyelesaikan negosiasi bisnis besar.
Kemudian ia berdiri dan bertepuk tangan sekali.
“Baik! Kita harus membersihkan tempat ini sebelum malam semakin larut. Kau periksa tungku dan cerobongnya. Aku akan mencari sapu, kain lap, dan apa pun yang bisa digunakan untuk mengusir debu.”
Ren mengangkat wajah.
“Kau yakin tidak ingin beristirahat dulu?”
Mai sudah berjalan menuju lorong kecil ketika ia menjawab, “Kalau aku duduk sekarang, mungkin aku tidak akan bangun sampai besok siang.”
“Itu bukan hal yang buruk.”
“Bagi orang yang sudah tidur di mobil sepanjang perjalanan, mungkin tidak. Tapi aku tidak mau malam pertama kita di rumah baru dihabiskan dengan menghirup debu.”
Ia berhenti di depan lemari penyimpanan, lalu menarik pintunya.
Debu beterbangan.
“Uhuk! Uhuk!”
Mai mundur sambil melambaikan tangan di depan wajahnya. Ren segera berdiri dan mendekat.
“Kau baik-baik saja?”
“Aku baru saja diserang oleh penghuni lama rumah ini.”
“Itu debu.”
“Debu yang sangat agresif.”
Ren menggeleng, tetapi senyumnya tidak hilang.
Mereka menemukan sapu tua, beberapa kain lap yang masih dapat digunakan setelah dicuci, serta sebuah ember logam. Di dapur, keran air masih mengalir, meskipun air yang keluar pada awalnya keruh sebelum berubah jernih. Ren memeriksa aliran air, sambungan pipa, dan sakelar listrik, sementara Mai membuka jendela-jendela untuk membiarkan udara pengap keluar.
Udara dingin langsung menerobos masuk.
Mai menggigil sampai bahunya terangkat.
“Baiklah. Aku menarik kembali keputusanku untuk membuka semua jendela sekaligus.”
Ren, yang sedang memeriksa kotak listrik di dekat lorong, menoleh.
“Kau yang membukanya.”
“Aku tahu. Itu sebabnya aku sedang mengevaluasi keputusan burukku sendiri.”
Ia segera menutup jendela yang menghadap ke arah angin, menyisakan satu bukaan kecil di sisi lain untuk membantu mengeluarkan debu. Dari sana, terlihat lereng yang menurun ke arah hutan. Batang-batang pohon pinus berdiri gelap di antara hamparan salju, dan langit senja perlahan berubah menjadi biru keunguan.
Mai menatap pemandangan itu sedikit lebih lama daripada yang diperlukan.
Di Tokyo, jendela-jendela besar di kediaman Kisaragi menawarkan pemandangan taman yang tertata sempurna. Namun, setiap kali ia berdiri di sana, ia selalu merasa seolah-olah sedang melihat dunia melalui layar kaca yang tidak boleh disentuh.
Di sini, udara yang masuk begitu dingin hingga membuat ujung hidungnya kebas. Lantai kayunya berderit, debu membuatnya bersin, dan ia bahkan belum tahu apakah semua pintu dapat dikunci dengan benar.
Akan tetapi, untuk pertama kalinya, ketidaksempurnaan itu tidak terasa seperti sesuatu yang harus disembunyikan.
Rumah ini tidak meminta dirinya menjadi Kanade.
Rumah ini bahkan tidak tahu siapa Kanade.
Ia hanya perlu menjadi Mai.
“Ren,” panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.
“Ya?”
“Menurutmu, kita benar-benar bisa tinggal di sini?”
Ren menghentikan pemeriksaannya. Ia tidak langsung menjawab, melainkan melihat sekeliling ruangan: dinding yang kusam, lemari tua, tatami yang perlu dibersihkan, dan tungku yang belum dinyalakan.
“Rumah ini membutuhkan banyak pekerjaan,” katanya akhirnya. “Kita perlu memastikan atapnya tidak bocor, membersihkan semua ruangan, membeli persediaan makanan, dan mencari tahu bagaimana kita akan mengatur pengeluaran untuk bulan-bulan berikutnya.”
Mai menoleh perlahan.
“Kau sedang berusaha membuatku merasa lebih tenang atau justru sebaliknya?”
“Aku sedang menjawab pertanyaanmu.”
“Dengan daftar pekerjaan yang bisa membuat seseorang pingsan.”
Ren mendekatinya. Wajahnya masih tampak lelah. Ada bayangan gelap di bawah matanya, dan rambutnya sedikit berantakan setelah perjalanan panjang. Namun, tatapannya tidak lagi memiliki kehampaan yang pernah Mai lihat pada hari-hari pertama setelah ia terbangun dari koma.
“Kita mungkin akan kesulitan,” katanya. “Aku tidak akan berpura-pura sebaliknya. Aku juga tidak bisa menjanjikan bahwa semua keputusan kita akan selalu benar.”
Ia berhenti sejenak, lalu mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Mai yang dingin.
“Tapi kali ini, kalau ada masalah, kita akan menghadapinya karena kita memilih untuk tinggal di sini. Bukan karena seseorang memerintahkan kita.”
Jemari Mai bergerak pelan, membalas genggamannya.
Ia menunduk, menatap tangan mereka yang bertaut di antara cahaya senja yang semakin redup.
“Kalau begitu,” bisiknya, “kita mulai dari membersihkan rumah ini.”
Ren mengangguk.
“Baik.”
“Dan setelah itu, makan.”
“Setuju.”
“Lalu kita membeli selimut yang lebih tebal besok.”
“Kita lihat berapa uang yang tersisa.”
Mai mengangkat kepala dengan tatapan tersinggung.
“Ren, jangan merusak suasana dengan anggaran rumah tangga.”
“Maaf.”
Namun, cara Ren mengucapkannya terdengar begitu datar sehingga Mai tahu ia sedang menahan tawa.
Ia menyipitkan mata.
“Kau sedang menertawakanku?”
“Tidak.”
“Pembohong.”
“Sedikit.”
Mai memukul lengannya pelan dengan kain lap yang baru ditemukannya. Ren mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah, dan tawa kecil mereka kembali memenuhi ruangan.
Di luar, senja perlahan menghilang di balik bukit.
Malam pertama mereka telah dimulai.
Setelah memeriksa tungku dan memastikan cerobongnya tidak tersumbat oleh sarang burung atau serpihan kayu, Ren membawa beberapa potong kayu bakar ke ruang tengah. Ia menyusunnya di dalam tungku, memisahkan potongan kecil yang mudah menyala dari kayu yang lebih tebal untuk mempertahankan api.
Mai muncul dari dapur dengan membawa sekotak korek api yang ditemukan di laci.
“Peralatan perang melawan musim dingin telah tiba.”
Ren menerima kotak itu darinya. “Kita harus memastikan apinya tidak terlalu besar pada awalnya.”
“Baik, Tuan Ahli Tungku.”
“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku ahli.”
“Justru itu yang membuat gelarmu semakin mengesankan.”
Ren berjongkok di depan tungku dan menyalakan potongan kayu kecil. Pada percobaan pertama, api hanya menyala sebentar sebelum padam. Ia mengatur ulang posisi kayu agar udara dapat mengalir di antara celah-celahnya, lalu mencoba sekali lagi.
Kali ini, ujung kayu mulai memerah. Api kecil merambat di permukaan serat kering, menghasilkan suara berkeretak yang nyaris tidak terdengar.
Mai berjongkok di sampingnya, menopang dagu dengan kedua tangan.
“Wah.”
“Jangan bilang kau akan mengomentari api ini seperti tadi kau mengomentari rumah.”
“Aku hanya menghargai kerja kerasmu.”
“Terima kasih.”
“Dan aku juga berharap api ini akan segera menjadi cukup besar untuk menghangatkan kakiku.”
Ren menoleh kepadanya.