Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #88

Aroma Sup Miso Pagi Hari

Pagi pertama mereka di rumah kayu Nagano datang tanpa bunyi alarm yang memekakkan telinga, tanpa ketukan keras seorang staf yang mengingatkan jadwal harian, dan tanpa selembar kertas berisi agenda akademik yang menuntut setiap menit kehidupan seseorang dipertanggungjawabkan.

Yang membangunkan Miyauchi Mai justru cahaya matahari.

Sinar keemasan menyusup melalui celah tirai tipis, merambat di atas lantai kayu yang sudah mulai kusam, lalu jatuh tepat di ujung selimut yang menutupi kakinya. Dari luar jendela terdengar suara burung-burung kecil, diselingi desir angin yang menggerakkan ranting pepohonan di halaman. Udara pagi masih menggigit, menyisakan hawa dingin pegunungan yang merembes melalui sela-sela bingkai jendela tua.

Mai membuka mata perlahan.

Selama beberapa detik, ia hanya memandangi langit-langit kayu di atasnya. Ia belum terbiasa dengan pola serat kayu yang tidak rata, dengan bayangan dahan yang bergerak di dinding, atau dengan kesunyian yang tidak terasa mengancam.

Kemudian, ingatannya kembali.

Rumah nenek Ren. Nagano. Hari pertama kehidupan baru mereka.

Tidak ada Kediaman Kisaragi. Tidak ada Saito yang sewaktu-waktu bisa muncul di ambang pintu sambil membawa dokumen kontrak. Tidak ada pita seragam yang harus ia kenakan untuk mengubah dirinya menjadi seorang gadis yang telah meninggal.

Dan yang paling penting, tidak ada seorang pun yang menunggunya untuk memainkan peran sebagai Kanade.

Mai mengangkat tangan, menyentuh kalung perak berinisial M yang masih melingkar di lehernya. Logamnya terasa dingin ketika bersentuhan dengan ujung jari, tetapi sensasi itu justru membuat senyum kecil terbit di bibirnya.

"Miyauchi Mai," bisiknya pelan, seolah sedang memastikan namanya masih berada di tempat yang semestinya.

Ia menarik napas panjang.

Lalu, dengan gerakan hati-hati agar tidak membangunkan Ren, Mai menyingkirkan selimut dan bangkit dari futon. Telapak kakinya menyentuh lantai kayu yang dingin hingga ia spontan mengangkat tumit.

"Uwah, dingin sekali!"

Ia buru-buru meraih kaus kaki tebal dari dekat tas pakaian mereka. Hanya ada beberapa potong pakaian, perlengkapan mandi, dompet, dan barang-barang pribadi yang berhasil mereka bawa. Tidak ada koper mahal atau lemari penuh pakaian bermerek. Seluruh harta benda yang mereka miliki sekarang dapat dihitung tanpa perlu memanggil siapa pun untuk membuat daftar inventaris.

Anehnya, ketika melihat tas sederhana itu, Mai tidak merasa kehilangan.

Ia malah merasa lega.

Di sudut ruangan, Ren masih tertidur di atas futon lain yang mereka gelar berdekatan. Rambut hitamnya berantakan, sebagian menutupi dahi. Salah satu tangannya terjulur keluar dari selimut, sementara wajah yang biasanya tampak terlalu tenang itu kini benar-benar lepas dari ketegangan.

Mai berhenti sejenak di dekatnya.

Selama berbulan-bulan, ia terbiasa melihat Ren bangun dengan mata sayu, tubuh yang belum pulih sepenuhnya, dan ekspresi kosong yang seolah menunggu seseorang memberitahunya apa yang harus dilakukan hari itu. Belakangan, setelah semua kebohongan terbongkar, ekspresi tersebut berubah menjadi kewaspadaan yang tajam—sebuah kebiasaan yang dibentuk oleh terlalu banyak ancaman.

Namun, pagi ini Ren tidur tanpa mengerutkan kening.

Mai menunduk sedikit, memperhatikan napasnya yang teratur.

Semoga hari ini dia bisa bangun tanpa harus memikirkan apa pun yang menakutkan.

Ia mengulurkan tangan, nyaris menyentuh rambut Ren, tetapi mengurungkannya ketika menyadari bahwa ia sedang tersenyum sendiri.

"Baiklah. Sarapan dulu."

Mai mengepalkan tangan kecil di depan dada, seperti seseorang yang baru saja menerima misi penting.

"Operasi sarapan pertama dalam kehidupan mandiri—dimulai!"

Ia segera berjingkat meninggalkan kamar.

Dapur rumah itu tidak besar, tetapi cukup untuk dua orang yang bersedia berbagi ruang.

Lemari kayu tua berdiri di sepanjang dinding. Sebuah meja makan kecil menempati sudut dekat jendela, dengan dua kursi yang permukaannya telah menunjukkan bekas pemakaian bertahun-tahun. Di dekat wastafel terdapat rak piring sederhana, sedangkan tungku kayu yang mereka gunakan malam sebelumnya masih menyisakan sedikit aroma asap di udara.

Mai membuka jendela dapur beberapa sentimeter.

Udara dingin menyelinap masuk, membawa aroma tanah basah, dedaunan, dan kayu yang semalam terkena salju. Ia mengusap kedua telapak tangannya, kemudian menatap bahan-bahan makanan yang sudah dibelinya dari pasar lokal sehari sebelumnya.

Satu kantong kecil berisi miso. Tahu sutra yang dibungkus rapi. Beberapa batang daun bawang. Wortel, jamur, dan sebungkus rumput laut kering. Di sampingnya terdapat beras dalam kantong sederhana, telur, serta sedikit acar sayuran yang dibelinya setelah membandingkan harga di dua kios berbeda.

Tidak banyak.

Namun, bagi Mai, semua itu terasa seperti bahan-bahan untuk sebuah pesta.

Ia menggulung lengan bajunya sampai siku, mengikat rambut, lalu mencuci tangan. Setelah memeriksa kembali persediaan di dapur, ia menuangkan beras ke dalam wadah dan membilasnya berkali-kali sampai air yang mengalir tidak lagi terlalu keruh.

Gerakan tangannya terampil.

Bertahun-tahun bekerja di maid café telah mengajarinya bahwa pekerjaan dapur tidak hanya membutuhkan kemampuan memasak. Ia juga belajar mengatur waktu, menjaga kebersihan, memperkirakan kebutuhan pelanggan, dan membuat sesuatu yang sederhana terasa menyenangkan tanpa harus mengeluarkan banyak uang.

Dulu, ia melakukan semua itu demi pelanggan yang datang untuk mencari hiburan.

Hari ini, ia melakukannya untuk seseorang yang akan memakan masakannya bukan karena ia dibayar untuk menyajikannya.

Pikiran itu membuat tangannya terhenti sejenak.

Mai memandangi beras di dalam mangkuk.

"Ah, jangan mulai berpikir aneh-aneh sekarang," gumamnya kepada diri sendiri. "Kalau terlalu banyak melamun, nanti nasinya malah jadi bubur."

Ia mengibaskan tangan, seolah hendak mengusir pikiran yang mengganggu, lalu memasukkan beras ke dalam penanak nasi sederhana yang ditemukan di lemari dapur. Setelah menambahkan air sesuai takaran, ia menekan tombol memasak.

Klik.

Lampu kecil menyala.

Mai mengangguk puas.

"Satu tugas selesai."

Berikutnya, ia menyiapkan sup miso.

Ia memotong tahu menjadi kubus-kubus kecil, mengiris wortel tipis-tipis, lalu membersihkan jamur sebelum membaginya menjadi bagian yang mudah dimakan. Pisau yang digunakan bukan pisau mahal, dan gagangnya terasa sedikit longgar, tetapi cukup tajam untuk keperluan sehari-hari.

Ketika potongan wortel pertama jatuh ke dalam mangkuk, Mai mendadak teringat dapur luas di Kediaman Kisaragi.

Di sana, makanan disiapkan oleh staf profesional. Peralatan masak berkilau, bahan-bahan terbaik selalu tersedia, dan setiap hidangan bisa dibuat sesuai selera penghuni rumah. Jika Ren ingin sesuatu, seseorang akan segera mencatat permintaannya.

Namun, tidak pernah ada kehangatan yang benar-benar melekat pada semua kemudahan itu.

Mai menurunkan pisau, kemudian memandang dapur kecil di hadapannya.

Lemari tua. Meja yang sedikit miring. Keran yang sesekali menetes meskipun sudah ditutup rapat. Sebuah kain lap yang warnanya sudah memudar.

Tidak ada yang sempurna.

Dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu membuat sesuatu menjadi sempurna agar layak dinikmati.

Ia meletakkan panci berisi air dan sedikit kaldu di atas tungku, lalu menyalakan api. Setelah air mulai mendidih perlahan, ia memasukkan wortel dan jamur. Uap tipis naik dari permukaan panci, memburamkan udara di sekitarnya.

Mai mengecilkan api.

Ia mengambil sedikit miso dengan sendok, melarutkannya terlebih dahulu dalam mangkuk kecil berisi kuah hangat, kemudian menuangkannya kembali ke dalam panci. Aroma kedelai fermentasi yang gurih segera menguar, bercampur dengan wangi jamur dan sayuran.

Beberapa saat kemudian, ia menambahkan tahu dan irisan daun bawang.

Dapur yang semula dingin perlahan dipenuhi kehangatan.

Aroma sup miso menyebar sampai ke ruang tengah, menyusuri lorong pendek, dan merambat menuju kamar tempat Ren masih tidur. Ketika penanak nasi mulai mengeluarkan uap, aroma nasi hangat menyusul, lembut dan akrab.

Mai menutup mata sesaat, menikmati perpaduan keduanya.

"Ahh..."

Ia mengembuskan napas panjang dengan wajah puas.

"Inilah dia. Aroma kebahagiaan rumah tangga."

Kalimat itu baru saja keluar dari mulutnya ketika ia tersadar akan apa yang dikatakannya sendiri.

Wajahnya langsung memerah.

"Bu-bukan begitu! Maksudku, aroma sarapan! Sarapan biasa! Tidak ada maksud lain!"

Ia menoleh ke arah lorong, memastikan tidak ada yang mendengar.

Rumah itu tetap sunyi.

Mai mengembungkan pipinya, merasa konyol karena berdebat dengan udara kosong, lalu kembali mengaduk sup.

Namun, senyum di wajahnya tidak menghilang.

Ren terbangun beberapa menit kemudian.

Pada awalnya, ia hanya membuka mata dan menatap langit-langit kayu. Cahaya pagi jatuh miring ke lantai, membentuk bidang keemasan yang perlahan bergerak mengikuti matahari. Udara dingin menyentuh ujung hidungnya.

Ia berbaring diam.

Tidak ada suara langkah tergesa-gesa di luar pintu. Tidak ada staf yang mengingatkannya bahwa sesi belajar akan dimulai dalam lima menit. Tidak ada jadwal yang ditempel di dinding, berisi sederet target yang harus dipenuhi sebelum malam.

Ia tidak mendengar suara ayahnya.

Tidak mendengar bunyi biola.

Tidak mendengar siapa pun menyebutkan namanya seolah-olah nama itu merupakan sebuah jabatan yang harus dijalankan dengan sempurna.

Ren mengangkat kedua tangan, lalu mengusap wajahnya perlahan.

"Sudah pagi, ya..."

Suaranya serak karena baru bangun.

Ia menoleh ke tempat Mai tidur, tetapi futon di sana sudah kosong. Selimutnya dilipat rapi, dan tidak ada tanda bahwa Mai baru saja meninggalkan kamar selain sebuah bantal yang sedikit bergeser dari tempatnya.

Dari kejauhan terdengar bunyi sendok beradu dengan panci.

Kemudian, samar-samar, suara Mai bersenandung.

Ren terdiam.

Ia mengenali suara itu. Bukan lagu yang pernah dimainkan Kanade di ruang musik, bukan pula melodi klasik yang selama ini membuat dadanya mengencang. Hanya senandung ringan yang tidak memiliki pola jelas—nada yang naik turun mengikuti suasana hati seseorang yang sedang sibuk.

Ia mendapati dirinya tersenyum.

Bibirnya bergerak lebih dahulu daripada pikirannya.

"Mai..."

Nama itu keluar begitu alami sehingga Ren sendiri sempat tertegun.

Dulu, ia harus belajar membedakan ingatan tentang Kanade dari sosok gadis yang berdiri di hadapannya. Ia harus menerima bahwa seseorang bisa membawa nama yang bukan miliknya, memainkan peran yang dipaksakan kepadanya, tetapi tetap memiliki hati dan keinginan sendiri.

Sekarang, memanggil Mai dengan nama aslinya tidak lagi terasa seperti membuka luka.

Justru sebaliknya.

Nama itu seperti sebuah pintu yang akhirnya bisa ia lewati tanpa harus menoleh ke belakang setiap beberapa langkah.

Ren bangkit, merapikan futon seadanya, lalu mengenakan sweter yang terlipat di dekat tas pakaian mereka. Rambutnya masih berantakan, dan ia belum membasuh wajah, tetapi aroma makanan yang memenuhi rumah membuatnya enggan berlama-lama di kamar.

Ia berjalan menyusuri lorong.

Semakin dekat ke dapur, semakin jelas aroma sup miso dan nasi hangat yang menyambutnya. Ada sedikit aroma kayu bakar dari tungku, bercampur dengan wangi daun bawang yang baru dipotong.

Ren berhenti di ambang pintu.

Mai berdiri membelakanginya, sedang membungkuk untuk memeriksa penanak nasi. Rambutnya diikat sederhana, sementara lengan bajunya masih tergulung. Ia mengangkat tutup panci sedikit, mengaduk sup, kemudian mengangguk kepada dirinya sendiri dengan kesungguhan yang biasanya hanya terlihat ketika ia sedang menghadapi tugas penting.

Pemandangan itu begitu biasa.

Begitu sederhana.

Dan entah mengapa, Ren merasa dadanya dipenuhi sesuatu yang hangat.

Di Kediaman Kisaragi, ia memiliki hampir semua hal yang bisa dibeli dengan uang. Namun, ia tidak pernah benar-benar menyaksikan seseorang memasak untuknya dengan rambut berantakan dan ekspresi puas hanya karena kuah supnya terasa pas.

Mai tidak sedang melayani pewaris keluarga Kisaragi.

Ia hanya sedang menyiapkan sarapan untuk Ren.

Pemuda itu melangkah mendekat tanpa suara.

Mai masih sibuk mengatur mangkuk ketika sepasang lengan tiba-tiba melingkari pinggangnya dari belakang.

"Selamat pagi, Mai."

Mai tersentak begitu keras hingga sendok sayur di tangannya hampir terlepas.

"KYAA—!"

Ia buru-buru menahan sendok itu, sementara bahunya terangkat dan tubuhnya menegang. Selama sepersekian detik, ia bahkan tidak ingat bagaimana caranya bernapas.

Lalu ia mengenali suara yang terdengar dekat telinganya.

"R-Ren!"

Tawa kecil terdengar di belakangnya.

"Selamat pagi," ulang Ren, kali ini dengan suara yang lebih cerah. Dagunya hampir menyentuh bahu Mai, sementara kedua lengannya tetap melingkar dengan santai di pinggang gadis itu. "Aromanya enak sekali. Aku terbangun karena ini."

Mai mematung.

Panas merambat dari leher sampai ke kedua telinganya. Ia menatap panci di hadapan mereka dengan konsentrasi berlebihan, seolah-olah keberlangsungan hidup seluruh desa bergantung pada kemampuannya menjaga sup miso tetap mendidih.

"Ka-kalau ingin menyapa, bilang saja dari depan! Jangan tiba-tiba memeluk orang dari belakang!"

"Kenapa?"

"Karena—!"

Mai membuka mulut, lalu menutupnya kembali.

Karena apa? Karena ia terkejut? Karena ia belum siap? Karena pelukan itu membuatnya terlalu sadar akan kedekatan mereka, dan karena bagian dirinya yang paling jujur ingin bersandar lebih lama pada kehangatan tersebut?

Ia tidak mungkin mengucapkan semua itu sambil memegang sendok sayur.

"Karena aku sedang membawa peralatan dapur!" akhirnya ia berseru. "Kalau supnya tumpah, kita berdua harus sarapan dengan mi instan lagi!"

Ren melirik panci di hadapan mereka.

"Kalau begitu, aku akan menerima tanggung jawab penuh atas tragedi sup miso ini."

"Kamu tidak boleh bercanda soal makanan!"

"Aku serius. Kalau perlu, aku akan menulis surat permintaan maaf kepada seluruh bahan makanan."

Mai akhirnya tertawa.

Tawanya meledak begitu saja, ringan dan spontan, sampai ia harus menutup mulut dengan punggung tangan. Ren ikut tertawa, bukan dengan senyum tipis yang selama ini ia gunakan untuk menjaga jarak dari orang lain, melainkan dengan ekspresi yang membuat wajahnya tampak lebih muda.

Mai menoleh sedikit, berusaha menatapnya dari sudut mata.

"Kamu sudah bangun, tapi belum membasuh wajah, kan?"

Ren mengerjap.

"Bagaimana kamu tahu?"

"Karena rambutmu terlihat seperti baru berkelahi dengan bantal dan kalah telak."

Ren mengangkat tangan, meraba rambutnya sendiri.

"Separah itu?"

"Lebih parah."

"Kalau begitu, aku harus segera menyelamatkan harga diriku."

"Selamatkan wajahmu dulu!" Mai menyenggol lengannya dengan siku. "Pergi cuci muka. Aku akan menyiapkan sarapan."

Ren tidak langsung melepaskan pelukannya.

"Sebentar lagi."

Mai terdiam.

Lengan Ren tidak mencengkeramnya kuat-kuat. Tidak ada tuntutan di dalam gerakannya, tidak ada upaya menahan Mai agar tetap berada di tempatnya. Ia hanya memeluknya dengan tenang, seolah-olah pagi itu tidak memiliki alasan untuk membuat mereka terburu-buru.

Mai menurunkan pandangan ke tangan Ren yang bertaut ringan di depan perutnya.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

"Ren..."

"Hm?"

"Kita punya banyak waktu."

"Aku tahu."

"Jadi, kamu bisa memelukku setelah sarapan juga."

Ren mengangkat kepala sedikit.

"Benarkah?"

Mai langsung menyesali kalimatnya sendiri.

"Maksudku—bukan berarti aku sedang meminta—aku hanya bilang bahwa—"

"Baiklah."

Ren akhirnya melepaskan pelukannya.

Mai menoleh cepat, hanya untuk mendapati pemuda itu tersenyum lebar.

"Aku akan mencuci muka sekarang. Setelah sarapan, aku akan mempertimbangkan permintaanmu."

"Permintaan siapa?!"

"Permintaanmu untuk dipeluk."

"AKU TIDAK PERNAH MEMINTA ITU!"

Ren tertawa sambil mundur menuju lorong.

"Kalau begitu, aku salah dengar!"

"Ren!"

Lihat selengkapnya