Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #89

Nama Baru di Papan Nama

Pagi itu, Mai berdiri cukup lama di depan cermin kecil yang tergantung di dinding rumah kayu mereka.

Ia mengenakan pakaian sederhana: blus putih berkerah, kardigan tipis berwarna krem, rok selutut, serta sepasang sepatu hitam yang sudah dibersihkan semalam. Rambutnya diikat setengah ke belakang dengan pita kecil berwarna biru tua. Tidak ada aksesori mencolok, tidak ada riasan berlebihan, dan tidak ada usaha untuk menyerupai seseorang yang pernah tinggal di Kediaman Kisaragi.

Kalung perak berinisial M tetap melingkar di lehernya.

Mai menyentuh liontin itu sebentar, kemudian merapikan kerah blusnya.

"Bagaimana?" tanyanya kepada bayangan sendiri.

Ia memiringkan kepala ke kanan, lalu ke kiri.

"Kelihatannya cukup seperti siswi SMA biasa."

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Siswi SMA biasa.

Dahulu, kalimat itu mungkin terdengar tidak istimewa. Namun, selama berbulan-bulan, ia menjalani kehidupan sekolah dengan nama yang bukan miliknya. Setiap kali mengisi lembar tugas, memperkenalkan diri kepada guru, atau menjawab panggilan teman sekelas, ia harus mengingat bahwa nama yang digunakan bukanlah nama yang diberikan kepadanya sejak lahir.

Kisaragi Kanade.

Nama itu pernah melekat pada seragam, buku pelajaran, dan seluruh kehidupan sekolah yang dipaksakan kepadanya.

Kini, ia akan kembali menggunakan namanya sendiri.

Miyauchi Mai.

Ia menarik napas panjang, lalu mengambil map berisi dokumen dari atas meja. Di dalamnya terdapat surat keterangan pendidikan sebelumnya, dokumen identitas, berkas perpindahan sekolah, serta beberapa dokumen pendukung yang telah mereka urus setelah meninggalkan Kediaman Kisaragi.

Tidak semuanya mudah. Mereka harus memastikan bahwa identitas Mai tercatat dengan benar, menjelaskan perpindahan tempat tinggal, dan mengurus administrasi yang sempat terputus akibat kehidupan rahasianya selama setahun terakhir.

Namun, sedikit demi sedikit, semuanya mulai menemukan jalan.

Mai memasukkan map itu ke dalam tas.

Di ruang tengah, Ren sedang mengenakan sweter gelap dan jaket sederhana. Rambutnya sudah disisir, sementara sebuah tas selempang kecil terletak di atas meja.

"Kamu sudah siap?" tanyanya.

Mai keluar dari kamar sambil mengangkat map.

"Siap!"

Ren memandangnya dari ujung kepala sampai kaki.

"Kamu terlihat rapi."

"Tentu saja. Ini hari penting."

"Lebih penting daripada ujian?"

Mai mengangkat telunjuk.

"Jauh lebih penting. Hari ini aku akan mengembalikan namaku ke tempat yang seharusnya."

Ren tersenyum.

"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggumu lebih lama."

Ia mengambil kunci rumah, kemudian membuka pintu depan.

Udara pagi Nagano menyambut mereka dengan kesejukan yang khas. Langit cerah membentang di atas atap-atap rumah desa. Pepohonan di sepanjang jalan mulai dipenuhi daun muda, dan beberapa penduduk terlihat membuka pintu toko atau menyapu halaman.

Mai melangkah keluar.

Sebelum menutup pintu, ia menoleh sekali lagi ke dalam rumah.

Rumah itu masih sederhana, dengan perabot yang belum lengkap dan beberapa sudut yang perlu diperbaiki. Tetapi pagi ini, ia meninggalkannya bukan sebagai tempat persembunyian.

Ia meninggalkannya sebagai rumah.

"Ren, ayo!"

"Ya."

Mereka mulai berjalan menuju sekolah.

SMA lokal itu terletak tidak jauh dari pusat desa, di sebuah kawasan yang dikelilingi pepohonan dan rumah-rumah penduduk. Bangunannya tidak semegah Akademi Seiwa. Dinding luarnya berwarna putih gading, beberapa bagian catnya mulai memudar, dan lapangan olahraga di sisi gedung tampak sederhana dengan garis-garis yang baru dicat ulang.

Namun, suasananya terasa hidup.

Dari lapangan terdengar suara beberapa siswa yang sedang berlatih. Sepeda-sepeda terparkir di tempat khusus dekat gerbang, sementara seorang petugas kebersihan menyapu dedaunan yang jatuh di sepanjang jalan masuk.

Mai berhenti sebentar di depan gerbang.

"Ini sekolahku..."

Ia mengucapkannya pelan.

Ren berdiri di sampingnya.

"Belum resmi sampai berkasmu diterima."

Mai menoleh dengan ekspresi tidak percaya.

"Ren! Jangan merusak momenku!"

"Maaf."

Ren mengangkat kedua tangan, menyerah.

Mai kembali memandang bangunan sekolah. Matanya mengikuti jendela-jendela kelas yang memantulkan cahaya matahari. Di balik jendela itu, ada siswa-siswa yang sedang memulai hari mereka, mungkin mengeluhkan tugas, membicarakan pertandingan olahraga, atau memikirkan apa yang akan mereka makan saat istirahat.

Tidak ada yang tahu siapa Kisaragi Kanade.

Tidak ada yang menunggu seorang gadis untuk memainkan peran adik pewaris konglomerat.

Di sini, ia akan datang sebagai Miyauchi Mai.

"Aku akan masuk dulu," katanya.

Ren mengangguk.

"Aku akan menunggu sampai kamu selesai mengurus administrasi."

"Kamu tidak perlu menunggu. Bukankah kamu harus pergi ke toko buku?"

"Shift-ku baru dimulai sore."

Mai mengedipkan mata.

"Benar juga. Kalau begitu, jangan pergi jauh-jauh."

"Aku tidak akan menghilang."

Mai mengangguk puas, lalu melangkah masuk.

Namun, setelah beberapa langkah, ia kembali menoleh.

"Ren!"

"Ya?"

"Doakan aku!"

Ren tersenyum.

"Semoga nama Miyauchi Mai segera tercatat di sekolah ini."

Mai mengepalkan tangan di depan dada.

"Serahkan padaku!"

Ia berbalik dan berjalan menuju gedung administrasi.

Ren memperhatikannya sampai gadis itu menghilang di balik pintu.

Kemudian, ia mengeluarkan kedua tangan dari saku jaket dan menarik napas perlahan.

Hari ini, mereka masing-masing akan memulai sesuatu.

Dan untuk pertama kalinya, tidak ada jadwal yang ditentukan oleh orang lain.

Kantor kepala sekolah berada di lantai satu, di ujung lorong administrasi.

Mai mengetuk pintu dua kali.

"Permisi."

"Silakan masuk."

Ia membuka pintu dengan hati-hati.

Ruangan itu tidak terlalu luas. Sebuah meja kerja besar berada di dekat jendela, dengan lemari arsip di belakangnya dan beberapa foto kegiatan sekolah yang dipajang di dinding. Aroma kertas, tinta, dan teh hangat memenuhi udara.

Seorang pria berusia sekitar lima puluhan duduk di balik meja. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis, dan kacamata berbingkai tipis bertengger di hidungnya. Ia sedang memeriksa beberapa dokumen, tetapi segera meletakkannya ketika Mai masuk.

"Ah, kamu pasti Miyauchi-san."

Mai membungkuk.

"Selamat pagi. Nama saya Miyauchi Mai. Saya datang untuk menyerahkan berkas perpindahan sekolah."

"Selamat pagi. Silakan duduk."

Kepala sekolah itu menunjuk kursi di depan meja.

Mai duduk dengan punggung tegak, kemudian meletakkan map di atas meja menggunakan kedua tangan.

"Ini dokumen yang sudah diminta sebelumnya."

"Terima kasih."

Pria itu membuka map dan mulai memeriksa isinya. Ia membalik beberapa halaman, sesekali mencocokkan informasi dengan catatan yang telah diterima pihak sekolah.

Mai duduk diam.

Jari-jarinya saling bertaut di atas pangkuan. Ia berusaha menjaga ekspresi tetap tenang, tetapi ujung ibu jarinya beberapa kali mengusap sisi jari telunjuk.

Setiap kali kepala sekolah berhenti membaca, pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan.

Apakah ada dokumen yang kurang?

Apakah catatan perpindahannya akan menimbulkan pertanyaan?

Apakah ia harus menjelaskan seluruh keadaan yang terjadi selama setahun terakhir?

"Baiklah..."

Mai sedikit tersentak ketika kepala sekolah mengangkat wajah.

Pria itu melepas kacamata, lalu tersenyum ramah.

"Sejauh ini, dokumennya sudah lengkap. Ada beberapa hal administratif yang perlu diselesaikan oleh bagian tata usaha, tetapi tidak ada masalah besar."

Mai berkedip.

"Jadi... saya bisa mendaftar?"

"Tentu saja."

Kepala sekolah itu menyatukan kedua tangan di atas meja.

"Kami sudah menerima pemberitahuan mengenai kepindahanmu. Sekolah ini memang tidak sebesar sekolah asalmu, tetapi kami akan berusaha membantu agar kamu bisa menyesuaikan diri."

Mai menunduk sedikit.

"Terima kasih banyak."

"Jangan terlalu tegang."

Pria itu tertawa kecil.

"Ini bukan ruang pemeriksaan."

Mai mengangkat wajah. Pipinya sedikit memerah.

"Maaf. Saya hanya..."

"Merasa gugup?"

Mai mengangguk.

"Sedikit."

"Itu wajar. Memulai sekolah baru memang tidak selalu mudah."

Kepala sekolah kembali melihat dokumen di hadapannya.

"Namun, ada satu hal yang ingin saya pastikan."

Jari Mai berhenti bergerak.

"Ya?"

"Nama lengkapmu."

Mai menatapnya.

Kepala sekolah menunjuk kolom identitas pada lembar pendaftaran.

"Di sini tertulis Miyauchi Mai. Apakah penulisannya sudah benar?"

Pertanyaan sederhana itu membuat tenggorokan Mai terasa sedikit kering.

Ia melihat lembar tersebut.

Di sana, nama yang selama ini hanya ia ucapkan dalam percakapan pribadi akhirnya tercetak dengan jelas.

MIYAUCHI MAI

Bukan nama panggungnya di Akihabara.

Bukan nama gadis yang telah meninggal.

Bukan nama keluarga yang pernah digunakan untuk mengikatnya dalam sebuah kontrak.

Namanya sendiri.

Mai mengangguk.

"Ya. Miyauchi Mai. Itu nama saya."

Suaranya sedikit bergetar pada suku kata terakhir.

Kepala sekolah tersenyum, lalu mengambil pena.

"Baik. Kalau begitu, kami akan mencatatnya dengan benar."

Ujung pena bergerak di atas formulir.

Satu goresan.

Kemudian goresan berikutnya.

Nama itu kini berada dalam catatan resmi sekolah.

Mai menunduk, berusaha menahan sesuatu yang tiba-tiba menghangat di balik matanya.

"Selamat datang di sekolah kami, Miyauchi-san."

Kepala sekolah menutup map.

"Kami tidak tahu seluruh keadaan yang membawamu ke sini, dan kamu tidak perlu menceritakannya jika belum siap. Yang terpenting, mulai sekarang kamu memiliki kesempatan untuk belajar dan menjalani kehidupan sekolah dengan baik."

Mai menggenggam ujung roknya.

"Terima kasih..."

Ia membungkuk lebih dalam.

"Terima kasih banyak."

Kepala sekolah membalas dengan anggukan kecil.

"Semoga kamu menemukan banyak teman di sini."

Mai mengangkat kepala.

Kali ini, senyumnya tidak perlu dipaksakan.

"Saya juga berharap begitu."

Setelah menyelesaikan administrasi awal di kantor tata usaha, Mai menerima beberapa dokumen tambahan dan informasi mengenai kelas yang akan ditempatinya.

Ia akan bergabung dengan kelas dua, sesuai hasil penyesuaian riwayat pendidikannya. Ada beberapa materi yang perlu ia kejar, terutama karena perpindahan sekolah tersebut membuat sebagian catatan akademiknya harus diverifikasi ulang.

Namun, pihak sekolah telah menyiapkan jadwal konsultasi dengan wali kelas dan petugas administrasi.

Mai berjalan keluar dari gedung sambil memeluk mapnya.

Langkahnya terasa ringan.

Di dekat halaman depan, Ren sedang duduk di bangku panjang di bawah pohon. Ia membaca selebaran yang diberikan oleh bagian administrasi sekolah, mungkin sedang mencari informasi mengenai jadwal kegiatan dan fasilitas umum.

Ketika melihat Mai, ia menutup selebaran itu.

"Bagaimana?"

Mai mengangkat map di atas kepala.

"Berhasil!"

Ren berdiri.

"Selamat."

"Namaku sudah tercatat!"

Mai membuka map, mengeluarkan salinan formulir, lalu menunjuk bagian yang berisi identitasnya.

"Lihat!"

Ren menerima kertas itu.

Matanya berhenti pada nama yang tercetak di sana.

Miyauchi Mai.

Ia membaca nama itu sekali, kemudian mengembalikan kertas tersebut dengan hati-hati.

"Bagus."

Hanya satu kata, tetapi senyumnya menunjukkan bahwa ia memahami betapa besar arti selembar dokumen itu bagi Mai.

Mai memandangnya.

"Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya aneh."

"Aneh bagaimana?"

"Biasanya, ketika mengisi formulir, aku hanya memikirkan apakah tulisanku cukup rapi atau tidak. Tapi tadi..."

Ia menunduk, memperhatikan ujung sepatunya.

"Ketika kepala sekolah memastikan namaku, aku merasa seperti baru saja kembali dari tempat yang sangat jauh."

Ren tidak segera menjawab.

Ia menatap map di tangan Mai, lalu kembali memandang wajah gadis itu.

"Kamu memang sudah kembali."

Mai mengangkat kepala.

Ren melanjutkan, "Bukan kembali ke kehidupan yang sama seperti sebelumnya. Kamu sudah melewati banyak hal. Tetapi sekarang, kamu bisa melangkah ke depan sebagai dirimu sendiri."

Mai menggigit bibir bawahnya.

Ia tidak ingin menangis di halaman sekolah pada hari pertamanya mengurus pendaftaran.

Karena itu, ia mengangguk cepat.

"Ya."

Kemudian, ia mengangkat kedua tangannya dan mengepalkannya.

"Baiklah! Mulai hari ini, aku akan menjadi siswi teladan!"

Ren mengangkat alis.

"Sejak kapan kamu berencana menjadi siswi teladan?"

"Sejak sekarang!"

"Apakah itu termasuk mengerjakan semua tugas tepat waktu?"

"Tentu saja."

"Belajar dengan rajin?"

"Sudah pasti."

"Datang ke sekolah tanpa terlambat?"

Mai terdiam.

Ren menatapnya.

"Mai?"

"Untuk yang terakhir, kita lihat nanti."

Ren tertawa.

Mai mengembungkan pipi.

"Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang belum diuji!"

Mereka meninggalkan halaman sekolah dengan suasana hati yang jauh lebih ringan daripada ketika datang.

Di luar gerbang, Mai menoleh sekali lagi ke arah papan nama sekolah.

Ia belum benar-benar menjadi bagian dari kehidupan di dalamnya. Masih banyak hal yang harus ia lakukan sebelum hari pertama belajar dimulai.

Namun, nama itu sudah tercatat.

Dan itu cukup untuk membuatnya tersenyum sepanjang perjalanan.

Lihat selengkapnya