Sore itu, musim semi telah benar-benar mengambil alih desa kecil di Nagano.
Cahaya matahari menyelinap di antara ranting-ranting pohon sakura yang tumbuh di sepanjang jalan desa. Kelopak-kelopak merah muda sesekali terlepas dari dahan, terbawa angin melewati pagar kayu rumah-rumah penduduk sebelum akhirnya jatuh di atas tanah yang mulai menghangat. Dari kejauhan terdengar suara burung-burung kecil bersahutan, bercampur dengan bunyi lonceng sepeda seorang anak yang melintas di jalan.
Di teras rumah kayu peninggalan nenek Ren, sebuah meja rendah telah disiapkan. Dua cangkir teh tersusun rapi di atas tatakan, sementara sepiring kecil kue buatan Mai diletakkan di tengahnya.
Mai sedang merapikan posisi piring ketika suara Ren terdengar dari dalam rumah.
"Mai, apa kau sudah selesai?"
"Sebentar! Aku sedang memastikan kuenya tidak berantakan."
Ren muncul di ambang pintu sambil membawa teko berisi air panas. Rambut hitamnya sedikit berantakan setelah membantu membersihkan halaman sejak pagi. Ia mengenakan kemeja sederhana dengan lengan digulung hingga siku, jauh berbeda dari pakaian formal yang dulu selalu dikenakannya di kediaman Kisaragi.
"Kurasa kuenya tidak akan kabur dari piring," katanya.
Mai mendongak, menatapnya dengan ekspresi tidak terima.
"Ren, ini kunjungan penting."
"Justru karena itu, kurasa tamu kita tidak akan keberatan kalau bentuk kuenya sedikit tidak sempurna."
"Kalau begitu, kau saja yang menjelaskan kepadanya nanti."
Ren tersenyum kecil. Ia meletakkan teko di atas meja, kemudian mengamati susunan kue yang telah disiapkan Mai. Ada beberapa potong dorayaki, kue bolu kecil, dan manisan yang dibelinya di pasar desa pagi tadi.
"Kelihatannya enak."
"Tentu saja. Aku membuatnya dengan serius."
"Aku tahu."
Ren mengambil satu potong kecil dari piring.
"Hei!"
"Tidak ada aturan yang melarang tuan rumah mencicipi hidangannya sendiri."
"Itu untuk tamu!"
"Kalau begitu, anggap saja aku sedang melakukan pemeriksaan kualitas."
Mai menghela napas panjang, tetapi sudut bibirnya terangkat. Ia mengambil serbet dan memukul pelan punggung tangan Ren sebelum pemuda itu sempat mengambil potongan kedua.
Mereka baru saja tertawa ketika suara mesin mobil terdengar dari ujung jalan.
Mai menoleh.
"Sepertinya dia sudah datang."
Ren meletakkan kembali tangannya di atas meja. Keduanya berdiri dan berjalan menuju halaman depan.
Sebuah mobil berwarna gelap berhenti di dekat pagar. Pintu pengemudi terbuka, lalu seorang pemuda dengan jaket kasual melompat keluar. Ia mengenakan ransel besar dan membawa dua tas belanja yang tampak penuh sesak. Bahkan sebelum kedua kakinya benar-benar menapak tanah, suaranya sudah terdengar memenuhi jalan desa.
"RENNNN!"
Ren memejamkan mata sesaat.
"Suara itu tidak mungkin salah."
"REN! MAI!"
Tanaka Kenji berlari ke arah mereka dengan kedua tangan terangkat. Salah satu tas belanja di tangannya bergoyang liar, sementara ransel di punggungnya hampir terlepas dari bahu.
"Kenji!" Mai melambaikan tangan dengan semangat.
"HAH! KALIAN BENAR-BENAR ADA DI SINI!"
Kenji berhenti tepat di hadapan mereka. Ia membungkuk sebentar sambil mengatur napas, lalu mengangkat kedua tas belanja yang dibawanya seolah sedang memamerkan harta karun.
"Lihat! Aku datang membawa persembahan dari ibu kota!"
Ren mengangkat alis.
"Kau terlihat seperti pedagang keliling."
"Kurang ajar! Ini namanya persiapan kunjungan yang matang!"
Kenji mulai mengeluarkan barang-barang dari tasnya. Ada beberapa bungkus makanan khas Tokyo, sekotak cokelat, camilan kemasan yang dulu sering mereka beli sepulang sekolah, serta beberapa majalah yang dibungkus plastik.
"Ini dari toko yang dulu sering kita datangi. Ini juga. Oh, dan ini!"
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan gambar karakter anime di bagian tutupnya.
Mai mencondongkan tubuh.
"Eh? Bukankah ini produk kolaborasi yang sempat ramai dibicarakan?"
"Tepat sekali! Aku harus mengantre hampir empat puluh menit untuk mendapatkannya."
"Kenji, kau benar-benar tidak berubah," ujar Ren.
"Dan kau benar-benar tidak tahu cara menghargai perjuangan seorang sahabat!"
Kenji menepuk bahu Ren dengan keras, kemudian tertawa lebar.
Untuk beberapa saat, halaman rumah itu dipenuhi suara mereka. Tidak ada penjaga yang mengawasi, tidak ada staf yang berdiri menunggu perintah, dan tidak ada orang yang mencatat setiap percakapan mereka. Hanya tiga orang yang saling menyapa setelah sekian lama berpisah.
Kenji memandang Ren dari ujung kepala hingga kaki.
"Kau terlihat lebih sehat."
"Begitukah?"
"Jelas. Wajahmu tidak sepucat dulu. Bahkan sepertinya berat badanmu bertambah sedikit."
"Itu mungkin karena makanan Mai."
"Hei, jangan bicara seolah-olah aku memaksamu makan!" sela Mai.
"Memang tidak. Tapi kalau aku tidak menghabiskan masakanmu, kau akan terlihat kecewa."
"Karena itu berarti kau tidak menyukainya!"
Kenji menatap keduanya bergantian. Kemudian ia mengangguk dengan ekspresi seolah baru saja menemukan sebuah kebenaran besar.
"Ah, begitu. Jadi sekarang kalian sudah punya rutinitas pertengkaran rumah tangga."
"Kenji," kata Ren datar.
"Apa?"
"Masuklah sebelum kau membuat tetangga mengira kita sedang mengadakan festival."
Kenji tertawa terbahak-bahak.
Mereka kemudian berkumpul di teras rumah.
Kenji meletakkan barang-barang bawaannya di sudut ruangan, lalu duduk bersila di atas tatami. Mai membawa teko dan tiga cangkir teh ke meja rendah. Uap tipis naik dari permukaan teh, membawa aroma daun teh yang hangat dan sedikit pahit.
"Silakan," katanya sambil menuangkan teh ke cangkir Kenji.
"Wah, terima kasih. Sudah lama sekali aku tidak dilayani seperti ini."
"Jangan membiasakan diri," jawab Mai. "Ini karena kau tamu."
"Baiklah. Aku akan menikmati perlakuan istimewa ini selagi masih ada."
Ren duduk di samping Mai, lalu mengambil cangkirnya sendiri. Angin musim semi melewati teras, menggerakkan tirai tipis di dekat pintu geser. Di luar, beberapa kelopak sakura jatuh di atas papan kayu.
Kenji menghirup tehnya terlebih dahulu.
"Ahhh. Enak."
"Tehnya berasal dari toko kecil dekat pasar," jelas Mai. "Pemiliknya bilang daun tehnya baru diproses."
"Rasanya memang berbeda. Tokyo terlalu bising untuk menikmati hal seperti ini."
Ia meletakkan cangkirnya, lalu memandang sekeliling rumah.
"Jadi, bagaimana kehidupan kalian di sini?"
Ren mengikuti arah pandangnya.
"Tenang."
"Hanya itu?"
"Tenang dan cukup menyenangkan."
"Jawaban yang sangat khas dirimu."
Mai tertawa kecil.
"Kami mulai terbiasa. Aku sudah masuk sekolah, meskipun masih harus menyesuaikan diri dengan teman-teman baru. Ren juga mulai bekerja di toko buku."
"Ah, aku sudah mendengar soal itu dari pesanmu."
Kenji menoleh kepada Ren.
"Bagaimana pekerjaanmu? Jangan bilang kau membuat pemilik toko buku merasa minder karena kau bisa menjawab semua pertanyaan pelanggan."
"Sejauh ini baik-baik saja. Nakamura-san cukup ramah."
"Dia tidak menyuruhmu mengelola seluruh toko?"
"Tidak."
"Bagus. Setidaknya ada satu orang dewasa di dunia ini yang tidak mencoba menjadikanmu mesin."
Ren tersenyum tipis.
Kenji mengangkat cangkirnya lagi, tetapi kali ini ia tidak langsung meminumnya. Pandangannya beralih dari Ren ke Mai, lalu kembali ke Ren.
"Omong-omong, ada beberapa hal yang ingin kuceritakan."
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
Mai meletakkan piring kue yang sedang dipegangnya. Ren pun mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada sahabatnya.
"Berita dari Tokyo?" tanyanya.
"Ya. Dan kurasa kalian akan tertarik mendengarnya."
Kenji mengambil sepotong kue, menggigit sedikit, lalu mengunyahnya dengan sengaja lambat. Ia tampak menikmati kesempatan untuk membuat kedua orang di hadapannya penasaran.
"Jangan berputar-putar," kata Ren.
"Baik, baik. Kau masih saja tidak sabaran."
Kenji menelan kuenya, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas lutut.
"Pertama, tentang ayahmu."
Udara di teras terasa sedikit berubah.
Mai melirik Ren. Namun pemuda itu hanya mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa Kenji boleh melanjutkan.
"Setelah semua kekacauan mengenai pembatalan pertunanganmu dengan Clara, ditambah berbagai persoalan internal keluarga Kisaragi yang akhirnya mulai diketahui oleh beberapa pihak, posisi Souichiro-san menjadi semakin sulit."
Kenji berhenti sejenak.
"Dia akhirnya memutuskan pensiun dini dari dunia bisnis."
Mai mengangkat alis.
"Pensiun?"
"Ya. Bukan sekadar mundur dari satu jabatan. Dia benar-benar mengumumkan pengunduran dirinya dari aktivitas eksekutif perusahaan."
Ren menunduk sedikit, memperhatikan permukaan tehnya.
"Jadi, dia tidak lagi mengurus perusahaan?"
"Setidaknya tidak seperti sebelumnya. Ada restrukturisasi di jajaran pimpinan, dan beberapa orang yang selama ini berada di bawah kendalinya mulai mengambil alih tanggung jawab operasional."
Kenji menyandarkan punggungnya pada tiang teras.
"Sepertinya dia akhirnya menyadari bahwa tidak semua hal bisa diselesaikan dengan memerintah orang lain."
Tidak ada nada kemenangan dalam suara Ren. Ia hanya mendengarkan, sesekali mengangguk.
Mai memperhatikan wajahnya. Dulu, setiap kali nama Souichiro disebut, bahu Ren akan menegang. Rahangnya mengeras, dan tatapannya berubah seperti seseorang yang sedang menunggu serangan berikutnya.
Kini, ia hanya duduk dengan tenang.
"Bagaimana dengan ibuku?" tanya Ren setelah beberapa saat.
Kenji mengangguk, seolah memang menunggu pertanyaan itu.
"Nah, itu berita kedua."
Ia mengambil cangkirnya, memutarnya perlahan di atas tatakan.
"Reiko-san yang mengambil keputusan paling tegas. Setelah beberapa dokumen dan tindakan internal mulai diperiksa, dia memecat Saito Kazuma secara tidak hormat."
Mai yang sedang hendak meminum teh berhenti di tengah gerakan.
"Saito-san?"
"Ya. Saito Kazuma. Mantan kepala tim hukum sekaligus orang yang selama ini mengurus banyak urusan pribadi keluarga Kisaragi."
Kenji mengangkat telunjuk.
"Dan jangan salah paham. Dia bukan hanya kehilangan jabatan. Pemecatannya dilakukan dengan cara yang cukup keras. Aksesnya terhadap urusan internal perusahaan dicabut, dan namanya tidak lagi tercantum dalam struktur organisasi."
Mai menunduk, menatap cangkir di tangannya.
Bayangan ruang kerja yang dingin muncul sesaat dalam ingatannya. Tumpukan dokumen dengan tanda tangan di bagian bawah. Suara Saito yang datar saat membacakan klausul kontrak. Tatapan tajam yang seolah bisa mengukur nilai seseorang hanya dari seberapa baik ia mematuhi instruksi.
Tangannya tanpa sadar menyentuh kalung berinisial M yang menggantung di lehernya.
Ren menyadari gerakan itu. Tangannya bergerak pelan, menyentuh punggung tangan Mai di atas meja.
Mai menoleh. Ren tidak mengatakan apa-apa, tetapi sentuhan itu cukup untuk membuat jemarinya yang sempat menegang kembali rileks.
Kenji melanjutkan ceritanya.
"Yang cukup mengejutkan, Reiko-san sekarang justru lebih banyak mengurus yayasan sosial keluarga."
"Yayasan sosial?" tanya Mai.
"Ya. Menurut kabar yang kudengar, dia mulai mengalihkan sebagian waktunya untuk kegiatan amal dan pengelolaan program bantuan pendidikan. Tentu saja, aku tidak tahu apakah itu benar-benar karena perubahan hati atau hanya karena dia ingin menjalani kehidupan yang lebih tenang."