Maafkan Aku, Onii-chan

Diva Amane
Chapter #91

Di Bawah Bunga Sakura Tanpa Sandiwara

Musim salju telah berlalu.

Salju yang dahulu menutupi atap-atap rumah, membekukan jalan setapak, dan menggantung di ranting-ranting pohon kini telah mencair sepenuhnya. Airnya mengalir melalui parit kecil di tepi jalan desa, berkilauan diterpa sinar matahari pagi. Udara yang selama berbulan-bulan terasa menggigit perlahan berubah hangat, membawa aroma tanah basah, rerumputan muda, dan bunga-bunga yang mulai bermekaran.

Di sepanjang jalan setapak yang menghubungkan permukiman desa dengan sekolah, pohon-pohon sakura berdiri dalam barisan panjang. Dahan-dahannya dipenuhi bunga merah muda pucat, begitu lebat hingga beberapa bagian langit nyaris tertutup olehnya. Setiap kali angin bertiup, kelopak-kelopak bunga terlepas dan melayang perlahan, berputar di udara sebelum jatuh ke atas jalan.

Musim semi akhirnya tiba di Nagano.

Di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir desa, Miyauchi Mai sedang berdiri di depan cermin.

Seragam sekolah barunya tampak rapi. Blazer berwarna biru tua membingkai kemeja putih yang dikenakannya, sementara pita kecil berwarna merah muda menghiasi bagian kerah. Rok lipitnya bergerak ringan ketika ia berputar sedikit untuk memeriksa penampilannya dari samping.

Rambut hitamnya dibiarkan tergerai, hanya sebagian kecil di dekat pelipis yang dijepit dengan jepit rambut sederhana. Tidak ada aksesori berlebihan, tidak ada riasan yang harus disesuaikan dengan karakter tertentu, dan tidak ada pita khusus yang menjadi bagian dari identitas orang lain.

Di lehernya, kalung perak berinisial M berkilau samar.

Mai menyentuh liontin itu dengan ujung jari.

"Miyauchi Mai," gumamnya pelan.

Nama itu terdengar begitu biasa.

Tidak memiliki kemegahan nama keluarga Kisaragi. Tidak memiliki sejarah yang harus dipertahankan di hadapan publik. Tidak pula membawa beban untuk menjadi seseorang yang telah meninggal.

Hanya namanya sendiri.

Ia mengucapkannya sekali lagi, kali ini dengan senyum kecil.

"Miyauchi Mai."

Ketukan terdengar dari pintu kamar.

"Mai? Sudah siap?"

Mai berbalik.

"Ya! Sebentar!"

Ia mengambil tas sekolah yang telah disiapkannya sejak malam sebelumnya, lalu memeriksa isinya sekali lagi. Buku pelajaran, tempat pensil, buku catatan, dompet, dan bekal kecil yang telah dibungkus rapi. Setelah memastikan semuanya lengkap, ia berjalan keluar kamar.

Ren telah menunggunya di ruang utama.

Pemuda itu mengenakan kemeja putih sederhana dengan jaket tipis berwarna gelap. Celana panjangnya tampak rapi, dan rambut hitamnya disisir sedikit lebih tertata daripada biasanya. Di salah satu tangannya terdapat dua bungkus roti yang dibeli dari toko dekat stasiun desa.

Ia mengangkat pandangan ketika Mai muncul.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi."

Ren mengamati penampilan Mai selama beberapa detik.

Mai memiringkan kepala.

"Ada apa?"

"Tidak ada."

"Kalau begitu, kenapa melihatku seperti itu?"

Ren tersenyum.

"Seragammu cocok."

Pipi Mai sedikit memerah.

"Terima kasih."

"Sepertinya kau sudah benar-benar menjadi siswi di sini."

"Memangnya sebelumnya aku bukan siswi?"

"Maksudku, sekarang kau terlihat lebih terbiasa."

Mai menunduk untuk merapikan ujung blazer.

"Awalnya memang agak sulit. Aku tidak mengenal siapa pun, dan beberapa pelajaran di sekolah ini sedikit berbeda dari sekolah sebelumnya. Tapi teman-teman sekelasku baik. Mereka juga tidak terlalu banyak bertanya tentang masa laluku."

"Bagus."

"Guru wali kelasku bahkan memujiku karena catatanku rapi."

"Itu memang benar."

"Dan aku sudah bisa mengingat nama hampir semua teman sekelas!"

"Itu juga bagus."

Mai mengangkat wajah dengan senyum bangga.

"Jadi, kurasa aku sudah cukup berhasil."

Ren mengangguk sungguh-sungguh.

"Menurutku, kau memang berhasil."

Jawaban sederhana itu membuat Mai terdiam sebentar. Ia kemudian mengalihkan pandangan, berusaha menyembunyikan senyum yang semakin lebar.

"Kau juga harus bersiap. Bukankah hari ini kau masuk toko buku lebih siang?"

"Benar. Masih ada waktu."

Ren meletakkan roti di meja, kemudian mengambil tas sekolah Mai dan menyerahkannya kepadanya.

"Kalau begitu, kita berangkat?"

Mai menerima tas itu.

"Ya!"

Jalan desa terasa berbeda pada pagi itu.

Cahaya matahari menembus sela-sela dahan sakura, membentuk bayangan lembut di atas jalan. Angin hangat menyentuh wajah, membawa beberapa kelopak bunga melayang melewati mereka. Dari kejauhan, suara kendaraan sesekali terdengar, tetapi sebagian besar suasana tetap tenang.

Mai berjalan di sisi Ren.

Langkahnya ringan. Sepatu sekolahnya mengetuk permukaan jalan beraspal dengan irama teratur, sementara tas yang menggantung di bahunya sesekali bergoyang mengikuti gerakan tubuhnya.

Ia beberapa kali mendongak untuk memandangi bunga-bunga di atas kepala.

"Indah sekali."

Ren mengikuti arah pandangnya.

"Ya."

"Aku belum pernah melihat sakura sebanyak ini secara langsung."

"Di Tokyo ada banyak pohon sakura juga."

"Tapi di sana aku jarang punya waktu untuk benar-benar memperhatikannya."

Ren menoleh.

Mai masih memandang dahan-dahan yang dipenuhi bunga. Beberapa helai kelopak tersangkut di rambutnya, tetapi ia belum menyadarinya.

"Dulu, bahkan ketika musim semi tiba, aku selalu sibuk memikirkan pekerjaan berikutnya," lanjutnya. "Aku harus mengingat jadwal, memeriksa pakaian, memastikan pelanggan tidak menunggu terlalu lama, lalu pulang dan menghitung uang yang bisa kusisihkan."

Ia tersenyum kecil.

"Kadang-kadang aku bahkan tidak sadar bahwa bunga sakura sudah bermekaran."

Ren memperhatikan wajahnya.

"Kalau begitu, sekarang kau punya waktu untuk melihatnya."

"Ya."

Mai menoleh kepadanya.

"Dan aku ingin melihatnya sebanyak mungkin."

Ren mengangguk. Ia kemudian mengulurkan tangan ke arah Mai.

Gadis itu menatap tangan tersebut sebentar sebelum menyambutnya.

Jemari mereka bertaut.

Tidak ada aturan mengenai jarak yang harus dijaga. Tidak ada orang yang akan mencatat apakah sentuhan mereka melanggar ketentuan kontrak. Tidak ada kamera pengawas yang mengawasi dari sudut ruangan, dan tidak ada seorang pun yang menunggu untuk menegur mereka.

Ren menggenggam tangan Mai dengan tenang.

Mai membalas genggamannya.

Mereka terus berjalan di bawah naungan pepohonan.

Sesekali, kelopak sakura jatuh di bahu Ren atau menyentuh punggung tangan Mai. Gadis itu bahkan sempat mencoba menangkap satu kelopak yang terbawa angin, tetapi bunga kecil itu meleset dari ujung jarinya.

"Ah!"

Ren meliriknya.

"Apa?"

"Aku hampir menangkapnya."

"Kelopak bunga?"

"Ya."

Ren memandang kelopak-kelopak yang berputar di udara.

"Kalau begitu, coba lagi."

Mai mengangkat tangan mereka yang masih saling menggenggam.

"Tapi tanganku yang satu sedang sibuk."

"Sayang sekali."

"Ren!"

Ren tertawa pelan.

Lihat selengkapnya