628 Masehi / 6 Hijriah/ 344 Koptik
Matahari meninggi. Langit cerah membentang. Hari itu tampak berbeda dari biasanya. Matahari terasa hangat. Sinarnya tak menyengat seperti hari-hari sebelumya. Angin seolah berbisik lembut memainkan daun-daun pohon palem yang tumbuh teratur berjajar di sepanjang pintu masuk gerbang istana.
Istana tampak berbenah. Hari itu tampak lebih sibuk dari hari sebelumnya. Seperti biasa, jika istana kedatangan tamu, penguasa mesti menyambutnya dengan hormat. Tak terkecuali hari itu saat seorang utusan dari negeri seberang nun jauh di sana berkunjung ke istana.
Maria dan Shirin sibuk di dapur demi menyuguhkan sajian terbaik untuk tamu Megaukes. Sajian domba panggang yang dihaluskan dengan campuran rempah-rempah menjadi hidangan utama. Semua ditakar cermat. Tak ada yang berlebihan. Tak ada yang boleh keliru. Mereka tahu, hidangan bukan sekadar jamuan, melainkan bahasa pertama istana.
Sementara itu, Megaukes bersiap di kamarnya, mengenakan jubah ungu tuanya yang telah disiapkan Maria. Warna yang tak sekadar menandai kuasa, tetapi juga kesiapan. Saat ia melangkah, lapisan kesumba tampak sekilas, seperti darah yang hanya diperlihatkan pada mereka yang cukup dekat.
Sang tamu menunggu di ruang Thronos,[1] sebuah ruangan yang dirancang khusus untuk tahta sang penguasa, digunakan untuk menerima tamu penting dan acara resmi lainnya.
Teh hibiskus telah tersaji dalam apot[2] tembikar. Namun, tak disentuh. Kerongkongannya kering oleh perjalanan, tetapi ia menahan diri. Tak satu pun benda ia masukkan ke tubuhnya sebelum diizinkan. Potamiana tadi hanya meletakkannya itu di atas meja. Ia terburu-buru sehingga lupa mempersilakan. Sembari menunggu, bibirnya bergerak pelan. Nama Tuhan diucapkan lirih. Nama nabi disebutkan dengan penuh adab, nyaris tak terdengar.
Megaukes melangkah keluar. Shinouti mengikut, satu langkah di belakang, cukup dekat untuk mendengar, cukup jauh untuk tidak hadir. Di ambang ruang Thronos, dua pengawal memberi hormat dan membuka pintu. Georgios Putra Menas Sang Megaukes tiba di sebuah ruangan berukuran cukup besar. Langit-langit ruangan tinggi. Dindingnya penuh ukiran dan relief suci. Dekorasinya megah, menonjolkan kekuasaan serta otoritas seorang penguasa, dilengkapi dengan kursi-kursi mewah dan meja-meja yang digunakan untuk menerima tamu dan menyajikan hidangan.
Sang tamu segera bangkit untuk menghormati ketika Megaukes tiba dan berdiri di depan takhtanya.
“Tiherine noten,” ucap Megukes memberikan salam kepada seorang pemuda di hadapannya.
“Salamun ’ala manittabaa’l huda,” ucap lelaki itu penuh takzim yang berdiri sekitar dua hote[3] dari hadapan Megaukes.
Megaukes mengangguk pelan sambil berusaha memahami bahasa sang tamu yang masih terdengar asing di telinganya. Begitu pula dengan Shinouti yang turut hadir mengawal pertemuan itu. Megaukes menarik napas lalu mengembuskannya pelan.
“Salam lakum,” balas Megaukes penuh wibawa, dengan aksen yang tidak terlalu fasih.
Senyum tipis muncul di wajah sang tamu.
“Tuanku,” ujar Shinouti pelan, “izinkan saya memanggilkan penerjemah.”
Megaukes mengangguk. Shinouti segera beranjak dari ruangan.
Sejenak ruangan itu hening. Megaukes mengamati tamunya, lelaki berpakaian serba putih. Wajahnya terasa asing. Bukan utusan yang biasa datang dari negeri lain. Ia membuka ingatan, di mana pernah bertemu pemilik wajah seperti itu. Namun, Megaukes tak menemukan apa pun di laci ingatannya. Wajah tamunya tetap asing.
Dari perawakannya terlihat jelas, pria itu bukan dari kalangan Koptik ataupun Romawi. Tergambar jelas pada wajah sang tamu tanda-tanda bekas perjalanan jauh. Dari cara dia menyapa, Megaukes menduga jika tamunya kali ini berasal dari negeri Arabia. Sekilas, mata Megaukes tertuju pada sepucuk surat di tangan kanan lelaki dengan postur tidak terlalu tinggi itu. Megaukes menarik napas. Tamunya kali ini adalah seorang utusan yang membawa sebuah pesan.
“Silakan, Tuan,” ucap Megaukes. Ia tersenyum sambil menjulurkan tangannya sebagai isyarat mempersilakan sang tamu untuk duduk.
Megaukes pun duduk di tahtanya yang megah, sebuah kursi yang terbuat dari kayu eboni berlapis emas serta dudukannya beralaskan kulit binatang. Sandaran punggungnya yang tinggi dengan kaki-kaki berbentuk seperti tungkai depan dan belakang hewan. Sebuah tahta yang begitu mengagumkan. Berpadu dengan gading, tahta itu semakin terlihat gagah. Ukiran-ukiran dan relief orang-orang kudus dan adegan dari Injil pada takta itu menunjukkan betapa pemilik adalah bukan orang biasa.
Tak berapa lama kemudian, Shinouti memasuki ruangan bersama dengan penerjemah istana. Setelah itu, Shinouti kembali berdiri di tempat semula. Sementara sang penerjamah istana berdiri di sebelah kanan Megaukes lalu memberikan salam hormat pada Megaukes dan sang tamu.
Makalani, sang penerjemah istana, sudah tahu tugasnya kali ini. Seperti biasa dia akan menerjemahkan bahasa asing untuk Megaukes. Kali ini tugasnya adalah menerjemahkan bahasa sang tamu yang datang dari negeri Arabia agar komunikasi terjadi dua arah. Makalani segera menanyakan nama dan tujuan datang ke istana kepada sang tamu. Sang utusan pun memperkenalkan diri. Megaukes menyimak setiap kata asing yang terucap. Sesekali, dia mengangguk pelan. Mungkin ada beberapa kata yang sudah dia pahami. Sementara selebihnya, ia hanya tampak mengerutkan dahi.
Sesaat setelah sang tamu selesai bicara, Makalani pun menerjemahkan ucapannya kepada Megaukes.