Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #18

Rekeb Gamal - REVISED EDITION

Matahari mulai meninggi. Bayang-bayang penjaga gerbang istana jatuh memanjang di tanah, setinggi tombak. Unta-unta yang tengah diberi makan oleh para petugas mulai gelisah oleh terik yang merayap perlahan. Terdengar suara terompah dari arah ruang tamu istana menuju kamar Maria. Dari suaranya yang bertalu cepat nyaris tanpa jeda, bisa diketahui jika pemilik terompah tengah berlari.

Shirin terengah. Tepat di depan pintu kamar Maria, ia berhenti sejenak, menempelkan telapak tangan ke dada, mengatur napasnya yang tersengal.

Tiherine noten,” ucap Shirin mengucap salam sebelum mendorong daun pintu.

Tak ada jawaban.

Shirin melangkah masuk. Pandangannya segera tertuju ke sudut timur kamar, dekat jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. Di sana, ruang ibadah pribadi Maria ditata dengan khidmat. Sebuah meja altar dari kayu aras sepanjang satu hasta dan lebar tiga hasta, ditutup kain linen putih dan selapis wol ungu cerah. Di atasnya, bara arang menyala perlahan dalam wadah kecil untuk dupa, dikelilingi ikon-ikon kudus: Iesous Pkhristos, Bunda Sang Perawan, dan Janasuci Markos Sang Penginjil.

Maria duduk bersimpuh di hadapan altar.

Shirin melangkah mendekat perlahan, seraya merapikan maphorion yang melorot di pundaknya. Ia berhenti beberapa depa di belakang Maria yang usai menjalani Ounou Mahsyomti, ibadah jam ketiga yang dilaksanakan setelah matahari terbit setinggi tombak. Lirih terdengar Maria melafalkan doa dengan mequetaria, matanya terpejam, wajahnya tenggelam dalam kekhusyukan. Shirin sungkan untuk menjedanya.

Shirin mematung sejenak. Ia tahu, kakaknya selalu tenggelam dalam doa dan kuat bersimpuh berlama-lama. Akhirnya, Shirin melepas terompah, lalu bersimpuh di permadani yang sama, tepat di sisi Maria.

Xen Phran mphiot, nem Psyeri, nem Pi-pneuma Etouab, ounouti nouot. Amen,” bisiknya pelan, seraya membentuk tanda salib di dahi, dada, dan pundak mengucap kalimat doa: dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Tuhan Yang Esa, Amin.

Shirin turut merapal doa tentang pengampunan. Bukan karena dia ingin turut berdoa bersama Maria, melainkan karena ingin menjeda Maria yang tengah memuji-muji nama-Nya sehingga Shirin merasa perlu meminta ampun pada Tuhan.

“Abba Isaak datang, Maria,” lirih Shirin bermaksud menjeda doa Maria.

Seketika Maria menghentikan jari-jarinya yang sedang menghitung mequetaria. Perlahan matanya membelah kegelapan, menampakkan iris yang berkilau bak bintang. Lalu, Ia menoleh ke Shirin yang berada di sebelah kirinya. Shirin mengulangi ucapannya, mengatakan bahwa Abba Isaak sudah tiba di istana untuk memenuhi undangan Megaukes tempo hari.

“Ada apa dengan Abba Isaak?” tanyanya lembut, sambil membelai tangan sang adik.

“Abba Isaak dan rombongannya sudah tiba,” jawab Shirin. Wajahnya tampak gelisah.

Maria menatap heran sang adik. Tak biasanya Shirin seperti ini saat kedatangan Abba Isaak ke istana. Justru sebaliknya, Shirin biasanya berseri setiap kali Abba Isaak datang ke istana.

“Apa tak ada hidangan yang bisa disiapkan?” tanya Maria.

Shirin menggeleng cepat. “Bukan itu.”

“Lalu?”

“Kau tahu maksud kedatangannya untuk menemui Megaukes, bukan?”

Maria mengangguk.

“Megaukes sudah berangkat pagi tadi memenuhi undangan Kaisar Ieraklas,” lanjut Shirin. “Aku tak sampai hati menyampaikan itu. Abba Isaak sudah jauh-jauh datang ….”

Maria tersenyum tenang. Senyum yang membuat Shirin makin bingung. Sementara, di dalam hati Maria, sebuah nama kembali bergaung. Sosok yang belum tuntas diceritakan Abba Isaak tempo hari. Kesempatan itu kini terbuka. Pertemuannya kali ini dengan Abba Isaak adalah waktu yang tepat untuk menuntaskan keingintahuannya tentang Mesuga.

“Segeralah temui Abba Isaak,” kata Shirin sambil menggenggam tangan Maria.

“Aku akan ke dapur menyiapkan hidangan terbaik.”

Maria mengangguk. “Terima kasih, Shirin.”

Setelah Shirin berlalu, Maria berdiri, merapikan dirinya, lalu melangkah menuju ruang tamu istana.

“Mesuga,” batin Maria penuh tanda tanya, “Siapa dirimu sebenarnya?”

***

Lihat selengkapnya