Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #19

Mesuga - REVISED EDITION

Syahdan, kisah tentang Sang Mesias memasuki kota Yerusalem kerap diulang, terutama menjelang Paskah. Namun bagi Maria, kisah itu tak pernah terasa biasa. Setiap kali ia mendengarnya, bulu kuduknya bergidik, seolah ada daya tak kasatmata yang merambat pelan ke relung perasaannya. Penderitaan serta kesabaran Sang Mesias begitu menyentuh hati, hingga air bening mengalir tanpa diminta dari kedua matanya yang syahda.

Kedatangannnya dari timur Yerusalem serta mukjizat-mukjizat yang mendahuluinya dicatat dengan rapi oleh para penulis Injil, Mattaios, Markos, Loukas, Iohannes. Sang Mesias memasuki kota itu dengan cara yang unik bagi ukuran seorang raja. Dia datang dengan menunggang seekor keledai muda yang belum pernah memikul beban.

Abba Isaak pernah mengatakan pada Maria perihal hewan yang ditunggangi Sang Mesias. Bukan tanpa makna jika Iesous Pkhristos menunggangi seekor keledai. Sebab keledai dalam tradisi timur merupakan binatang yang melambangkan kedamaian. Berbeda dengan kuda yang merupakan lambang perang dan penaklukan. Sebab dari itu Sang Mesias tidak datang dengan menunggang kuda. Sang Mesias tidak datang sebagai panglima, melainkan sebagai pembawa damai.

***

“Sang Mesias… dan sang Raja Arabia?” tanya Maria, memastikan.

Abba Isaak mengangguk.

“Jika para rabi Yahudi mengetahui nubuat dalam kitab Nabi Esaias,” Maria melanjutkan, “mengapa mereka tidak mengimani Tuan kita Iesous Pkhristos?”

“Maria ….” Abba Isaak menjeda ucapan sejenak. “Jika mereka mengimaninya sebagai Sang Mesias, tentu mereka tidak akan melakukan makar untuk menyalibnya. Tentu mereka telah memiliki iman yang sama seperti kita.”

“Dan sampai hari ini mereka masih menunggu Sang Mesias itu?”

Abba Isaak kembali mengangguk.

Antusiasme Maria tumbuh ketika Abba Isaak kembali melanjutkan kisah tentang sang Penunggang Unta, kisah yang sempat terhenti tempo hari. Nubuat Nabi Esaias itu tidak hanya berbicara tentang Penunggang Keledai, tetapi juga tentang sosok lain: sang Penunggang Unta, yang oleh sebagian orang dijuluki Mesuga.

“Kedua sosok itu disambut dengan gegap gempita oleh penduduk kota yang dimasukinya,” lanjut Abba Isaak, “Sang Mesias memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai keledai tepat menjelang Paskah. Sementara Sang Mesuga, memasuki kota Cahaya dengan mengendarai unta.”

“Kota Cahaya?” Maria menyela. “Yerusalem?”

Abba Isaak menggeleng pelan. Lalu, beliau melanjutkan lagi ucapannya.

“Bukan.”

“Dengan menunggang unta,” lanjutnya, “ia memasuki kota Cahaya, tepat saat orang Yahudi merayakan Yom Kippur—hari kesepuluh bulan Tishri, hari tersuci dalam kalender mereka.”

Maria mengangguk, perlahan.

“Nubuat itu telah terjadi,” ucap Abba Isaak lirih, menatap jauh ke depan. “Mesuga sudah tiba di kota Cahaya. Dia telah datang.”

 ***

Yom Pesach dan Yom Kippur bukan sekadar hari raya. Keduanya menandai kemunculan dua sosok yang dinanti: Sang Penunggang Keledai dan Sang Penunggang Unta. Menjelang Paskah, Iesous Pkhristos memasuki Yerusalem dengan menunggang seekor keledai. Pada Yom Kippur, sang Nabi Arabia memasuki Medinta dengan menunggang seekor unta.

“Mesuga …,” ucap Maria lirih sesaat setelah Abba Isaak menyebutkan kata itu.

Maria tahu, bahwa Mesuga hanyalah julukan bagi sosok penunggang unta. Julukan itu disematkan oleh mereka yang menolak dan mencemoohnya.

Lihat selengkapnya