Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #25

Tamu Istimewa - REVISED EDITION

Megaukes, lelaki bijak yang diangkat sebagai uskup dari kalangan patriark Ortodoks Yunani pada tahun 621M itu menatap ramah tamunya. Senyum itu dibalas. Gurat kelelahan akibat perjalanan jauh dari Madinah menuju Aleksandria tampak begitu nyata di wajah Hathib. Namun, sang pahlawan perang Badar itu tetap berusaha berdiri tegap, tak ingin menampakkan sedikit pun rasa letihnya.

“Sudilah kiranya Tuan beristirahat di sini untuk beberapa hari,” ucap Megaukes yang segera diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh Makalani.

“Terima kasih, Tuan,” jawab Hathib seraya tersenyum yang segera diterjemahkan Makalani dalam bahasa Koptik. “Tapi, saya tidak ingin merepotkan Tuan. Biarkan saya mencari penginapan di luar sana.”

Megaukes tersenyum, nyaris seperti seorang kerabat yang menolak basa-basi.

“Sungguh ini adalah kesempatan istimewa bagi saya. Izinkan saya menjamu Anda dengan pelayanan paling baik di istana, Tuan,” ucap Megaukes penuh hormat kepada Hathib.

Hathib pun mengangguk seraya tersenyum setelah Makalani menerjemahkan ucapan Megaukes ke dalam bahasa Arab kepadanya. Hathib tidak menyangka sambutan yang diterimanya begitu hangat. Layaknya sanak yang bertamu ke saudaranya, seolah tanpa ada batas dan sekat pemisah di antara mereka.

“Tinggallah di sini beberapa hari. Tentunya Saudara lelah dan saya pun memerlukan waktu untuk menimbang pesan yang kaubawa dari nabimu,” ucap Megaukes dengan senyum tercetak di bibir sembari menyerahkan surat itu kepada Shinouti.

Tak seperti surat lain, kali ini surat itu diletakkan di tempat istimewa. Megaukes memerintahkan Shinouti untuk meletakkan surat dari Nabi Arabia itu pada sebuah bejana kecil terbuat dari gading.

“Siapkan kamar terbaik,” perintah Megaukes singkat.

Shinouti menunduk patuh.

***

Kabar tentang tamu Megaukes menyebar lebih cepat dari aroma roti yang baru keluar dari oven tanah liat. Dapur menjadi gaduh, bukan oleh api, melainkan oleh bisik.

“Katanya, ia membawa surat dari raja Yatsrib,” ujar Potamiana lirih, duduk terlalu dekat dengan Barirah.

Usai menyajikan minum untuk sang tamu, Potamiana tak langsung kembali mengerjakan tugasnya. Diam-diam ia mendengarkan pembicaraan Megaukes dengan Hathib.

“Yang mengaku nabi itu?” Barirah berhenti menggiling tepung.

Potamiana mengangguk. “Dan bukan hanya ke sini. Ke Kaisar Ieraklas juga.”

Shirin mengangkat roti yang baru saja matang, panasnya membuat ujung jarinya cepat-cepat dilepas. Ia meletakkannya di atas meja. Aromanya menyebar di udara, menusuk-nusuk hidung dan menjadikan perut mendadak lapar ingin mencicipinya.

“Kalau begitu, ini bukan urusan kecil.”

“Kau percaya bahwa lelaki itu seorang nabi?” tanya Maria sambil membawa dua roti yang telah matang di atas sebuah wadah datar tempat menyajikan makanan lalu menyerahkannya pada Potamiana dan Barirah.

Kompak, Potamiana dan Barirah mengangkat kedua pundaknya.

“Konon, dia juga bisa melipatgandakan makanan,” ucap Barirah menyentuh tangan Maria sesaat setelah dia meletakkan wadah berisi roti di sebelahnya.

Shirin menoleh. “Seperti yang dilakukan Iesous Pkhristos?”

Sejenak, Maria teringat kembali dengan kisah yang pernah diceritakan Abba Isaak tentang peristiwa luar biasa yang terjadi menjelang hari raya Paskah di sebuah bukit, dekat Betsaida, di sisi timur laut Danau Galilea, seberang Kapernaum. Pada hari itu, Iesous Pkhristos melipatgandakan lima roti jelai dan dua ikan sehingga bisa mencukupi untuk makan lima ribu orang. Bahkan, setelah semua kenyang, masih tersisa dua belas bakul penuh berisi roti jelai.

“Tak hanya itu, bahkan dia juga mampu membelah bulan,” lanjut Barirah lalu mencicipi roti yang baru saja matang itu.

Lihat selengkapnya