Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #32

Malam Pertama - REVISED EDITION

Aleksandria, kota bak permata di Laut Tengah, telah lama lenyap di balik punggung malam ketika Shinouti akhirnya memberi isyarat untuk berhenti. Angin gurun berembus pelan, membawa sisa hangat siang dan dingin yang bersiap turun bersama malam.

“Kita bermalam di Wadi Tumilat,” kata Shinouti sambil menunjuk ke lembah yang mulai tampak.

Hingga matahari terbenam sempurna tanpa menyisakan semburat cahanyanya, belum tampak perkampungan yang bisa mereka jadikan tempat beristirahat. Masih membutuhkan waktu cukup lama, sekira pelayan mengadon roti gandum hingga siap dihidangkan. Sementara itu, keletihan dan kesedihan telah menumpuk dalam diri gadis-gadis Koptik. Mereka butuh istirahat untuk menenangkan jiwa dan raganya.

Di hadapan mereka, hamparan tanah rendah Wadi Tumilat membentang, jalur tua yang sejak berabad-abad lalu menjadi saksi lalu-lalang kafilah, dan para pengembara. Lembah itu tenang, diapit dua bukit batu merah. Ada oasis kecil di sana.

“Lembah ini,” ujar Shinouti dalam hati, “pernah dilewati Musa ketika menuntun Bani Israil keluar dari Mesir.”

Shinouti menurunkan beban dari punggung unta, lalu menatap sekeliling dengan waspada. Tak ada cahaya perkampungan. Tak ada jejak api. Hanya garis-garis tanah berpasir, semak jarang, dan langit yang perlahan dipenuhi bintang.

“Di sinilah,” batinnya, “malam pertama.”

Ia memberi perintah singkat. Para pengawal bergerak tanpa banyak kata. Kemah-kemah sederhana didirikan, cukup untuk melindungi dari angin dan dingin. Shinouti memastikan jarak antar kemah, letak api unggun, dan posisi penjagaan. Wadi ini tampak tenang, tapi ketenangan selalu menuntut kewaspadaan.

Saat api unggun menyala, Shinouti berdiri agak menjauh. Dari tempatnya, ia melihat Maria, Shirin, Barirah mulai menyiapkan makanan. Aroma sup lentil dan daging domba perlahan mengisi udara. Jintan, ketumbar, kayu manis, menginatkan pada bau rumah, bau Mesir. Shinouti menelan ludah. Bau itu menusuk ingatan.

Makan malam berlangsung sederhana. Tak ada canda. Tak ada tawa. Hanya rasa lapar yang akhirnya membuat mereka terdiam. Mereka berkumpul di sekeliling tumpukan kayu bakar dibiarkan tetap menyala. Suara ranting kering terbakar dan percikan bara api mengisi udara malam gurun pasir yang sunyi. Sesekali api meliuk dihembus angin sepoi-sepoi. Di antara percikan api, Mina dan Maburi dengan cermat menambahkan ranting-ranting kering, menjaga api tetap menyala, sebagai penawar terhadap dinginnya udara malam yang menusuk kulit.

Shinouti makan secukupnya, lalu kembali berdiri, menatap gelap di sekeliling rombongan. Ia tak duduk terlalu lama. Tugas belum selesai. Tak jauh dari api unggun, ia melayani Hathib sebagaimana titah Megaukes. Dengan kirbat di tangan, Shinouti berdiri tegak. Hathib membuka surbannya, menggulung lengan gamisnya. Shinouti menuangkan air perlahan ke telapak tangan lelaki Arabia itu. Ia tak bertanya. Tak menatap berlebihan. Ia hanya memastikan air cukup, bersih, dan mengalir tenang.

Dari sudut matanya, Shinouti tahu Mina memperhatikan. Ia tahu pula bagaimana ritual itu bisa disalahpahami. Namun, Shinouti tak peduli. Ketika Hathib berdiri menghadap arah tanah kelahirannya, mengangkat tangan, lalu bersedekap, Shinouti memalingkan wajah sedikit. Bukan karena tak hormat, melainkan karena ia merasa sedang menyaksikan sesuatu yang bukan urusannya. Ada ibadah yang harus dibiarkan berdiri sendiri tanpa perlu ikut campur.

Angin malam berembus lebih dingin. Usai ibadah, Hathib kembali mendekat ke api unggun. Shinouti memperhatikan dari kejauhan. Ia melihat pandangan Hathib tertuju kepada tiga gadis Koptik yang menatap api unggun dengan tatapan kosong. Ia seperti bisa merasakan ada duka mendalam di sana.

Hathib mulai berbicara. Shinouti masih bisa mendengar dengan jelas suaranya, mencoba menenangkan para gadis Koptik. Kata-kata yang sederhana meluncur dengan jujur. Shinouti tahu, tak semua luka bisa sembuh dengan kalimat baik.

Lihat selengkapnya