Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #21

Kode Rahasia - REVISED EDITION

Suasana mendadak serius ketika Abba membacakan salah satu ayat dalam kitab Injil bahasa Yunani yang telah lama ia kenal, lalu menurunkannya ke dalam Koptik dengan suara yang tenang, nyaris bergetar.

“Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Mouses dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”[1]

Ia menatap satu per satu wajah di hadapannya.

“Pernahkah kita membaca nama Iesous tersurat jelas dalam Taurat atau Mazmur?”

Tak seorang pun menjawab. Hanya napas yang terdengar, tertahan.

“Namanya mungkin tak tertulis,” ucap Shinouti pelan, mencoba meraba maksud Abba Isaak. “Namun saat ia datang, kita mengenalnya dari tanda-tandanya. Dari ciri-cirinya.”

Abba Isaak mengangguk, senyum tipis merekah di wajahnya.

Maburi masuk tergesa. Wajahnya pucat, napasnya terpotong-potong.

“Pa… pasukan Romawi.”

Shinouti bangkit dari duduk. Matanya menyorot tajam. Dia tahu kedatangan Excubitor, pasukan elit di Kekaisaran Romawi Timur, ke biara tentu akan membuat kekacauan. Terlebih ke biara Koptik, tempat iman yang tak sejalan dengan titah kaisar bernaung. Pajak mencekik, perampasan gereja, aniaya—semua telah menjadi bahasa kekuasaan Romawi Timur di Mesir.

Teriakan para biarawan mulai terdengar. Jerit yang tak dimanusiakan. Shirin merapat ke Maria, menyembunyikan wajahnya di punggung sang kakak. Abba Isaak memejamkan mata, bibirnya bergerak melafazkan doa. Shinouti meraih gagang pedang.

“Maburi,” ucapnya cepat, “bawa Maria dan Shirin kembali ke istana.”

Maburi mengangguk. Maria segera bangkit sambil memeluk Shirin. Sementara itu, para Excubitor semakin mendekati kamar belakang. Teriakan-teriakan pasukan penjaga Kekaisaran Romawi Timur itu semakin keras terdengar. Shinouti tak yakin mampu melawan Excubitor itu sendirian. Pemeriksaan pada orang-orang Koptik selalu dilakukan setidaknya oleh sepuluh prajurit bersenjata lengkap. Meskipun demikian, Shinouti tetap akan menghadapi mereka.

Maria dan Shirin tak mungkin menggunakan kereta istana yang ada di pelataran biara. Rencanya mereka akan kabur dengan kereta kuda milik biara yang berada di halaman belakang. Maburi keluar dari kamar sambil memapah Abba Isaak diikuti Maria dan Shirin. Sementara itu, Shinouti berada di belakang mereka untuk berjaga-jaga. Namun, baru beberapa langkah saja mereka keluar, lima Excubitor memergoki mereka. Salah seorang dari Excubitor itu berteriak menyuruh mereka berhenti. Shinouti membalikkan badan. Dia melihat lima Excubitor itu berjalan makin mendekat dengan wajah garang.

Deru napas Shirin makin tak beraturan. Jantungnya berdetak makin cepat. Pelukannya pada Maria makin erat. Shirin sangat ketakutan. Maria berusaha menenangkan Shirin dengan membelai lembut punggungnya. Namun, Shirin lunglai, tak kuasa menahan rasa takut yang luar biasa. Tak kuat menopang tubuh Shirin, Maria pun ikut jatuh ke tanah.

Maria panik melihat sang adik tak sadarkan diri. Maburi mendudukkan Abba Isaak di atas potongan pohon palem yang tersandar di dinding kamarnya lalu segera membantu Maria. Maburi membawa Shirin ke tempat yang lebih teduh, di sebelah Abba Isaak. Disandarkannya tubuh Shirin ke dinding kamar. Maria berjaga di sebelah Shirin. Dia mengambil daun kering berukuran lebar yang jatuh ke tanah dan mengubahnya menjadi kipas. Dikibas-kibaskannya daun itu di depan Shirin sementara kedua matanya melihat melihat Abba Isaak. Lidahnya terus melafazkan doa. Tampak wajah lelaki tua itu begitu cemas melihat keadaan Shirin.

“Shirin …,” panggil Abba Isaak dengan suara parau.

“Tidak apa-apa Abba, Shirin hanya pingsan,” jawab Maria sambil terus mengipasi sang adik yang ada di sebelahnya.

Shinouti berdiri di depan mereka, tenang yang dipaksakan. Pedangnya masih tersarung.

Sementara Shinouti dengan tatapan matanya yang tegas berusaha tenang dan memastikan kondisi orang-orang yang bersamanya tetap aman. Tangannya sudah bersiap membuka pedang dari sarungnya. Bersiap jika kemungkinan buruk terjadimenimpa mereka. Namun, dia mengurungkan niat. Kelima Excubitor mendekat, lalu berhenti. Mereka mengenali seragamnya.

“Maaf, Tuan,” ujar salah satu dari mereka. “Kami hanya menjalankan pemeriksaan.”

***

Shinouti mengamati pergelangan tangan mereka. Ia mencari tanda salib kecil, tanda sesama Koptik. Tak terlihat. Sabuk kulit menutupinya. Ia pura-pura membetulkan sabuknya sendiri, sengaja memperlihatkan rajah salib di pergelangan tangan kirinya. Kelima Excubitor itu tak menggubris. Bahkan mereka terkesan tidak paham dengan tanda yang ditunjukkan Shinouti. Para Excubitor itu melihat Shinouti tampak wajar, sebagaimana seorang prajurit sedang membetulkan sabuknya.

“Kalian sudah membuat saudariku ketakutan. Lihat, dia …,” ucap Shinouti sambil menunjuk ke arah Shirin yang tak sadarkan diri.

“Maaf, Tuan,” ucap salah seorang Excubitor. “Bukankah kami tidak melakukan apa pun pada saudara Tuan?”

“Kami hanya menjalankan perintah kaisar untuk mengawasi penduduk Mesir,” ucap Excubitor lain dengan wajah perus.

Lihat selengkapnya