Langit mulai gelap. Megaukes dan Hathib duduk berhadapan di ruang perjamuan utama—ruang yang disiapkan khusus bagi tamu-tamu kehormatan. Mereka duduk di kursi berlapis emas saling berhadapan, dipisahkan oleh meja berukuran besar sepanjang 4 mahe.[1] Hidangan Mesir tersaji tanpa berlebihan: daging panggang, roti pipih, buah-buahan segar yang disusun rapi.
Makalani sudah siap menjadi pengalih bahasa. Dia duduk di antara Megaukes dan Hathib. Sementara Shinouti berdiri tak jauh di belakang Megaukes. Di sisi ruangan, berdiri Maria, Shirin, Barirah, Potamiana serta beberapa pelayan lainnya. Mereka akan sangat sigap jika sewaktu-waktu Megaukes membutuhkan bantuan mereka.
Tak ada pengumuman resmi. Tak ada pidato pembuka. Acara jamuan malam dimulai dengan kesederhanaan yang penuh makna, seolah seluruh dunia berdiam dalam keheningan menanti momen indah ini. Tanpa banyak basa-basi, Megaukes menyambut Hathib dengan keramahan tulus seperti sebuah keluarga yang telah lama terpisah akhirnya dipertemukan kembali.
Jamuan makan malam kali ini membedakan dirinya dari acara-acara serupa yang pernah diadakan untuk tamu-tamu istana sebelumnya. Perlakuan Megaukes terhadap Hathib mencerminkan kehangatan dan kehormatan tiada tara, menjadikan pertemuan ini sebagai momen istimewa melebihi jamuan formal.
Megaukes dan Hathib saling bertukar senyum dan tatapan penuh makna. Kedekatan menyelimuti mereka dengan perasaan yang tidak asing, seolah mereka telah meniti jalan hidup bersama dalam perjalanan panjang. Megaukes berisyarat dengan membuka tangan kanan mempersilakan Hathib untuk mencicipi makanan yang terhidang di hadapannya. Hathib membalas dengan anggukan ringan.
Shinouti melihat tangan Megaukes bergeral membentuk tanda salib, menyentuh dahi, dada dan pundak kanan kiri dengan jari tengah tangan kanannya. Sambil menadah tangan, Megaukes mengucap doa syukur sebelum mulai menyantap makanan. Sementara Hathib menyebut asma Allah lalu mengambil makanan terdekat dan memakan dengan tangan kanan sebagaimana diajarkan oleh sang nabi. Tak ada yang terganggu oleh perbedaan itu.
Percakapan berlangsung ringan, tetapi penuh makna. Sesekali diselingi tawa ringan. Makalani menerjemahkan dengan cekatan, Namun, di balik kehangatan itu, ada sesuatu yang membuat Megaukes penasaran.
“Ceritakanlah tentang nabimu,” pinta Megaukeas akhirnya.
Nada suaranya tenang dan bersahabat. Segera, Makalani menerjemahkan ucapan Megaukes ke dalam bahasa Arab untuk Hathib. Begitupun sebaliknya saat Hathib selesai bicara, dia langsung menerjemahkannya untuk Megaukes.
“Ia adalah utusan Allah.”
“Konon,” lanjut Megaukes, “nabimu diusir oleh kaumnya sendiri.”
“Benar.”
Megaukes menatapnya lekat. “Lalu mengapa ia tidak memohon agar Tuhan membinasakan mereka yang mengusirnya?”