Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #27

Wajah Mesias - REVISED EDITION

Shinouti berjalan menuju ruang kamar terbaik yang ada di istana. Di belakangnya turut serta Maburi dan beberapa pelayan yang siap membantunya. Sementara, Hathib masih bersama Megaukes. Mereka melanjutkan berbincang usai jamuan makan beberapa saat lalu.

Maburi berjalan lebih cepat mendahului Shinouti. Beberapa langkah lagi di depan, mereka akan tiba di kamar yang akan digunakan Hathib untuk berisitirahat. Maburi membukakan pintu. Shinouti masuk. Empat pelayan lain dan Maburi membuntuti dari belakang.

Shinouti memeriksa sekeliling. Kamar itu luas, bersih, dan tenang. Mur yang dibakar sejak sore meninggalkan aroma pahit-manis yang menenangkan. Tirai beludru menggantung dari dipan besi beratap, alasnya empuk oleh bulu unggas, kenyamanan yang disediakan untuk tamu yang dihormati.

Pandangan Shinouti naik ke dinding. Matanya tertuju pada ikon Abraham, Mouses, Iakob. Lalu, ia mengeluarkan ikon kecil dari saku bajunya—santo yang namanya ia sandang—dan menciumnya perlahan. Nama itu diberikan ayahnya sebagai doa: agar ia bertumbuh dalam keteguhan seperti Abba Shinouti dari Atripe, kepala Biara Putih, penjaga iman pada masa genting.

Shinouti penasaran mengapa kali ini Megaukes memperlakukan tamunya lebih istimewa dibanding tamu-tamu sebelumnya. Bahkan, Megaukes pun menuruti satu permintaan sang tamu yang belum pernah diminta oleh tamu-tamu sebelumnya. Delegasi dari negeri Arabia itu meminta kamarnya bersih dari segala gambar. Termasuk gambar-gambar suci dari dinding kamar.

“Tuan, saya sangat berterima kasih telah diperlakukan dengan sangat baik,” ucap Hathib kepada Megaukes di meja makan beberapa saat sebelumnya. “Saya merasa seperti berada di rumah sendiri dengan dikelilingi kenyamanan dan kehangatan semua warga istana selayaknya keluarga sendiri.”

Megaukes tersenyum mendengar betapa jamuan yang ia sajikan begitu menyenangkan bagi tamunya.

“Namun, bolehkan Tuan menurunkan gambar-gambar di kamar?” lanjut Hathib meminta, “agar saya bisa beribadah lebih tenang?”

Hathib mengatakan pada Megaukes bahwa nabinya melarang itu. Sebab, sebagaimana yang diajarkan sang nabi, para malaikat tidak akan masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.

Sekilas, Hathib pun menceritakan kepada Megaukes tentang sebuah peristiwa terkait hal itu. Saat Jibril ingin menemui sang nabi, malaikat agung itu tidak bisa masuk rumah nabi sebab ada gambar pada tirainya.

Megaukes mengangguk setuju. Dia tahu bagaimana harus menghormati keyakinan orang lain yang berbeda dengannya. Meskipun sebenarnya tidak hanya Hathib, bahkan di antara umatnya sendiri ada yang menolak gambar-gambar seperti ini. Mereka dikenal sebagai ikonoklas. Mereka beralasan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan perintah dalam kitab suci: Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.[1]

Permintaan sang tamu itu terdengar sederhana. Namun, membuat hati Shinouti bergetar menahan amarah. Bagaimana mungkin Shinouti sudi menurunkan ikon-ikon suci yang sudah ada bahkan sebelum dia bertugas di istana itu?

Ia teringat tatapan Hathib saat pertama kali masuk kamar. Bukan benci, tetapi lebih seperti kehati-hatian. Mata Hathib menelusuri dinding, berhenti di tiap wajah kudus. Ia bertanya dengan bahasa yang santun, bukan untuk mencela, dan Shinouti menjawab sesuai pengetahuannya. Ia menjelaskan satu per satu. Bahwa gambar-gambar itu bukan untuk disembah. Bahwa mereka adalah jendela, bukan tujuan. Bahwa kemuliaan kembali kepada Tuhan yang memuliakan mereka.

“Gambar orang-orang kudus ini sejatinya untuk mengingatkan kita tentang mereka yang telah menyerahkan hidupnya kepada Tuhan. Agar ketika melihatnya, kita selalu mengingat orang-orang kudus ini dan memuliakan Tuhan yang memuliakan mereka,” jelas Shinouti dalam bahasa Arab yang sedikit-sedikit ia pelajari para saudagar Timur Tengah yang singgah di Aleksandria.

Hathib mendengarkan. Mengangguk. Menghormati keyakinannya.

Ketika Shinouti menunjuk ikon Iesous dan Mouses, Hathib menyebut nama yang sama, dengan bunyi berbeda. Pada kesempatan itu, Hathib menceritakan tentang rupa kedua utusan Tuhan itu, persis sebagaimana yang ia dengar dari Nabinya, ketika menjalankan perjalanan mistis, dari bumi menuju langit, Mikraj.

“Sang nabi melihat Iesous, laki-laki dengan kulit kemerahan, bertubuh tegap, berdada bidang. Tidak tinggi, tidak pula pendek. Rambutnya seakan basah, meski tak disentuh air,” ucap Hathib menjelaskan, “sosoknya, mirip ‘Urwah bin Mas’ud, sahabat kami.”

Shinouti menyimak. Untuk pertama kalinya, ia mendengar kisah para nabi dari mulut seorang asing dari tanah Arabia. Tanpa cela, tanpa ejekan, tanpa niat meruntuhkan keyakinannya.

“Sementara Mouses,” lanjut Hathib menceritakan sosok nabi besar yang makna namanya berarti diangkat dari air, nama yang diberikan oleh Putri Firaun, “tubuhnya kurus tinggi, seperti lelaki dari bani Syanu’ah, mereka yang berasal dari Habasyah.”

“Apakah itu malaikat Jibril?” tanya Hathib menunjuk gambar manusia bersayap.

“Iya benar, Tuan.”

Hathib membalas dengan cerita tentang Jibril. Tentang rupanya yang menyerupai seorang sahabat bernama Dihyah bin Khalifah al-Kalbi, yang saat ini mendapat tugas dari sang nabi untuk menyampaikan surat kepada Ieraklas, Kaisar Romawi Timur.

“Jadi sahabat-sahabat Tuan pun mendapat tugas mengantarkan surat kepada para penguasa lainnya?

Lihat selengkapnya