Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #28

Be-meod meod - REVISED EDITION

Pagi-pagi sekali Shinouti pergi menemui Makalani. Dia tahu, beberapa hari ke depan Makalani akan sangat sibuk menjadi penerjemah Megaukes. Fajar masih mengintip. Masih banyak kesempatan bagi Shinouti untuk bertemu dengan Makalani.

Entah mengapa, ada perasaan tak biasa di hati Shinouti saat dia menyusuri lorong istana menuju tempat Makalani. Air mata mendadak jatuh. Ia berhenti. Nafasnya bergetar. Bisikan syair dari bibir Shinouti yang bergetar membuat semakin deras air matanya. Keharuan merayapi dirinya.

Benarkah engkau telah datang?

Dari negeri Arabia kini sabdamu tiba di negeri Mouses

Sabdamu yang santun

Mengajak hati bersujud kepada Sang Maha Pengampun

Benarkah engkau yang datang setelah Iesous?

Benarkah hitungan gematria yang menyebut namamu di sana?

Duhai lelaki yang telah diramalkan Esaias dalam kitabnya

Duhai penunggang unta

Betapa tak sabar menunggumu tiba

***

Shinouti mengetuk pintu kamar Makalani. Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Makalani tampak terkejut melihatnya sepagi itu, sementara Shinouti membalas dengan senyum tipis, senyum seseorang yang datang membawa kegelisahan. Shinouti merasa beruntung sebab pagi ini bisa menemui juru tulis istana itu.

Makalani mempersilakan Shinouti masuk. Mereka duduk berhadapan di ruang kerja kecil yang dipenuhi papirus dan tinta.

“Ada apa, Tuan?” tanya Makalani. “Tak biasanya sepagi ini Tuan menemuiku. Apakah Megaukes memanggil lebih awal?”

Shinouti menatapnya lama dengan begitu serius sebelum bicara.

“Benar,” katanya pelan. “Dia mengaku sebagai nabi?”

“Bukankah Tuan turut mendengarnya di ruang Thronos?”

“Aku hanya ingin memastikannya saja, Makalani.”

“Demikian pengakuannya,” jawab Makalani sambil mengangguk. “Sebagaimana tertulis dalam surat yang kubacakan.”

“Siapa namanya?”

“Nabi itu?”

Shinouti mengangguk. Matanya memperhatikan gerak bibir Makalani saat dia menyebut nama sang nabi Arabia itu.

“Boleh kau ulangi sekali lagi dengan perlahan?” Sekali lagi Shinouti memastikan bahwa kata-kata yang terucap dari Makalani itu tidak salah.

Makalani mengulangi persis sebagaimana diminta Shinouti.

“Bisakah kau menuliskannya?”

Alis Makalani bertaut. Dia heran melihat Shinouti yang begitu menggebu dengan sosok yang mengaku sebagai nabi dari negeri Arabia.

“Kau masih ingat, kan?” tanya Shinouti memastikan.

Makalani mengangguk.

“Sebentar,” ucap Makalani seraya mengambil selembar papirus.

Makalani mencelupkan ujung penanya ke sebuah wadah berisi tinta. Ia menuliskan sebuah nama. Shinouti mengerutkan dahi. Kedua alisnya saling bertaut melihat aksara yang asing baginya.

Tak seperti biasanya, kali ini Makalani menuliskan sebuah kata dalam aksara Arab di atasnya dengan sangat hati-hati. Padahal, ini bukan kali pertama. Bahkan, dia sudah sering menulis surat perjanjian dagang dalam bahasa Arab bagi saudagar-saudagar yang melakukan transaksi jual beli di Pelabuhan Aleksandria.

Lihat selengkapnya