Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #29

Gamang - REVISED EDITION

Matahari telah tiga kali terbenam di Mesir sejak kedatangan utusan dari negeri Arabia. Ia tak bisa berlama-lama; perjalanan pulang menanti. Hari ini, Georgios putra Menas, Sang Megaukes, harus memberi jawaban atas ajakan kepada risalah yang dibawa Hathib.

 Sekali lagi dia membuka bejana kecil dari gading berisi pesan yang tertulis di atas perkamen dari Nabi Arabia. Megaukes ingin memastikan lagi bahwa surat yang dibawa Hathib itu benar dari sosok mulia dan berisi seruan kepada agama lurus penerus ajaran Sang Mesias. Entah apa lagi yang dibutuhkannya untuk percaya bahwa surat itu bukan sekadar pesan.

Xen Phran mphiot, nem Psyeri, nem Pi-pneuma Etouab, ounouti nouot. Amen,” ucap Megaukes dalam bahasa Koptik sebelum mendedah kotak yang ada di hadapannya seraya mengucap kalimat doa: dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, Tuhan Yang Esa, Amin.

Bejana gading pun terbuka. Aroma kesturi menyeruak. Perkamen itu terbaring rapi. Megaukes mengangkatnya dengan penuh takzim, menyusuri huruf-huruf yang berjajar dari kanan ke kiri. Pandangannya berakhir pada cap dengan tiga baris aksara Arab yang tersusun tegas.

Hati Megaukes mendadak bergetar, merasakan getar yang tak ia mengerti asalnya. Mata Megaukes berkaca-kaca. Air bening tergenang di kelopak meski tak sampai jatuh ke pipi. Lidahnya pun tiba-tiba kelu. Bukan karena ia memahami tulisan itu, ia tak menguasai aksara Arab. Namun, Ia masih mengingat makna surat itu saat dibacakan oleh Makalani beberapa hari lalu.

“Jika aku menerima tawaran dari Nabi Arabia itu, bagaimana dengan nasibku? Kaisar tentu akan mencopot jabatanku sebagai penguasa Aleksandria. Bahkan nasibku bisa jadi akan berakhir tragis.”

Megaukes bimbang. Ia menimbang keputusan yang akan berdampak bukan hanya bagi dirinya, melainkan juga bagi rakyat Mesir yang dipimpinnya.

Diskusinya dengan Hathib pada malam-malam sebelumnya semakin menguatkan keyakinannya bahwa lelaki yang diceritakan utusan itu memang seorang nabi. Meski awalnya ia sempat meragukan bahwa nabi terakhir itu berasal dari Arabia. Namun, dia teringat juga diskusinya yang kerap dilakukan bersama Abba Isaak beberapa waktu belakangan.

“Kita hidup pada zaman seorang nabi yang ciri-cirinya telah tertulis dalam Kitab Allah,” ucap Abba Isaak kala itu.

“Ya, saya pun merasakan hal demikian, Saudaraku,” sahut Megaukes penuh keseriusan. “Bilakah dia datang?”

“Menurut perhitungan dan tanda-tanda alam yang kupahami, mestinya nabi terakhir itu sudah datang, Tuan.”

Megaukes mengangguk lalu matanya tertuju pada wajah teduh Abba Isaak. Abba Isaak melihat kegelisahan pada paras Megaukes, seperti ada pertanyaan yang ingin segera ia ketahui jawabannya.

“Apakah ia berasal dari negeri yang telah melahirkan banyak nabi?”

Abba Isaak menggeleng. Megaukes makin penasaran dari negeri mana sebenarnya sang nabi terakhir berasal.

“Aku mengira ia akan muncul di Damaskus, di Syam,” sorot mata Megaukes menatap tajam Abba Isaak. “Sebab sebagian besar nabi-nabi sebelumnya berasal di sana.”

“Benar,” jawab Abba Isaak mantap. “Namun aku telah membaca berbagai kitab, dan menerima kabar dari sahabatku yang kini berada di negeri sang nabi terakhir.”

“Di mana itu?” Megaukes penasaran. Dipegangnya kedua bahu Abba Isaak.

“Nabi terakhir akan muncul dari negeri tandus,” kata Abba Isaak. “Tuan tentu mengenal kisah sumur Lahai-Roi.”

Megaukes mengangguk. Perlahan dia melepaskan kedua tangannya dari bahu Abba Isaak. Dia teringat tentang kisah kesusahan dan penderitaan Hagar yang tercatat pada Sefer Bereshit.[1] Tuhan mengirimkan malaikat-Nya untuk membantu Hagar. Kitab suci mencatat bahwa lokasi sumur Lahai-Roi itu terletak di antara Kadesh dan Bered. Pada masa-masa setelahnya, setiap tahun sumur itu menjadi lokasi ziarah orang-orang keturunan Ismael.

“Dalam bahasa Koptik, orang menyebutnya Zumi,” lanjut Abba Isaak. “Dalam Ibrani, Zamum. Dan di negeri itu, ia dikenal sebagai Zam-zam.”

“Zam-zam?” Megaukes mengulang perlahan.

Abba Isaak mengangguk, suaranya merendah, seolah tak ingin kata-katanya terdengar melewati dinding-dinding ruangan.

“Air itu bukan sekadar mata air,” katanya.

“Ia adalah tanda pemurnian. Sejak awal, Tuhan telah memilih seorang manusia dan membersihkan hatinya dengan cara yang tak diberikan kepada manusia lain.”

Megaukes menahan napas.

“Bahkan sebelum ia berdiri membawa risalah?” tanyanya pelan.

“Ya,” jawab Abba Isaak.

“Jauh sebelum manusia mengenalnya sebagai nabi, jantungnya telah disiapkan. Tidak oleh tangan manusia, melainkan oleh kehendak Langit.”

Abba Isaak terdiam sejenak, lalu menambahkan:

“Maka ketika ia datang kelak—atau ketika kita menyadari kedatangannya, ia bukan manusia yang dibentuk oleh dunia, tapi oleh Pemilik Semesta.”

Lihat selengkapnya