Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #22

Gematria - REVISED EDITION

Maria berguling ke kanan dan kiri di atas dipannya. Ia terlihat gelisah. Tiba-tiba, dengan mata masih terpejam, Maria berteriak lalu terbangun. Hati Maria gelisah mengingat mimpi yang baru saja dialaminya. Tubuhnya menggigil seperti ketakutan sementara dahinya berkeringat. Dengan gigi gemeretak, bibir gadis itu seolah ingin merapal sebuah nama yang masih terngiang-ngiang di benaknya.

“Mesuga … Mesuga … Mesuga …,” ucap Maria dengan suara nyaris tak terdengar.

Maria kaget ketika melihat Shirin telah berdiri di samping tempat tidurnya, dengan wajah kebingungan. Shirin mencoba menenangkan sang kakak yang tampak seperti baru saja melihat hantu. Napas Maria memburu dan tatapannya kosong. Entah apa yang ada dipikirannya.

“Mesuga … Mesuga … Mesuga ….”

Maria mengulang, menyebut lagi nama itu dengan pelan.

Shirin berdiri di sisi ranjang, wajahnya cemas. Nyala lilin di meja bergetar, memantulkan bayang-bayang yang bergerak pelan di dinding kamar.

“Apa yang terjadi?” tanya Shirin lembut. “Kau baik-baik saja?”

Maria tak segera menjawab. Tatapannya kosong, seolah sebagian dirinya masih tertinggal dalam mimpi. Napasnya perlahan mulai teratur, tetapi nama itu kembali keluar, lebih lirih.

“Mesuga …”

Shirin menelan ludah. “Siapa itu, Maria?”

 Maria mengatur napas. Ia masih berusaha memisahkan dunia nyata dan dunia mimpi.

“Aku bermimpi lagi,” katanya akhirnya. “Orang yang sama. Aku tak tahu mengapa dia selalu kembali.”

Nada suaranya rapuh, nyaris malu oleh kebingungannya sendiri.

Shirin menggenggam tangan kakaknya. “Hanya mimpi,” katanya menenangkan. “Kau terlalu lelah.”

Maria mencoba tersenyum, tetapi dia masih bingung. Maria tahu dia harus meminta bantuan seseorang untuk memahami arti dari mimpi-mimpinya itu.

***

Pada saat yang hampir bersamaan di ruangan berbeda, Shinouti duduk terpegun sendirian di kamarnya. Shinouti mengambil perkamen yang pernah diberikan Abba Isaak kepadanya. Dia menyimpannya pada sebuah kotak kayu. Kemarin, usai bebas dari para Excubitor di biara, Abba Isaak memberikannya kepada Shinouti. Diam-diam, Abba Isaak menyerahkan perkamen itu ke genggamannya sesaat sebelum meninggalkan biara, tanpa sepengetahuan para pelayan lain, termasuk Maria.

Shinouti duduk di kursi kayu sederhana. Perlahan dia mendedah kain penutup kotak kayu itu lalu membukanya. Ia menyentuh perkamen itu, kulitnya dingin, lebih berat dari papirus yang biasa ia pakai menulis. Lalu, meletakkan di atas meja.

Dia menatap tulisan tangan Abba Isaak memenuhi permukaan perkamen, rapi, dalam aksara Ibrani. Shinouti tak bisa membaca huruf-huruf itu. Ia mengingatnya. Potongan janji purba kepada Abraham, yang pernah dibacakan Abba Isaak dengan suara rendah, seolah takut dinding pun mendengar.

 

Shinouti masih menatap perkamen pemberian Abba Isaak. Sebuah potongan ayat dalam kitab Bereshit,[1] berisi tentang janji Tuhan kepada keturunan Abraham.

Ve hifreti ot'cha be-meod meod u-netatticha le goyim u-melachim mim-mecha yetzeu. Aku akan membuatmu sangat subur, dan membuat bangsa-bangsa darimu dan raja-raja akan turun darimu.

Kenangan itu Kembali, sebuah sore di biara, ketika Abba Isaak memperkenalkannya pada dunia angka dan huruf. Gematria, sebuah teknik numerologi Yahudi yang mengaitkan nilai numerik pada huruf-huruf Ibrani. Seperti sebuah teka-teki yang rumit, membuat kepalanya serasa mau pecah.

Lihat selengkapnya