Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #23

Kabar Duka - REVISED EDITION

Cuaca siang itu kering dan membakar. Matahari menggantung rendah di langit, memukul kulit tanpa ampun. Orang-orang bergerak cepat di jalanan, berlindung di balik kain penutup kepala atau bayang-bayang bangunan. Jalan-jalan kota berdenyut oleh langkah cepat dan teriakan pedagang. Rempah, keringat, dan debu bercampur di udara. Bahasa-bahasa saling bersilang, membentuk hiruk-pikuk yang terasa seperti dengung panjang.

Shinouti menembus keramaian itu dengan kuda yang dipacunya tanpa ragu. Ia baru kembali dari biara. Tangannya gemetar di tali kekang. Suara-suara memanggil namanya tak ia dengar—atau tak ingin ia dengar. Hari itu ia tak menoleh, tak menyapa. Hatinya sedang kacau. Ia hanya ingin segera sampai ke istana.

Tak berapa lama, Shinouti memasuki gerbang istana. Satu persatu kakinya dilepaskan dari sanggurdi lalu turun dari punggung kuda. Shinouti mengikat tali kudanya pada sebuah tiang di dekat kendang. Ada sesuatu pada cara Shinouti berjalan—terlalu lambat, terlalu berat. Maburi yang sedang duduk beristirahat di bawah pohon rindang dekat kandang usai memberi pakan kuda-kuda istana segera bangkit menghampiri Shinouti.

“Demi Salib Kristus yang suci,” ucap Maburi cemas sambil menyentuh bahu Shinouti, “apa yang sudah terjadi, Shinouti?”

Shinouti menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak. Kata-kata menumpuk di tenggorokan, saling menahan. Ia memejamkan mata.

“Demi Perawan Suci Maria…,” gumam Shinouti, lalu terdiam.

“Abba Isaak?” Maburi bertanya hati-hati.

Shinouti tak segera menjawab. Ia menunduk. Matanya terpejam sejenak sebelum akhirnya terangkat kembali. Maria, yang sejak pagi memperhatikan kegelisahan itu, mendekat.

“Ada apa dengan Abba?” tanya Maria pelan.

Shinouti menunduk. Air mata jatuh, cepat diseka, seolah malu. Bibirnya bergetar, tapi suara tak keluar.

“Bukankah kemarin Abba sudah membaik?” lanjut Maria, nyaris berbisik.

Shinouti menggeleng. Maburi tampak tegang. Dari raut wajah Shinouti, Maburi merasakan akan ada hal buruk yang akan dia dengar.

“Sekira empat hote[1] sebelum tiba di biara, aku terpaksa menghentikan laju kudaku,” ucap Shinouti dengan suara serak.

“Lalu apa yang sebenarnya sudah terjadi?” Maria semakin cemas.

Maburi menariknya duduk di bawah pohon. Maria ikut duduk di samping mereka. Shinouti menoleh sekilas, memastikan tak ada telinga lain yang menguping. Tangannya mengepal sebelum akhirnya ia bicara.

“Kalian ingat kisah Santo Markos,” ucapnya akhirnya. Suaranya parau. “Tentang bagaimana ia mati.”

Maria dan Maburi mengangguk. Tak satu pun orang Mesir yang tak mengenal kisah itu, kisah seorang rasul yang diseret, dilukai, dan tetap memuji Tuhan sampai napas terakhirnya. Maria dan Maburi menatap wajah Shinouti. Terlihat matanya itu berkaca-kaca.

Lihat selengkapnya