Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #30

Pere Adam - REVISED EDITION

Suasana menjadi haru. Isak tertahan terdengar dari barisan pelayan wanita. Kecuali Maria, ia berdiri tenang, seolah telah lebih dulu menerima apa pun yang akan datang. Baginya, segala yang terjadi adalah takdir yang telah digariskan Tuhan. Takdir tak pernah keliru; ia hanya menuntun hamba-Nya untuk lebih dekat kepada-Nya.

“Tentu kalian bertanya-tanya,” ucap Megaukes sambil memandang mereka satu per satu, “apa yang melatarbelakangi keputusan yang baru saja kusampaikan.”

“Tuan,” Shinouti melangkah setapak ke depan, menundukkan tubuhnya penuh hormat.

“Ya, Shinouti.”

“Apakah keputusan ini berkaitan dengan tamu dari negeri Arabia itu?”

“Hathib?” tanya Maburi lirih.

Shinouti mengangguk. Maburi mengerutkan kening. Keterkaitan antara kedatangan Hathib dan perubahan jabatan Maria masih belum ia pahami. Megaukes menarik napas pelan, lalu mengangguk.

“Wahai para pelayan,” seru Megaukes lembut, “Potamiana, Barirah, Shirin … tenangkan diri kalian.”

Maria merangkul adiknya dan sahabat-sahabatnya. Beberapa saat berlalu, isak mereda. Mereka kembali ke tempat semula. Megaukes melanjutkan.

“Kalian tentu tahu, sejak beberapa hari ini istana menerima surat dari Nabi Arabia. Kalian juga tahu sejarah Mesir, kekerasan yang telah berlangsung ratusan tahun. Hingga hari ini, kebijakan kaisar tetap keras, terutama terhadap kaum Koptik.”

Maria menyimak. Ia belum mengerti ke mana arah ucapan itu. Namun, dadanya bergemuruh. Ada firasat yang enggan ia ucap.

“Aku ingin negeri ini aman,” lanjut Megaukes. “Koptik dan non-Koptik hidup berdampingan. Kalsedon dan non-Kalsedon rukun dalam perbedaan. Namun kemampuanku terbatas.”

Tatapan Megaukes menyapu wajah-wajah di hadapannya. Berat terasa di dadanya untuk mengungkapkan sesuatu yang mungkin akan membuat mereka kecewa. Megaukes menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.

“Aku tak sanggup menyelamatkan semua orang. Yang bisa kulakukan hanyalah hal kecil yang ada di depan mata.”

Megaukes berusaha tersenyum meski terasa berat.

“Seperti Shinouti yang menjaga orang teristimewa di hatinya, aku pun demikian. Nabi dari Arabia itu begitu istimewa. Surat yang dibawa Hathib dari Nabi Arabia ke istana tentu sudah menjadi salah satu takdir Tuhan. Surat dari manusia terbaik di negerinya. Tentu, hal-hal terbaik itu harus dibalas dengan cara yang terbaik pula. Shinouti ….”

“Siap, Tuan,” ucap Shinouti dengan sigap.

“Siapkanlah hadiah untuk Nabi Arabia itu. Pilihkan yang terbaik dari yang paling baik.

“Baik, Tuan.”

Lalu, Megaukes menyebutkan beberapa barang yang harus disiapkan oleh Shinouti.

“Siapkanlah seribu kantong emas. Dua puluh kain tenun lembut khas Mesir. Kayu gaharu, minyak kesturi dan berbagai wewangian,” ucap Megaukes sambil menatap tajam ke arah Shinouti.

“Baik, Tuan.”

“Dan kau, Mina.”

“Ya, Tuanku.”

“Persiapkanlah obat-obatan dan madu terbaik dari negeri Mesir.”

“Baik, Tuanku.”

Kali ini, tatapan Megaukes tertuju pada Maburi. Lelaki tua kerabat Maria dan Shirin itu menarik napasnya lalu menyimak ucapan Megaukes.

“Maburi.”

“Ya, Tuanku.”

“Aku tahu engkau telah merawat hewan-hewan di istana ini dengan baik. Aku yakin kau tahu mana di antara mereka yang memiliki kualitas terbaik. Aku serahkan kepadamu, Maburi, untuk memilih hewan terbaik yang ada di istana sebagai kendaraan atau tunggangan.”

Lihat selengkapnya