Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #35

Bertemu Rasul - REVISED EDITION

Madinah, 628 Masehi/ 6 Hijriah

Perjalanan panjang itu akhirnya berujung. Rombongan Shinouti memasuki Madinah di bawah matahari yang tenang. Sejak melihat Hathib dari kejauhan, penduduk kota itu berbondong-bondong menyambut. Kerumunan kian rapat hingga langkah mereka melambat.

“Saudaraku, beri jalan untuk Hathib dan rombongannya,” suara seorang lelaki Madinah terdengar dari tengah kerumunan. Tubuhnya tinggi, janggutnya lebat, uban mulai merambat di sela-selanya.

Seorang lelaki lain berlari lebih dulu ke arah rumah Nabi, membawa kabar kedatangan mereka. Hathib tak menunda. Ia dan rombongan dari Aleksandria bergerak menuju rumah itu, rumah yang tak pernah kehilangan cahaya meski dindingnya sederhana.

Asma Allah menggema di sepanjang jalan. Hamdalah terucap dari banyak lisan. Penduduk Madinah bersyukur atas keselamatan Hathib, juga terpukau oleh hadiah-hadiah dari Mesir: kain-kain halus, perhiasan, dan unta-unta yang membawa beban berkilau.

Namun perhatian para wanita Madinah tertambat pada rombongan wanita di belakang. Seorang di antaranya berpakaian putih, berwajah teduh, mencuri perhatian lebih banyak mata.

“Masya Allah,” bisik seorang wanita, menyikut sahabatnya.

“Cantik sekali.”

“Kau lihat yang berbaju putih?”

“Yang rambutnya ikal?”

“Iya… dia anggun.”

“Lihat, dia sedang menatap ke arah kita,” bisik salah seorang dari mereka dengan nada bersemangat.

Maria menangkap lirikan itu. Ia membalas dengan senyum singkat, nyaris ragu. Dua wanita Madinah itu saling berpandangan, wajah mereka seketika berseri.

“Masya Allah... senyumnya manis sekali,” bisik salah seorang wanita itu dengan nada kagum, tangannya mencengkeram lengan sahabatnya seolah tak ingin momen ini berlalu begitu saja.

“Menurutmu, berapa usianya?”

Sahabatnya merenung sejenak, matanya mengamati lebih saksama sosok Maria yang kini membantu Hathib mengatur barang-barang bawaan. “Hmm, aku rasa... mungkin dia lebih muda dari Ummu Salamah, tapi lebih tua dari Aisyah.”

“Jadi, sekitar usia Hafsah, mungkin?” tebak sahabatnya dengan penuh rasa ingin tahu.

“Kurasa begitu. Tapi... kau lihat bagaimana keteduhan wajahnya? Seperti ada sesuatu yang berbeda darinya,” jawabnya pelan, pandangannya tak lepas dari Maria.

Percakapan mereka terhenti sejenak ketika seorang lelaki dari rombongan menyeru nama Maria. Nama itu membuat mereka saling berpandangan.

“Maria,” ulang salah satu wanita Madinah itu, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar. “Dia yang Hathib bawa dari Mesir?”

Sahabatnya mengangguk pelan. “Iya. Aku dengar dia seorang Qibtiyah. Kau tahu, bangsa yang terkenal dengan kecantikan dan keanggunan.”

“Masya Allah,” gumamnya lirih, kali ini dengan nada yang lebih lembut, “Betapa beruntungnya dia jika kelak menjadi bagian dari rumah tangga Rasulullah.”

***

Maria turun dari tunggangannya lalu melangkah dengan hati-hati di tanah yang baru. Hari pertama hidup di Madinah. Segala sesuatu di sekitarnya terasa sangat asing meski ia disambut dengan hangat.

Wanita-wanita Madinah mengelilinginya, seperti kupu-kupu tengah berdansa di sekitar bunga yang baru mekar. Bisik-bisik mereka lembut terlontar di udara, merayap ke telinga Maria. Memuji-muji kecantikan gadis Mesir yang kini berada di tengah-tengah mereka.

Maria, dengan kepolosan di matanya, menerima hangatnya sambutan tanpa kecanggungan. Wanita-wanita Madinah melayangkan pandangan kagum pada paras jelita sang gadis Mesir, seperti melihat lukisan indah. Maria bersiap merajut kisah baru di kota Madinah.

Hathib dan rombongan menginjakkan kaki di pelataran rumah yang suci, rumah sang nabi. Mereka berdiri dengan penuh pengharapan, membawa serta hadiah-hadiah dari Mesir. Berbagai barang berharga diturunkan dari punggung unta, keledai, dan kuda, disusun dengan cermat dan penuh kerendahan hati di atas tanah.

Pintu rumah itu terbuka perlahan. Seorang wanita Madinah refleks merapatkan khimarnya. Ia tak sendirian. Di sekelilingnya, beberapa wanita lain ikut menunduk, seolah gerak kecil itu cukup untuk mengingatkan adab.

“Itu beliau,” bisik seseorang.

Lihat selengkapnya