Rombongan Shinouti kembali melanjutkan perjalanan saat matahari mulai menampakkan cahayanya di kaki langit. Dari tempatnya berdiri, Shinouti memastikan satu per satu kemah telah dibongkar rapi. Tak ada yang tertinggal. Tak ada hadiah dari Megaukes yang luput dari hitungannya. Ia menelusuri muatan dengan mata terlatih. Emas, kain, perbekalan, semuanya aman.
Di kejauhan, ia melihat Maria, Shirin, dan Barirah mengemasi barang-barang mereka. Gerak mereka tenang. Maburi dan Mina menimbun sisa api unggun semalam dengan pasir. Bara terakhir dipadamkan. Malam benar-benar ditutup. Perjalanan pun harus dibuka kembali.
Shinouti naik ke kudanya. Dari posisi itu, pandangannya mudah menjangkau punggung unta yang membawa ketiga gadis Koptik itu. Wajah-wajah mereka tidak menangis, tetapi justru itu yang membuat dadanya terasa lebih berat. Kesedihan mereka terjaga rapi, seolah tidak ingin tumpah di hadapan siapa pun.
Suara Maria terdengar pelan, tertiup angin pagi. Shinouti tidak bermaksud mendengar, tetapi kata-kata itu sampai juga ke telinganya.
“Aku tahu ini berat bagi kita,” ucap Maria sambil menggenggam tangan Shirin dan Barirah. “Tapi aku percaya, Tuhan tidak membawa kita sejauh ini tanpa menyiapkan tempat terbaik di depan sana.”
Shinouti menegang sejenak. Kalimat itu sederhana. Namun, ada keteguhan di sana. Ia bertanya dalam diam, dari mana gadis itu mendapatkan ketenangan semacam itu, sementara dirinya sendiri masih harus belajar berdiri tegak di antara tugas dan perasaan.
Shirin dan Barirah hanya mengangguk. Tidak ada jawaban. Tidak ada bantahan. Shinouti memahami bahasa itu: ketika hati terlalu penuh kesesakan, kata-kata justru menjadi beban.
Rombongan bergerak perlahan. Di sepanjang jalan, Shinouti mendengar lantunan zikir Hathib, suara rendah, tertahan, seperti seseorang yang berjalan sambil memikul amanah besar.
***
Di sebuah oase, di bawah naungan pohon akasia yang rindang, rombongan berhenti. Shinouti mengendurkan tali kudanya, lalu menoleh ke mata air yang berkilau memantulkan cahaya terik yang membakar. Mereka hanya singgah sebentar. Kantong-kantong diisi. Wajah dibasuh. Napas ditata ulang sebelum melanjutkan perjalanan hingga malam.
Dari tempatnya berdiri, Shinouti melihat Hathib memandang ketiga gadis Koptik itu. Tatapan lelaki Arabia itu tenang, tidak memaksa, seolah ingin hadir tanpa mengganggu duka yang belum reda.
“Airnya dingin,” ucap Mina pelan, sekadar memecah sunyi.
Shinouti mengangguk singkat. Matanya kembali pada Maria, Shirin, dan Barirah. Duka masih melekat di wajah mereka, bukan duka yang meraung-raung, melainkan yang hening dan berat.
Hathib mendekat setelah semua selesai mengisi kantong air. Ia menunggu sampai suasana cukup tenang.
“Wahai gadis-gadis Koptik,” ucapnya lembut, suaranya tidak lebih tinggi dari desir angin di antara daun akasia. “Jika kalian berkenan, izinkan aku berbagi sebuah kisah. Bukan untuk menghibur, tapi untuk menemani perjalanan ini.”
Maria menoleh. Ada keraguan yang sopan di matanya. Namun, juga rasa ingin tahu yang tulus. Shirin dan Barirah saling pandang, lalu tersenyum kecil, seperti persetujuan tanpa suara.
Hathib duduk di atas batu datar, tidak lebih tinggi dari mereka.
“Aku akan bercerita tentang Mekah… dan Madinah.”
Shinouti ikut duduk, sedikit ke samping. Ia berjaga, tapi juga turut mendengar.
Hathib bertutur perlahan. Tentang kota yang gersang, tapi subur dengan keimanan pada Tuhan. Tentang Madinah yang menjadi tempat bernaung, bukan karena temboknya, tetapi karena hati orang-orangnya. Tidak ada nada menggurui. Tidak ada ajakan. Hanya kisah yang dibiarkan mengalir sebagaimana adanya.
Beberapa istilah membuat Shirin mengernyit. Shinouti segera mencondongkan tubuh.
“Maksudnya…” bisiknya dalam bahasa Koptik, menjelaskan singkat, secukupnya.
“Beliau memasuki Madinah pada hari Senin,” lanjut Hathib. Suaranya menghangat. Matanya berbinar, seolah peristiwa itu kembali hidup di hadapannya.
“Dengan menunggang unta?” tanya Shinouti spontan, seolah menebak.
Hathib tersenyum kecil. “Engkau mengenal kebiasaan kami rupanya.”