Perjalanan telah memasuki hari-hari yang tak lagi dihitung. Gurun menghapus angka, hanya menyisakan langkah. Dari Aleksandria, menyeberangi Sinai, kini mereka singgah di Ayla, kota kecil di tepi teluk, tempat kafilah bertemu sebelum berpisah lagi menuju jalur masing-masing. Setelah ini menuju Yathrib, yang kini orang-orang menyebutnya Madinah.
Pasar Ayla berdenyut seperti nadi terbuka. Debu berputar di udara panas, membawa aroma kapur barus, cendana, damar, dan rempah-rempah. Teriakan pedagang bersahutan, bercampur ucapan dari banyak negeri yang tak semuanya dikenali Shinouti. Arab, Suriah, Mesir, Persia dan lidah-lidah asing dari seberang laut.
Shinouti berjalan perlahan di antara tenda-tenda. Matanya tetap waspada pada rombongan, Maria, Shirin, Barirah. Namun, telinganya menangkap kisah-kisah yang beterbangan seperti pasir. Dunia terasa lebih luas di sini, seolah gurun ini membuka pintu ke segala arah.
Mereka berhenti di sebuah oasis kecil di tepi pasar. Unta-unta ditambatkan. Mina dan Maburi mengatur perbekalan, cekatan seperti biasa. Dari tempatnya berdiri, perhatian Shinouti tertarik pada dua lelaki asing di seberang tenda.
Kulit mereka sawo matang. Rambut hitam, satu terurai sebahu, satu digelung sederhana. Pakaian mereka ringan, kain tenun tipis dengan selendang di bahu. Bahasa yang mereka gunakan tidak menyerupai Arab maupun Persia, penuh bunyi panjang, sengau, seperti doa yang dinyanyikan.
Di samping mereka berdiri seorang pemuda bertubuh ramping, sorot matanya cerdas.
“Apakah Tuan memerlukan penerjemah?” sapa lelaki berkulit gelap, berjanggut tipis dan bermata teduh dalam bahasa Yunani patah-patah.
Shinouti menoleh, sedikit terkejut. “Kau berbicara Yunani?”
“Sedikit,” jawabnya sambil tersenyum. “Namaku Bhadraka. Aku dari Bharuch, pelabuhan di barat India.”
“Bharuch…,” gumam Shinouti pelan, mencoba mengingat gulungan peta dagang yang pernah ia baca di perpustakaan istana Aleksandria. “Itu pelabuhan di tepi lautan besar, bukan? Tempat kapal-kapal singgah sebelum berlayar ke Arabia dan Mesir?”
Bhadraka mengangguk. “Kami membawa kapur barus, cendana, dan gading. Kadang kami berlayar begitu jauh sampai bahasa berubah setiap tiga hari.”
Ia menunjuk dua lelaki di sampingnya. “Yang ini dari Taruma. Yang itu dari Kutai, di timur jauh.”
Pedagang-pedagang itu menunduk sopan. Salah satu dari mereka membuka kantong kecil, menaburkan serbuk putih harum. Kapur barus. Aromanya tajam, menancap di hidung.
“Dari hutan negeri kami,” kata Bhadraka menerjemahkan. “Untuk raja. Untuk orang mati. Agar tubuh tak cepat rusak.”
Mina mendekat, matanya berbinar kagum. “Negeri-negeri kalian pasti kaya.”
Para pedagang itu hanya terdiam. Tak mengerti bahasa Mesir yang diucapkan Mina. Sementara, Shinouti, ia memandang kedua pedagang itu lebih saksama, wajah-wajah yang jauh dari gurun, jauh dari Mesir. Di depan tenda mereka, sebuah tembikar diletakkan. Shinouti berjongkok. Pada permukaannya terukir garis-garis lengkung.
“Apa artinya?” tanyanya.
Bhadraka menerjemahkan. Pedagang itu menjawabnya.
“Bukan hiasan,” kata Bhadraka pelan. “Itu peringatan.”
“Peringatan tentang apa?”
Bhadraka kembali bertanya. Pedagang itu menggerakkan tangannya, menggambar garis di udara—naik, lalu turun, lalu menutup seperti pintu.
“Air,” kata Bhadraka pelan. “Tentang dunia yang pernah ditutup oleh air.”
Shinouti tidak langsung bereaksi. Ia memandang kembali ukiran itu. Ingatannya bergerak ke ruang-ruang sunyi biara, ke Abba Isaak yang membaca dengan suara rendah tentang bumi yang rusak, tentang air yang datang bukan sebagai berkah, melainkan hukuman kepada yang ingkar kepada Tuhan.
“Apakah itu kisah lama?” tanyanya lagi.