Madah Rindu Maria

Hadis Mevlana
Chapter #8

Surat Tuma - REVISED EDITION

Mereka tiba di Biara Kanopos saat matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menyapu dinding batu kapur yang telah memudar oleh waktu. Bangunan tua itu berdiri dengan megah, mencerminkan perpaduan arsitektur Koptik awal dan Romawi, terutama pada kubahnya yang melengkung anggun di atas tambour berbentuk persegi. Pilar-pilar batu menopang lengkungan besar yang menghubungkan satu bagian dengan bagian lain, menciptakan kesan kokoh, penuh wibawa, sekaligus sakral.

Maria melangkah memasuki halaman Biara Kanopos. Halamannya luas, sebagian digunakan sebagai kebun kecil yang ditanami anggur dan tanaman obat. Di sudut yang lebih teduh, terdapat sebuah sumur tua dengan bibir batu yang mulai aus oleh waktu. Airnya jernih, mengalir dari cabang-cabang Sungai Nil, memberi kehidupan bagi komunitas kecil yang tinggal di dalam biara.

Maria berjalan dengan langkah perlahan, kedua tangannya merapat di depan, jemarinya saling menggenggam lembut, entah karena udara yang mulai dingin atau karena kegelisahan yang ia sembunyikan dalam diam. Lorong-lorong biara menyambutnya dengan pilar-pilar kokoh dari batu basal hitam, selaras dengan lantainya, menciptakan kontras yang tegas dengan dinding-dinding kapur yang mulai memudar. Setiap jejak langkahnya menggema samar, menyatu dengan keheningan yang menyelimuti tempat itu. Udara bercampur aroma dupa, menguar lembut bersama hembusan angin laut yang menyelinap dari celah-celah jendela tinggi. Cahaya matahari menembus kisi-kisi jendela, menyinari butiran debu yang melayang-layang di udara, seolah membentuk lapisan kabut tipis yang bergerak mengikuti embusan napas ruangan.

Maria menatap sekeliling lalu mendongak seraya menatap kubah biara yang berdiri kokoh di atas tambour berbentuk persegi. Arsitektur Romawi yang khas terasa dalam lengkungan-lengkungannya. Relief dan lukisan-lukisan religius menghiasi permukaannya—kisah-kisah yang diambil dari Kitab Suci, terukir dengan teliti, seolah menjadi saksi atas doa-doa yang pernah terucap di tempat ini.

Di sudut ruangan, seorang biarawan tua sedang menyalakan lilin di depan altar kecil. Nyala api bergetar lembut, memantulkan cahaya hangat pada wajahnya yang penuh ketenangan. Maria menarik napas dalam, merasakan getar halus dalam dadanya. Ada sesuatu tentang tempat ini—sejarah yang terukir di setiap batu, doa-doa yang terpatri dalam sunyi—yang membuatnya sejenak kehilangan kata-kata. Hatinya terasa tenggelam dalam keheningan suci yang menyelimuti tempat ini. 

Bagi Maria, biara ini bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah warisan dari para pendahulu, berdiri dalam semangat iman apostolik yang diwariskan melalui risalah para guru awal Gerejam, seperti Clement dari Aleksandria dan Origenes. Setiap sudutnya adalah bukti keteguhan iman yang telah melewati abad demi abad. 

Maria berjalan menuju serambi, tempat Abba Isaak biasanya menyampaikan kisah-kisah penuh hikmah. Biasanya lelaki itu ada di sana sejak matahari sepenggalan hingga tepat di atas kepala. Sementara Shirin masih menemani Shinouti mengikat tali kekang kereta kudanya di halaman biara, memastikan semuanya terpasang dengan aman.

Di serambi yang sejuk itu, Maria ingat bagaimana Abba Isaak bercerita tentang cinta Adam dan Hawa yang tak lekang oleh waktu, tentang Mouses yang membelah Laut Merah dengan izin Tuhan, tentang Ioseph yang bertahan dalam cobaan, hingga kisah Abraham yang tak terbakar api. Setiap cerita memiliki pelajaran yang mendalam, menggugah hati, dan menguatkan iman. Namun, siang itu berbeda. Kali ini, bukan kisah para nabi yang biasa ia dengar.

Abba Isaak menatap mereka satu per satu, matanya menyimpan makna yang sulit diterjemahkan. Angin sore bertiup lembut, menggoyangkan nyala lampu minyak di sudut ruangan. Maria, Shirin, dan Shinouti duduk bersila di lantai batu yang dingin, tubuh mereka condong ke depan, tertarik oleh keseriusan yang tergambar di wajah sang Abba.

“Maria, Shirin, Shinouti…,” suara Abba Isaak waktu itu memecah lamunan mereka. Wajahnya tampak lebih serius dari biasanya, ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

Shinouti, yang duduk paling dekat, menatap tajam wajah tua itu.

“Abba, wajahmu tampak berbeda hari ini. Apakah ada sesuatu yang mengusik hatimu?” tanya Shinouti pelan namun penuh perhatian.

Abba Isaak menarik napas panjang, menautkan jemarinya di atas lutut, lalu mengangguk pelan.

“Semalam aku bermimpi bertemu dengan seorang sahabat lamaku yang kini tinggal di Arabia. Seorang pedagang saleh bernama Tuma. Sudah lama aku tak mendengar kabarnya. Namun, sebelum mimpi itu datang, aku menerima sepucuk surat darinya.”

Maria dan Shirin bertukar pandang. Nama itu terdengar asing bagi mereka. Namun, cara Abba Isaak menyebutnya membuat mereka tak bisa mengabaikannya. Maria mengeratkan jemarinya di pangkuan. “Apa yang dikatakan Tuma dalam suratnya, Abba?” tanya Maria lirih penuh rasa ingin tahu.

Abba Isaak mengambil gulungan surat yang mulai menguning. Jari-jarinya yang renta membelai lembut kertas itu, seolah menyentuh kenangan berharga. Ia membuka surat itu perlahan dan mulai membacakan isinya.

“Tuma menulis,” ucapnya, “bahwa ia baru saja berkunjung ke rumah seorang lelaki tua yang bijak di Mekah, Waraqah bin Naufal namanya. Seorang alim yang telah buta, namun penglihatannya terhadap kebenaran justru lebih tajam dari siapa pun. Waraqah adalah seorang yang menguasai Taurat dan Injil, serta menuliskannya dalam bahasa Arab.”

Maria menunduk sedikit, menyimak setiap kata seolah takut kehilangan satu huruf pun. Shirin menggigit bibirnya, menahan rasa ingin tahu.

“Apa yang dikatakannya, Abba?” tanya Maria lembut.

Abba Isaak menutup surat itu sesaat, lalu menatap mereka satu per satu.

“Ia berbicara tentang suami dari Khadijah, keponakannya.”

Lihat selengkapnya