Bel rumah berbunyi, Embun yang sedang bersiap pergi ke toko kuenya segera melesat ke depan melihat siapa yang berkunjung pagi-pagi. Embun membuka pintu dan nampaklah bu Inggrid yang merupakan ibu mertuanya. Embun mempersilakan bu Inggrid masu, lalu membuatkan beliau minuman.
"Bagaimana kabar kamu, Nak?" tanya bu Inggrid setelah Embun meletakkan minuman untuknya.
"Alhamdulillah baik, Ma," jawab Embun sambil mendaratkan bokong di sofa.
Bu Inggrid menyesap teh hangat buatan sang menantu, wanita paruh baya itu memang menyukai teh buatan Embun yang tidak terlalu manis dan pas di lidahnya.
"Apa Lintang sudah bicara sama kamu?" Bu Inggrid meletakkan cangkir teh
"Bicara apa, ya, Ma?" Embun terlihat bingung.
"Masalah pernikahan Lintang yang akan dilaksanakan minggu depan. Apa kamu sudah tau?" tukas bu Inggrid, seketika membuat tulang-tulang Embun serasa remuk, tidak kuat menopang bobot tubuhnya sendiri. Mata Embun berkaca-kaca, semalam Lintang meminta izin untuk menikah lagi, belum juga dirinya menjawab ternyata pernikahan sudah direncanakan. Rasa sakit dan luka yang semalam belum sempat kering. Namun, kembali ditoreh lagi dengan luka yang baru.
"Se-secepat itu, Ma?" Bibir Embun bergetar dan matanya berkaca-kaca.
"Iya. Mama harap kamu mengerti dan mau menerima karena Lintang adalah anak satu-satunya keluarga Svarga. Kami ingin keturunan darinya. Mama dan papa sudah menjodohkan Lintang dengan anak teman papa." Bu Inggrid kembali menyeruput teh buatan Embun dengan menahan perasaannya
Embun bergeming, tenggorokannya tercekat, air matanya lolos begitu saja karena merasa sangat hancur. Bu Inggrid melihat air mata kepedihan itu, beliau mengerti perasaan sang menantu, wanita mana yang rela suaminya menikah lagi. Dia sendiri menyayangi Embun, tapi dia juga menginginkan cucu dari anak semata wayangnya itu.
"Maafkan kami, Embun. Ini pasti menyakitkan untuk kamu, tapi mama berharap kamu bisa menerima dengan lapang dada. Memang tidak mudah, tapi mama yakin kamu bisa, kamu wanita yang kuat."
"Kamu tidak usah khawatir, kami tidak akan membeda-bedakan kamu dan istri Lintang, kalian berdua menantu kami," tambah bu Inggrid. Dalam hati Embun menolak percaya, sedikit banyak pasti ada perbedaan. Bukan tidak mungkin dirinya akan tersisih.
"Mama tidak akan memaksa kamu untuk bertahan dengan Lintang jika kamu tidak sanggup, tapi kembali lagi semua keputusan ada di tangan kalian berdua. Kamu harus tau, Lintang sangat mencintai kamu," lanjut bu Inggrid lagi sambil menatap Embun dengan
"Aku inginnya pisah saja dari Mas Lintang, tapi dia gak mau menceraikan aku, sungguh ini lebih sakit daripada yang dilakukan Eros dulu," batin Embun sambil menyeka air mata yang tidak ingin berhenti keluar dengan tisu.
Bu Inggrid memeluk Embun yang belum berhenti terisak, merasa kasihan akan nasib sang menantu, tapi keinginannya dan suami jauh lebih besar. Embun tidak lagi merasakan hangat dalam pelukan wanita paruh baya itu, dirinya merasa seperti memeluk pohon berduri.
Seminggu kemudian … Embun membantu Lintang memasangkan jas selaku mempelai pria dari pengantin wanita lain. Dadanya sesak, dengan tangan bergetar Embun mengancingkan jas sang suami.