Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #3

Bab 3 | Malam Dingin

Tuhan, lapangkan dadaku untuk menerima semua ini, ikhlaskan hatiku dan kuatkan aku," ucap Embun lirih disertai deraian air mata. Embun memukul-mukul dada karena rasa sakit semakin menguasai jiwa.


Hari ini adalah hari bahagia bagi semua orang terlebih bagi keluarga Svarga, tetapi tidak dengan Embun. Baginya hari ini adalah hari dimana kepedihan hidupnya dimulai. Akan ada banyak drama menyakitkan kedepannya, belum menapaki jalan itu saja rasanya dia ingin menyerah. Membayangkannya saja dia sudah tidak sanggup.


Cukup lama Embun menangis.Akhirnya, Embun keluar juga dari kamar kecil dan tidak ingin kembali ke ballroom. Hatinya tidak cukup kuat menerima kenyataan ini. Di wastafel, tidak sengaja Embun berpapasan dengan istri Eros. Jenar menatap sinis sambil tertawa kecil mengejek Embun.


"Sayang, kamu kok aktif sekali. Perut Mama sampe sakit kamu tendang-tendang." Jenar mengelus perutnya sambil melirik Embun lewat ekor mata. Embun berusaha mengabaikan rasa iri yang merasuk di hati dengan terus membersihkan wajah.


"Aduh, Kakak mana, sih katanya mau pipis tadi." Jenar pura-pura celingukan mencari putri sulungnya.


"Ya, seperti inilah rasanya punya anak, repot, tapi seru rumah jadi ramai, tidak sepi seperti kuburan, hidup juga jadi lebih berwarna. Nikmati saja Jenar, bersyukur kamu dipercaya Tuhan untuk dititipi anak karena tidak semua wanita bisa seperti kamu sekarang," monolog Jenar sengaja agar di dengar Embun. Dia masih ingat bagai Embun menamparnya di depan umum empat tahun yang lalu.


Telinga Embun panas mendengarnya, tetapi jiwanya lemas untuk meladeni istri mantan suaminya itu. Akhirnya, Embun bergegas keluar dari toilet dengan pikiran yang melalang buana. Celotehan Jenar tadi membuat kekurangannya semakin terasa.


Di depan Toilet, Embun tidak sengaja menabrak seseorang. "Maaf …," ucap Embun menggantung setelah tau siapa yang ditabraknya.


"Embun!"


"Kamu!" Mata Embun melotot melihat sang mantan suami ada di depan mata.


Bayangan Embun memergoki Eros dengan Jenar di sebuah food court empat tahun yang lalu berputar-putar di kepala bak sebuah film, padahal waktu itu belum ketuk palu dan Eros sudah ada pengganti dirinya. Embun merasa dikhianati, sakit itu tetap terasa, meski sudah tidak ada lagi cinta untuk Eros. Tidak ingin berbasa-basi, Embun segera melewati tubuh Eros. Namun, langkahnya terhenti ketika Eros mengatakan sesuatu.


"Tidak bisakah kita berteman, Embun? Kamu terus saja membenciku, padahal …," ucapan Eros terjeda dikala mendengar lengkingan suara anak kecil memanggilnya. "Papa!"


"Sayang!" Eros berbalik mendapati putri kecilnya berlari ke arahnya.


"Papa, tante ini siapa?" tanya gadis kecil dengan tubuh gembul dan menggemaskan. Kalau saja anak itu bukan anak Eros rasanya Embun ingin mencubit pipinya yang chubby.


"Tante ini teman Papa dan Mama, kenalan gih sama tantenya."


"Halo tante, nama aku Embun." Dengan pintarnya bocah itu mengulurkan tangan.


Embun terkejut mendengar nama anak itu sama dengan namanya, sebenarnya Embun sangat gemas. Namun, mengingat anak itu adalah anak Eros dan Jenar, Embun jadi tidak suka. Tanpa menjawab apalagi menyambut uluran tangan bocah cantik tersebut, Embun pergi begitu saja.


Lihat selengkapnya