Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #4

Bab 4 | Menjaga Kalian Berdua

"Mas …." Suara Lembut Jasmine membuyarkan lamunan Lintang. Gadis itu tersenyum kepada suaminya lalu duduk di samping lelaki itu, dia terlihat malu-malu.


"Embun …." Entah mengapa Lintang melihat Jasmine sebagai Embun. Senyum di bibir Jasmine seketika hilang dan berganti dengan wajah masam.


"Mas! Ini aku Jasmine! Berhentilah memikirkannya, dia tidak akan pernah memberikan keturunan untukmu!" Jasmine marah.


"Maaf, Jasmine."


"Ini malam pertama kita, Mas! Harusnya kamu fokus sama kita bukan sama wanita mandul itu!"


"Jasmine, Embun itu istriku juga!"


"Mas bentak aku? Hanya karena wanita mandul itu? Padahal kita baru saja menikah." Mata Jasmine berkaca-kaca.


"Ja-Jasmine, bukan seperti itu maksudku." Lintang berusaha meraih tangan Jasmine. Namun, Jasmine menepis tangan Lintang.


"Aku akan katakan pada Papa agar segera mengurus perceraian kita!" Ancam Jasmine sambil beranjak menuju pintu. Namun, Lintang mencegahnya, dia tidak ingin orang tuanya kecewa. Bagaimana perasaan bu Inggrid dan pak Yolan jika pernikahan yang baru saja dilaksanakan harus segera berakhir.


"Jasmine, Jasmine, maafkan aku. Aku tidak sengaja." Lintang membawa Jasmine ke dalam pelukannya, gadis itu tersenyum karena merasa menang.


Embun mengerjapkan mata akibat pancaran sinar matahari yang berhasil menyelinap lewat celah jendela, matanya terasa aneh akibat menangis semalaman. Embun melirik ke samping, kosong, tidak ada lagi senyum hangat yang menyambutnya dan mengucapkan selamat 'pagi matahariku'. Embun tersenyum getir, dadanya kembali sesak mengingat semua yang sudah terjadi dalam waktu singkat ini.


Embun berharap jika pagi ini dirinya bangun dari mimpi buruk. Namun, sayang yang terjadi adalah nyata. Embun bangkit lalu meregangkan badan yang terasa pegal, rasanya bukan hanya hati yang hancur, tapi raganya juga. Wanita itu segera menuju kamar mandi, dia akan melakukan aktivitas seperti biasa.


Sehabis mandi Embun berpakaian rapi dan merias wajahnya yang sembab, meskipun sulit menyembunyikan kondisinya dibalik make-up. Embun mencoba berdamai dengan kenyataan, tidak ada gunanya terus menangis karena keadaan tidak akan berubah. Yang harus dia lakukan sekarang adalah menyiapkan mental untuk menghadapi segala kemungkinan kedepannya. Dia tidak tahu apa yang telah menunggunya di depan sana, entah itu kesakitan ataupun kebahagiaan.


"Mulai sekarang aku harus membahagiakan diriku sendiri karena aku tidak bisa menggantungkan kebahagiaanku kepada siapapun lagi, termasuk suamiku sendiri," gumam Embun sambil memandang pantulan dirinya yang menyedihkan di cermin. Wanita itu meraih tasnya lalu turun ke bawah.


"Bi, sarapannya mana?" tanya Embun melihat meja makan kosong.


"Nyonya mau Bibi buatkan sarapan?" tanya bi Marsinah setelah mendekati Embun.


"Iya, mulai sekarang saya sudah tidak mau lagi mengurusi soal makanan."

Lihat selengkapnya