"Tapi, Ma, Pa, kalau aku dan Jasmine pergi, Embun sendirian di rumah, kasihan dia." Perkataan Lintang seketika menghentikan tawa bahagia orang-orang tersebut,
"Embun tidak akan sendirian. Di sini ada bi Marsinah dan Tuti. Kenapa harus risau? Sekarang yang harus kamu pikirkan bagaimana caranya agar bisa segera memberi kami cucu."
Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut bu Inggrid bagaikan mata pedang yang membelah jantung Embun, ia hanya bisa menjerit dalam hati sembari membendung air mata, sementara Lintang hanya terdiam.
"Iya, kan, Embun? Kamu tidak keberatan, Mama yakin kamu pasti mengerti. Kalau Lintang dan Jasmine punya anak otomatis anak itu akan jadi anak kamu juga, kamu juga bisa membantu mengasuhnya dan merasakan menjadi seorang ibu." Bu Inggrid melihat ke arah menantu pertamanya.
"I-iya, Ma," jawab Embun dengan berat hati, urat-uratnya seperti tercabut. Embun menghela napas menekan sesak yang bersarang di dada.
"Benar kata Mama kamu, Lintang. Kalian fokus saja sama diri kalian, jangan pikirkan yang tidak terlalu penting dulu. Kami sebagai orang tua sangat menantikan kabar bahagia dari kalian dan yang terpenting jangan sampai setetes air mata putriku jatuh karenamu," tegas pak Wijaya.
"Berarti aku tidak penting," batin Embun sambil menatap sendu ke dalam piring. Meja makan itu terasa seperti neraka, dimana orang-orang itu menyiksa hati dan perasaannya.
"Kalau sampai Lintang melakukan itu, biar saya sendiri yang menghukumnya," sahut pak Yolan.
"Tapi Papa percaya kamu tidak akan melakukan itu, iya, kan, Lintan?" tambah pak Yolan sambil melirik putranya.
"I-iya, Pa." Lintang menelan ludah kasar.
"Jadi, seperti inikah maksudmu ratu, Mas?" batin Embun lalu tersenyum getir. Ia merasa seperti menenggak racun dan racun itu menyebar ke seluruh tubuh. Semejak tinggal bertiga dibawa atap yang sama, kesakitan dalam hidupnya tidak berhenti, belum kering luka yang kemarin sudah ditoreh lagi dengan luka yang baru.
Di bawah meja tangan Lintang menggem tangan Embun, wanita itu terkejut merasakan sentuhan di kulitnya.
Embun menatap wajah lelaki yang menggenggam tangannya, mata mereka bertemu untuk beberapa saat sebelum deheman pak Wijaya mengakhiri semua itu.
Dua keluarga itu meninggalkan meja makan, termasuk Lintang yang dirangkul oleh ayah mertuanya menyisakan Embun seorang diri di meja itu.
"Mengapa kau begitu kejam Mas. Menahanku tetap di sini hanya untuk menonton kebahagian kalian," batin Embun, setetes air mata mengalir begitu saja selepas kepergian mereka.
Keesokan harinya, Lintang dan Jasmine bersiap pergi berbulan madu ke tempat yang dihadiahkan oleh mertuanya.