Mobil melaju menuju bandara. Lintang memandang jauh ke luar jendela. Memandangi langit yang mulai mendung. Sepertinya akan hujan, karena di atas sana awan menggumpal hitam pekat.
"Embun, sejuta kali sehari kata maaf kuucapkan untukmu tidak akan mampu menutup luka hatimu. Aku tahu diriku kejam karena telah dengan sengaja menyakitimu."
Batin pria itu terus berkecamuk. Merasa marah terhadap dirinya sendiri pun percuma. Amanah orang tua tengah diembannya meski harus menyakiti hati seorang terkasih.
"Mungkin saat ini aku bukan lagi rumah ternyaman untukmu, tapi aku takut, Embun. Aku takut rasa cintamu untukku pudar karena sakit yang terus kau rasa. Aku sangat takut kehilanganmu, tapi tidak ada yang bisa kulakukan saat ini. Aku sungguh tidak berdaya."
Perih dalam hatinya mendidih. Lintang memejamkan mata. Berusaha menahan air yang hendak jatuh dan menumpuk di pelupuk mata
"Mungkin juga saat ini kau sedang menangis …. Maaf, lagi-lagi akulah penyebab air mata itu jatuh," batin Lintang. Dadanya terasa sesak.
Ia tidak peduli pada wanita yang berstatus istri kedua yang duduk di sampingnya dengan senyum begitu manis terukir di kedua sudut bibirnya.
Mereka akan honeymoon ke luar negeri. Pernikahan ini terjadi atas permintaan orang tuanya. Lintang terpaksa mengabulkan sebagai upaya baktinya. Meskipun harus mengabaikan hati seorang wanita yang terluka.
Embun, wanita yang dinikahinya karena ia mencintainya setulus hati. Pasti wanita itu kini tengah mendekap dirinya sendiri. Menguatkan jiwanya yang rapuh karena ulah Lintang.
Mobil terus melaju. Wanita di samping Lintang berbicara tanpa henti. Tak satu pun ucapannya didengarkan Lintang karena pria itu sedang memikirkan istrinya yang lain.
Jasmine memperhatikan sang suami yang sejak tadi menoleh ke arah jendela, ia jengkel karena merasa diabaikan oleh Lintang. Apa tidak ada sedikit pun perhatian lelaki itu padanya pikir Jasmine. Jasmine menghela napas kasar, ia harus sabar menghadapi Lintang agar pelan-pelan bisa masuk ke dalam hati lelaki itu
"Mas, apa yang Mas pikikan?" tanya Jasmine membuyarkan lamuna Lintang.melihat suaminya melamun.
"Tidak ada," jawab Lintang singkat. Lelaki itu masih menoleh ke luar jendela memandangi benda-benda yang dilewati mobil mereka.
"Apa Mas memikirkan Mba Embun. Ingat, Mas saat ini kita harus fokus dulu sama diri kita."
"Memang apa salahnya kalaut aku memikirkannya, dia juga istriku. Aku akan fokus sama kita, tapi tidak harus melupakannya." Lintang menoleh ke arah Jasmine dengan ekspresi datar.
"Sudah kuduga! Menyebalkan!" umpat Jasmine dalam hati. Wanita itu kemudian tersenyum menutupi apa yang muncul dihatinya.