Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #10

Bab 10 | Curahan Hati

Dering ponsel Embun membangunkannya dari alam mimpi dan mendapati hari sudah pagi, ia belum ingin bangkit dari kasur, tubuhnya terasa remuk.Tangan Embun kemudian meraba ke atas nakas dimana ponselnya masih berdering.

Embun melihat siapa yang menelpon, kemudian mengucek mata yang terasa aneh memastikan tidak salah lihat nama si pebelpon. "Mas Lintang," gumamnya dengan suara serak.

Embun rasanya tidak ingin menerima panggilan itu. Ia tidak mengerti, saat sang suami jauh ia merasa rindu. Namun, bila melihat wajah lelaki itu ia muak. Setelah menimbang-nimbang akhirnya Embun menerima telpon dari lelaki yang sejak semalam mengganggu pikirannya.

"Halo," jawab Embun setelah bangkit dan duduk.

"Selamat pagi, matahariku!" ucap Lintang sambil tersenyum. Kata-kata yang tidak Embun dengar selama beberapa hari ini. Wanita tersebut bergeming, kalau dulu kalimat itu terdengar manis dan membuat hatinya berbunga-bunga. Namun, sekarang ia mendengarnya hanya sebatas bualan semata. Bibir Embun terkatup rapat, enggan untuk membalas senyuman sang suami.

"Ada apa, Mas. Menelpon pagi-pagi, aku masih ngantuk," ujar Embun lalu menguap.

Dari layar ponsel Lintang mengamati wajah sembab dan mata bengkak Embun. Lintang tahu semalam pasti istri pertamanya itu menangis, ia merasa menjadi lelaki paling jahat. Ingin memeluk. Namun, apalah daya tangannya tidak sampai, jarak memisahkan mereka saat ini. Ingin menghibur, tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakan. Semua yang keluar dari mulutnya Embun tidak lagi percaya bahkan membuat wanita itu semakin sakit.

"Kenapa diam, Mas?"

"Tidak, aku …," ucapan Lintang terhenti karena tiba-tiba Jasmine datang dari belakang dan mendaratkan sebuah kecupan di pipinya. Jasmine hanya mengenakan handuk kimono dan rambut basah yang terurai. Pemandangan itu membuat hati Embun perih, tangannya bergetar sampai-sampai ponselnya terjatuh. Pagi-pagi sudah disuguhi dengan pemandangan yang menyakitkan, bagaimana mungkin air matanya bisa berhenti untuk tumpah.

"Apa Mas Lintang menelponku hanya untuk memperlihatkan kebahagiaan mereka?" Bibir Embun bergetar dan mata berkaca-kaca.

"Embun!" panggil Lintang dari seberang telpon, ia tahu wanita itu tidak baik-baik saja. Lintang terus memanggil-manggil sang istri sambil memandangi layar gelap. Namun, masih tersambung itu.

Embun mengatur napas menekan sesak di dada, kemudian meraih ponsel yang tertelungkup di atas selimut dan mematikannya. Ia melempar ponselnya ke sembarang arah, tidak peduli jika nanti benda itu mendarat di lantai dan hancur.

"Jasmin! Apa yang kau lakukan?" Lintang memutar badan dan menatap Jasmine tajam setelah panggilan berakhir.

"Memangnya apa yang aku lakukan?" sahut Jasmine sembari mendudukkan diri di atas tempat tidur, wanita itu berpura-pura tidak mengerti maksud Lintang.

"Kau tahu aku sedang berbicara dengan Mbamu! Kenapa kau menciumku di depan matanya, kau sengaja ingin menyakitinya?" ujar Lintang dengan suara sedikit meninggi.

"Aku mencium suamiku sendiri, apa salahnya? Kemarin kalian juga berpelukan di depan mataku," jawab Jasmine tanpa dosa.

Lihat selengkapnya