Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #11

Bab 11 | Cobaan Lagi

Tidak ingin air matanya kembali tumpah, Embun menarik tuas mobil dan meninggalkan tempat kenangan terburuk itu. Ia tiba di Embun's Cake, kaki jenjangnya melangkah masuk ke dalam sembari tangan mendorong pintu kaca. Di dalam cukup ramai karena banyak pengunjung yang datang.

"Oh, ini dia," ujar Lily ketika melihat Embun datang dengan wajah sumringah karena ada pengunjung yang mencarinya.

"Bu Embun!" panggil Lily seraya melambaikan tangan pada pemilik usaha itu. Embun pun segera menghampiri pekerjanya yang berada di kasir."Ada apa?"

"Ada yang mencari Ibu." Tangan Lily mengarah ke pasangan suami istri yang katanya mencari Embun. Ia cukup terkejut setelah mengetahui siapa yang mencarinya, tidak bisakah mereka membiarkan hidupnya tenang sejenak pikir Embun.

"Oh, Tuhan. Cobaan apalagi yang kirimkan lewat mereka," batin Embun, ia menghela napas kasar sebelum berinteraksi dengan pengunjung itu. Kepalanya terasa berat.

"Ada apa mencari saya?" Embun berbicara sebagai pelanggan dan pekerja. Ia mengesampingkan egonya karena harus profesional dalam pekerjaan.

"Jadi seperti ini, anak sulung saya akan berulang tahun tiga hari lagi dan saya ingin memesan kue untuk hari istimewanya itu," papar Jenar dengan wajah angkuh. Matanya meneliti penampilan Embun yang berantakan, dalam hati Jenar tertawa puas melihat iparnya menderita.

"Baik, akan saya catat pesanan Anda." Embun meminta kertas dan pulpen pada Lily. "Anda bisa lihat berbagai varian rasa dan bentuk di sini." Embun menyodorkan buku katalog kue pada Jenar, istri Eros tersebut menerimanya.

"Yang, nanti anniversary pernikahan kita, pesan kue di sini juga, ya," ujar Jenar pada suaminya sambil membolak-balik buku, Eros hanya mengiyakan saja permintaan sang istri. Memperlihatkan kemesraan mereka tanpa peduli pada perasaan orang lain. Embun tersenyum miring karena orang-orang yang tidak berperasaan mengelilinginya.

"Saya tidak ada yang tertarik dengan yang ada di sini, bentuknya biasa saja, tidak ada yang istimewa." Jenar mengembalikan buku itu di ke atas meja kasir.

"Saya mau kamu buatkan kue ulang tahun unicorn yang cantik, mewah dan berbeda dari yang lain. Saya ingin memberikan yang terbaik untuk putri saya, sebagai ibu saya ingin membuat dia bahagia," lanjut Jenar.

"Sayang, jangan seperti itu, kita bisa cari di toko yang lain," bisik Eros pada Jenar. Namun, terdengar jelas di telinga Embun.

"Tidak mau! Aku maunya di sini!" rajuk Jenar seperti anak kecil, membuang wajah ke arah lain sambil tangannya bersilang dada. Perut buncitnya semakin jelas.

"Iya, sayang. Jangan marah, dong. Kan, Mas cuma memberi saran saja," bujuk Eros sambil mengelus perut Jenar. Mata Embun perih melihat itu, bukan karena ia masih mencintai Eros, tapi merasa semakin tidak berdaya karena kekurangannya. Jujur dia iri pada Jenar.

"Embun, apa bisa buatkan kue permintaan istri saya?" tanya Eros. Sebenarnya lelaki itu tidak enak hati meminta seperti yang Jenar inginkan, meskipun ia tahu toko Embun pasti menerima request pelanggan. Sebagai lelaki yang pernah menorehkan luka untuk Embun, ia merasa seperti tidak punya hati.

Lihat selengkapnya