"Bersiap-siap untuk apa, Ma?" Embun bingung. pasalnya dia tidak ada niatan untuk hadir di acara ulang tahun anak Eros.
"Ya, Ampun." Bu Inggrid menepuk keningnya seraya menghembus napas kasar. "Kamu tidak pergi ke ulang tahun anak Jenar dan Eros?" lanjutnya.
"Ehm, aku …."
"Jangan katakan kalau kamu tidak ingin pergi. Lintang dan Jasmine sedang tidak ada saat ini, jadi kamulah yang harus pergi," sela bu Inggrid.
"Tapi, Ma …."
"Mama tidak mau mendengar alasan apapun, mereka keluarga kita sekarang. Ayo kita pergi! Apa kamu sudah beli hadiah?"
"Belum, Ma. Embun sibuk."
"Hah! Kamu itu terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Ayo pergi sekarang! Masih ada waktu untuk mencari hadiah." Bu Inggrid melangkah keluar dari ruangan sang menantu. Embun menghela napas kasar dan bangkit dari kursi, dengan terpaksa ia mengikuti mertuanya. Embun tersenyum getir, perkataan bu Inggrid menusuk hati.
Menantu dan mertua itu tiba di kediaman Eros. Embun menatap bangunan dua lantai bercat putih dimana tempat ia dan Eros tinggal dulu. Ia pernah begitu dicintai oleh sang mantan. Namun, akhirnya dibuang karena ketidaksempurnaannya. Sungguh malang nasibnya karena bahagia seperti sukar dimiliki.
"Eros ingin keturunan, sementara Embun tidak bisa memberikan itue. Dengan maaf sedalam-dalamya Eros kembalikan Embun pada Ayah dan Ibu. Sekali lagi maafkan Eros," ucap Eros kala itu. Mata Embun perih ketika bayangan itu berputar di kepala. Dirinya dibuang seperti barang rusak yang tidak terpakai. Meskipun, rasa cinta itu sudah tidak ada, tetapi kenangan itu tetap menyisakan rasa sakit.
"Apa yang kau pikirkan? Kenapa melamun saja? Ayo masuk!" Bu Inggrid menyenggol lengan sang menantu dan membuat Embun terkejut.
"I-iya, Ma."
Embun menyeret langkahnya yang terasa berat mengikuti bu Inggrid masuk ke dalam, acara baru saja dimulai, mereka sedikit terlambat. Bu Inggrid menyapa Jenar dan Eros, meminta maaf atas keterlambatan mereka, setelahnya wanita paruh baya itu menyerahkan hadiah dan diikuti oleh Embun.
Embun sangat enggan untuk berbicara, ia hanya memasang senyum palsu saat bu Inggrid berbasa-basi dengan pasangan tersebut.
Lagu ulang tahun terdengar menggema, anak-anak yang hadir ikut menyanyikan lagu tersebut membuat suasana semakin meriah. Embun menatap sendu anak-anak yang bernyanyi dengan perasaan yang tidak menentu. Seorang gadis kecil mengenakan gaun biru dan bando tanduk unicorn tampak sangat bahagia menghadapi kue ulang tahun, terlihat dari senyum di bibirnya yang tidak pernah pudar.
Mata Embun memanas, membayangkan andai kecelakaan itu tidak pernah terjadi pasti sekarang anaknya sudah berusia delapan tahun, mungkin juga sekarang anaknyalah yang merayakan ulang tahun itu.
Embun tidak mengerti mengapa orang-orang itu selalu menginginkan kehadirannya untuk menyaksikan kebahagiaan mereka.