Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #13

Bab 13 | Our Time

Tanpa menjawab pertanyaan Embun, Lintang langsung mengangkat tubuh wanita itu yang terasa lebih ringan dan membaringkannya di atas tempat tidur.

Tidak lupa tas Embun di letakkan di atas nakas agar tidak mengganggu.

Lintang duduk di samping sang istri dan membungkukkan badan dengan lengan bawah bertumpu pada kasur, satu tangannya membelai rambut Embun.

Mata lelaki itu mengamati wajah istrinya yang sudah dipoles makeup, cantik. Namun, terlihat sedikit lebih kurus, pipinya lebih tirus dari biasanya.

Embun sangat ingin menanyakan mengapa lelaki itu tidak menghubunginya selama seminggu ini, tetapi kata-kata yang sudah dirangkai hanya tertahan di tenggorokan.

"Baru seminggu kutinggalkan, kau sedikit lebih kurus," kata Lintang.

"Itu perasaanmu saja, Mas." Embun mengalihkan pandangan.

Lintang tersenyum kecil, "Aku serius, apa kau makan sedikit selama aku tidak ada?" Ia membenarkan posisi kepala Embun agar menatap matanya.

"Apakah kurus itu hanya disebabkan karena kurang makan?" Ibu jari lintang mengelus-elus lembut pelipis sang istri.

Lintang menundukkan kepala.

Kali ini dia menghindari kontak mata dengan sang istri, tahu betul apa yang maksud dari ucapan Embun. Ia merasa tertampar dengan kata-kata itu. "Maaf," ucap Lintang lirih.

"Maaf untuk apa?" Gantian Embun membelai rambut hitam Lintang sembari matanya menanti jawaban.

Belum sempat menjawab, tiba-tiba terdengar suara yang berasal dari perut Lintang yang mengacaukan suasana. Embun mengernyitkan dahi lalu berkata, "Mas belum makan?"

"Sudah, tapi sedikit."

"Kenapa?"

"Aku tidak berselera, aku rindu masakanmu."

Tidak lama kemudian perut Lintang kembali berbunyi protes minta segera diisi, lelaki itu meringis karena perutnya terasa perih. Tidak tega, Embun pun segera bangkit dan turun dari tempat tidur.

"Ayo, Mas. Kita sarapan dulu," ajaknya.

"Kamu masak apa?" Lintang mengekori Embun.

"Bi Mar yang masak, sudah ku katakan aku tidak lagi memegang urusan dapur." Embun melangkah menuju pintu, Lintang pun turun dari tempat tidur dan mengekori Embun.

"Embun, aku sangat ingin makan makanan yang kamu masak. Maukah kamu membuatkannya?" Lintang mengimbangi jalan Embun.

"Mas …."

"Ayolah, Embun. Tidak usah yang susah-susah, cukup nasi goreng saja, bagaimana?"

Embun menghentikan langkahnya dan berkata, " Memangnya selama seminggu ini Mas tidak makan nasi goreng? Bukankah nasi goreng di restoran lebih enak dibanding buatanku."

"Ya, kau benar! Tapi bukan seleraku."

"Bagaimana dengan buatan Jasmine? Pasti rasanya lebih enak." Embun melanjutkan langkahnya menuju meja makan.

Lihat selengkapnya