Embun menatap pantulan dirinya di cermin, dadanya terasa sesak mengingat apa yang dilihat di meja makan tadi.
Jasmine seperti tidak memberi kesempatan untuk ia dan sang suami berdua seolah-olah Lintang hanya miliknya seorang.
Embun merapikan penampilan dan merias kembali wajahnya, setelah itu Embun beranjak keluar dari kamar. Rencana hari ini gagal total.
Saat melewati kamar sang madu tidak sengaja Embun mendengar desahan Jasmine yang menggetarkan jiwa, tubuhnya serasa melayang karena lagi-lagi harus mendengar suara itu.
Embun mempercepat langkahnya. "Ya, Tuhan. Apa mereka tidak memikirkan perasaanku?" Mata Embun berkaca-kaca, dengan tangan yang masih bergetar Embun menarik tuas mobil dan melajukannya ke toko kue.
Pukul delapan malam, toko sudah tutup barulah Embun beranjak meninggalkan tempat itu bersamaan dengan para karyawan.
Mungkin mereka bertanya-tanya karena tidak biasanya bos mereka pulang di jam yang sama dengan mereka.
Embun menghela napas melepaskan sesuatu yang memenuhi rongga dada, terasa berat hendak pulang ke rumah. Tempat itu tidak lagi memberikan kenyamanan untuknya, tempat yang hanya menguras perasaan dan air mata.
Embun's Cake sudah sepi karena semua orang sudah pulang menyisakannya seorang diri di sana. Wanita itu menjalankan mobil tanpa tujuan.
Ia belum ingin pulang ke rumah.
Setelah berputar-putar akhirnya Embun berhenti di sebuah taman. Ia duduk bersandar di sebuah kursi sambil mendongakkan kepala menatap bulan yang terang.
Embusan angin begitu lembut membelai menemani dirinya yang kesepian.
"Ayah, Ibu, aku merindukan kalian," gumam Embun dengan mata yang tidak lepas dari benda langit tersebut. Wanita itu menghembus napas kasar sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Ayah, Ibu, apa kalian melihat anakmu ini? Aku lelah sekali, jiwa dan ragaku begitu rapuh menapaki jalan hidup yang menyakitkan ini, tapi keadaan memaksakan untuk bertahan," ucapnya lirih. "Aku menyeret langkahku terseok-seok, menahan rasa sakit yang semakin merajalela. Aku berdarah-darah, tapi tidak ada yang peduli. Lukaku semakin parah, tapi mereka menutup mata karena baginya aku hanyalah seongkok daging bernyawa yang tidak berguna."
Embun mulai menumpahkan isi hati seolah-olah orang tuanya dapat mendengar apa yang ia katakan. Perlahan setetes bulir bening mengalir dari sudut mata, dadanya terasa sesak.
"Ayah, tolong ajarkan aku bagaimana caranya menjadi kuat seperti dirimu yang tetap tersenyum menghadapi kejamnya dunia." Ia membayangkan wajah ayahnya.
"Ibu, tolong ajarkan aku bagaimana cara agar memiliki hati sesabar dirimu yang tidak pernah mengeluh menghadapi badai kehidupan yang tiada henti," lanjutnya pedih. Mata basah itu masih betah memandangi benda langit yang bersinar.
"Aku sudah berusaha menjadi istri dan menantu yang baik, aku mengabdikan hidupku untuk mereka, tapi apa? Semua itu tidak ada artinya karena aku bukanlah istri yang sempurna. Aku dipandang sebelah mata, disisihkan seperti sampah, tapi dibutuhkan untuk menyaksikan kebahagiaan mereka. Aku dituntut untuk mengerti perasaan mereka tanpa mereka harus memikirkan perasaanku. Apakah orang sepertiku tidak pantas bahagia, Bu, Yah?" lanjutnya pedih, Embun tertunduk dan menangis tersedu-sedu.
Sementara itu, di rumah Lintang mondar-mandir di depan pintu karena Embun belum juga pulang. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, seharusnya Embun sudah kembali mengingat toko kue itu tutup jam delapan malam.
Embun biasanya pulang jam empat atau paling lambat jam lima sore, tetapi sudah hampir larut malam wanita itu belum juga kembali, bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi.