Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #16

Bab 16 | Ingin Panggilan Spesial

"Jasmine hamil, Ma," tukas Lintang pada akhirnya.

"A-apa? Apa yang Mama dengar ini benar, Nak?" sahut bu Inggrid, otaknya mencoba mencerna apa yang baru saja disampaikan oleh sang putra. Seulas senyum mulai terbit dari bibirnya.

"Iya, Ma. Jasmine hamil."

"Alhamdulillah, akhirnya." Bu Inggrid mengucap syukur, wajah yang tadi tegang berganti dengan binar kebahagian.

"Kau ini, buat Mama hampir jantungan saja! Mama kira terjadi sesuatu pada menantu Mama itu!" tambahnya bu Inggrid memarahi anaknya.

"Maaf, Ma. Lintang hanya ingin memberi kejutan untuk Mama."

"Baiklah, Mama maafkan karena Mama sedang bahagia."

Tak lama kemudian panggilan pun berakhir. Senyum bu Inggrid semakin lebar, wajahnya cerah secerah mentari pagi.

Wanita itu melangkah cepat ke luar kamar menemui suaminya yang sedang berjemur di taman belakang.

"Pa!" teriak bu Inggrid seraya melangkah lebar menuju dimana suaminya berada.

"Ada apa, Ma?" Pak Yolan menoleh ke arah istrinya yang terlihat sangat bahagia.

"Coba tebak …," ujar bu Inggrid setelah berhenti di samping suaminya.

"Papa tidak tahu, Ma. Katakan saja langsung," sela pak Yolan.

"Papa menyebalkan!" umpat bu Inggrid lalu memasang wajah cemberut.

"Ada apa Mama? Sepertinya Mama terlihat sangat bahagia? Apa Mama menang arisan?"

"Ini lebih dari menang arisan, Pa." Wajah bu Inggrid kembali terlihat ceria.

"Lalu apa?" Pak Yolan mengerutkan kening.

"Sebentar lagi kita akan menjadi Opa dan Oma, Pa. Jasmine hamil!" Bu Inggrid memberitahu suaminya dengan begitu antusias.

"Benarkah, Ma?" Pak Yolan menegakkan badannya dari sandaran kursi, pupil matanya membesar.

"Iya." Bu Inggrid terus memasang senyum.

"Alhamdulillah, akhirnya, Ma." Pak Yolan dan bu Inggrid berpelukan. Perasaan bahagia meliputi pasangan yang tidak lagi muda itu.

"Ya Tuhan, mengapa dadaku sesak mendengar kabar itu? Harusnya aku ikut berbahagia atas kebahagiaan suamiku

Salahkah aku membohonginya? Bibirku boleh tersenyum, tapi hatiku menangis. Maaf Tuhan, aku munafik. Aku tidak bisa berbahagia di atas deritaku sendiri," batin Embun.bTubuhnya bersandar di daun pintu sambil memegangi dada.

Seusai makan malam, penghuni rumah itu masuk ke kamar masing-masing. Embun sudah terbiasa sendiri, sudah sebulan ini ia merasakan kesepian dan akhirnya terbiasa.

Ia tidak terlalu mengharapkan apapun dari lelaki itu lagi. Terlalu berharap hanya akan membuatnya semakin terluka.

Lihat selengkapnya