Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #18

Bab 18 | Kumpul Keluarga

Embun menghentikan mobil di sebuah cafe, tempat biasa ia dan Lintang berkencan. Wanita itu melangkah masuk dan kemudian mencari meja favorit mereka yang letaknya di dekat kaca, dari sana dapat melihat pemandangan di luar sambil menikmati makanan.

Arion Cafe adalah tempat pertama kali mereka bertemu. Kala itu Embun mengantarkan pesanan kue customernya yang tidak lain adalah pak Yolan, beliau ingin merayakan ulang tahun istrinya di cafe tersebut.

Embun membawa masuk pesanan customernya dan ingin meletakkan di kasir, ternyata di sana ada Lintang yang sudah menunggu untuk mengambil pesanan ayahnya. Lintang terpesona saat pertama kali melihat Embun kemudian mereka berkenalan. Dari perkenalan itu tumbuhlah benih-benih cinta diantara mereka, Lintang bersikukuh meyakinkan Embun yang saat itu masih belum siap kembali berumah tangga setelah mengalami kegagalan, hingga akhirnya Embun luluh dan menerima pinangan lelaki itu.

"Sendiri saja, Bu?" ucap seorang pelayan yang sudah akrab dengannya.

"Iya, sendiri saja," sahut Embun, "saya pesan minum seperti biasa," Lanjutnya. Pelayan itu pun mengangguk kemudian berlalu dari hadapannya.

Embun tersenyum getir menatap kursi kosong di depannya, sekarang ia sendirian duduk di meja favorit mereka. Mungkin juga meja itu bukan lagi favorit Lintang dan akan menjadi favoritnya sendiri.

"Mama makanlah dulu biar Papa yang menjaga putri kita." Terdengar suara seorang lelaki yang menyita perhatian Embun. Ia memperhatikan sebuah keluarga kecil yang duduk selang satu meja darinya.

"Iya, Pa. Mama makan ya."

"Iya, Sayang." Suami ibu itu langsung mengambil alih bayi yang berusia sekitar sembilan bulan dari dalam gendongan sang istri . Bocah tersebut terlihat sangat lucu dan juga sangat aktif sehingga ibunya kewalahan. Embun betah memandangi sosok cantik tersebut dengan segala tingkahnya, tanpa sadar seulas senyum terbit dari bibirnya.

"Kenapa, Mba?" Suara ibu dari bocah yang dipandangnya membuat Embun tersadar.

"Tidak, Mba. Anaknya lucu," ujar Embun.

"Oh, saya kira Mba memperhatikan suami saya."

"Tidak, Bu. Saya punya suami." Embun menegaskan kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.

Embun mulai membayangkan Lintang dan Jasmine akan seperti itu suatu hari nanti, sementara dirinya tetap sendiri dan kesepian. Lintang akan sangat perhatian dengan Jasmine, sementara dirinya perlahan dilupakan. Embun kembali melihat ke luar jendela, matanya berkaca-kaca. Tidak seharus ia datang ke tempat itu, tetapi anehnya mengapa ia justru melakukan mobil kemari. Sama saja dirinya memperdalam luka sendiri.

Embun menghela napas kasar menghalau sesak yang bersarang di dada. Merasa setiap tempat yang ia singgahi selalu menyuguhkan pemandangan yang menyakitkan. Tidakkah ia lepas sebentar dari hal-hal menghancurkan perasaannya.

"Maaf, Bu. Lama menunggu." Pelayan tadi datang menghampiri dengan membawa pesanannya, setelah meletakkan minuman di atas meja pelayan itu meninggalkan meja Embun.

Embun menyeruput cokelat panas kesukaanya. Hangatnya minuman tersebut membuat perasaannya sedikit lebih.

"Embun!" panggil seseorang yang membuat Embun mendongakkan kepala.

"Kamu di sini juga?" lanjut orang tersebut yang tidak lain adalah Lintang, disampingnya terlihat Jasmine menggandeng lelaki itu dengan posesif.

Lihat selengkapnya