"Kau bertanya untuk apa? Harusnya aku yang bertanya, apa maksudnya kau bersikap seperti itu?"
"Aku hanya melindungi diri dari hal-hal yang menyakitiku," jawab Embun ringan.
"Tidak ada yang menyakitimu, kau saja yang merasa tersakiti!" Untuk pertama kali Lintang meninggikan suara terhadap Embun. Wanita itu bergeming, sakitnya hingga ke ubun-ubun.
"Coba tanyakan pada hatimu sendiri apa yang salah sehingga kau merasa seperti itu," lanjut Lintang sambil menunjuk dada sang istri. Embun menatap nyalang lelaki di depan matanya dengan dada yang bergemuruh.
"Apa aku dibutuhkan untuk menyaksikan kebahagiaan kalian? Aku hanya penonton dari cerita kalian, bahkan aku tidak akan terlihat di sana!" Embun mulai melupakan perasaan, matanya berkaca-kaca.
"Aku bergabung dengan kalian, tapi aku merasa sendiri dan sepi, diam menyaksikan dengan hati yang tercabik-cabik. Tidak ada yang peduli termasuk kau, Mas! Kau larut dalam kebahagiaanmu hingga kau lupa akan keberadaanku," sambung Embun berapi-api. Air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya tumpah juga. Ia segera menghapus air mata itu dengan kasar.
"Tidakkah kau memikirkan perasaanku sekali saja? Pernahkah kau bertanya tentang keadaanku. Apa kau baik-baik saja? Apa kau lelah? Apa kau sakit? Pernah?" Embun menatap Lintang dalam dengan bola mata basahnya. Lelaki itu terdiam mendengar perkataan sang istri, amarah yang tadi memuncak perlahan mereda.
"Tidak! Tidak pernah! Yang keluar dari mulutmu hanya memintaku untuk mengerti kondisimu dan kau ingin aku baik-baik saja dalam kubangan luka yang kau ciptakan!" Air mata Embun kembali keluar membasahi pipi. Cairan bening itu tidak bisa dibendung lagi. Lintang tidak bisa berkata-kata untuk menimpali ucapan istrinya karena apa yang dikatakan Embun benar adanya.
"Sejak kau menikah lagi, kita tidak pernah ada waktu untuk berdua. Kehadiranku di rumah itu seperti tidak terlihat, tidak lebih seperti hantu! Apa sebenarnya kau berharap aku mati, Mas?" Lanjut Embun, suaranya bergetar.
"Embun, kau tahu, kan …."
"Aku tahu kau mau mengatakan agar aku mengerti kondisimu, kan? Kau tetap ingin aku bertahan dalam kubangan luka itu. Tidak ada gunanya aku bicara panjang lebar, nyatanya kau tidak akan mengerti," sela Embun lalu menghapus air mata, kecewa karena Lintang tidak mau mengerti, padahal ia sudah mengutarakan isi hati.
"Bahkan, keadilan yang kau janjikan sebelum menikah tidak kau tepati, Mas. Aku tidak merasakan keadilan di sini. Madu yang kau janjikan, tapi racun yang aku terima," tambah Embun dingin.
"Aku mengerti sekarang, bagaimanapun kau tetap ingin menyiksaku." Setelah berkata demikian Embun memutar badan dan masuk ke dalam mobilnya. Lintang hanya bergeming mencerna perkataan Embun tersebut.
"Embun," ucap Lintang tersadar setelah mobil sang istri melaju meninggalkannya.
Lintang menatap mobil yang kian menjauh, ia mengepalkan tangan dan meninju udara karena kesal dengan diri sendiri. "Argh!" pekiknya.
"Kenapa kau tega sekali, Mas! Kau menyalahkan aku karena telah melakukan kesalahan kecil, bahkan kau tega membentakku," monolog Embun sambil menyetir, sesekali tangannya menghapus air mata dengan kasar. "Kau berubah, Mas." Lanjutnya.
"Tidakkah kau mengerti sedikit saja bagaimana lukaku, Mas!" Embun menangis tersedu-sedu. Pandangannya kabur karena derasnya air mata.
Suara klakson panjang mengejutkan Embun, ia segera membanting setir karena hampir mengalami tabrakan dengan sebuah mobil pick up yang melaju dari depan, ternyata ia sudah berpindah dari jalurnya karena terlalu larut dalam pikiran. Embun menginjak rem setelah lolos dari kecelakaan itu, dadanya naik turun, napasnya memburu dengan keringat yang mengalir di pelipis. Hampir saja ia mengalami kecelakaan untuk kedua kali, tubuhnya gemetar, ia benar-benar trauma.