"Phiu!" Panggil Jasmine ketika melihat suaminya baru keluar dari kamar mandi.
"Ada apa, Jasmine?" Lintang berjalan ke arah dimana bajunya sudah disiapkan oleh wanita itu.
"Jasmine lagi?" keluhnya jengkel.
"Ada apa, Mhiu?" Lintang meralat ucapannya, tidak ingin merusak mood ibu hamil tersebut. Jasmine tersenyum senang mendengarnya.
"Ayo kita ke rumah sakit!"
"Kau sakit? Apa kandunganmu …." Lintang menjeda kegiatannya mengenakan baju, lelaki itu menatap sang istri yang duduk di ujung tempat tidur.
"Tidak, aku tidak sakit. Kak Jenar sudah melahirkan."
"Bagaimana kalau kau dan Mba-mu saja yang pergi, nanti …."
"Tidak mau!" tolak Jasmine dengan jengkel, "Kenapa sih, wanita mandul itu harus ikut?" batin Jasmine. Lintang mengernyitkan dahi dengan reaksi istrinya tersebut.
"Maksudku Phiu juga ikut, masa Mhiu dan Mba Embun berdua saja, seperti tidak punya suami saja!" Alibi Jasmine setelah sadar apa yang ia lakukan.
"Apa pekerjaanmu lebih penting dari pada aku dan anakmu? Apa Revan tidak bisa menghandle pekerjaanmu lagi, Phiu? Kalau seperti itu pecat saja dia, ganti asisten baru!" lanjut Jasmine, moodnya rusak.
"Mhiu …." Lintang merapikan pakaiannya.
"Pokoknya Phiu harus ikut!" sela Jasmine, wanita itu merajuk. Lintang menghela napas berat lalu duduk di samping sang istri, ia akan mencoba memberi pengertian pada wanita itu.
"Papa benar-benar tidak sayang pada kita, Nak. Papa tega membiarkan kita pergi berdua saja, Papa tidak khawatir kalau terjadi apa-apa sama kita di jalan," ujar Jasmine sambil mengelus perutnya yang masih rata, tidak memberi kesempatan Lintang untuk bicara.
"Kan, ada Mba-mu."
"Kami, kan perempuan semua. Kalau ada apa-apa sama kami bagaimana? Siapa yang akan melindungi kami?"
"Baiklah, aku ikut ke rumah sakit," ucap Lintang pada akhirnya. Lelaki itu menghela napas berat.
Jasmine tersenyum senang, kehamilannya semakin memudahkannya untuk mengendalikan Lintang. Ia merasa di atas awan karena semenjak ia hamil Lintang tidak bisa menolak apapun keinginannya.
"Bagaimana keadaanmu?" Lintang mengamati wajah istrinya yang masih terlihat berantakan, wanita baru saja habis muntah.
"Mhiu baik-baik saja, Phiu. Hanya sedikit lemas." Jasmine menyadarkan kepalanya di dada Lintang dengan manja.
"Kau yakin tidak apa-apa? Di rumah sakit …."
"Tidak, Phiu. Mhiu janji akan baik-baik saja, anak kita tidak akan menyusahkan Mamanya." Jasmine kembali mengelus perutnya. "Dia anak yang baik," lanjutnya.
"Baiklah, kalau seperti itu."