Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #22

Bab 22 | Permintaan Jasmine

Lintang dan istrinya pun kembali ke mobil. Embun merelakan hatinya tercabik-cabik oleh mereka yang tidak punya perasaan. Ia harus menahan rasa sakit itu sendiri. Langkahnya terasa berat ketika jarak semakin dekat dengan kendaraan roda empat itu.

"Kalian lama sekali, dari mana saja?" tanya Jasmine pura-pura tidak tahu. Matanya menyempatkan melirik Embun yang duduk di kursi belakang dari kaca spion, dalam hati ia tertawa puas.

"Kasihan sekali, tapi aku tidak peduli!" batin Jasmine, hatinya berbunga-bunga. Wanita itu kemudian menatap Lintang penuh cinta.

"Tidak dari mana-mana, cuma ada urusan sedikit tadi," sahut Lintang sembari memasang seatbelt tanpa menoleh ke arah Jasmine.

"Oh," sahut Jasmine singkat kemudian wanita itu meluruskan pandangannya ke depan.

Di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, tidak ada pembicaraan antara mereka. Semua sibuk dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Jasmine larut dalam perasaan bahagianya, sementara Embun larut dalam kesedihannya.

Embun menoleh ke arah jendela sembari terngiang-ngiang apa yang dikatakan Lintang tadi. Tidak menyangka bagaimana lelaki itu mengatakannya egois, sedangkan selama ini bukankah dirinya banyak mengalah.

Ia tidak lagi memiliki waktu berdua dengan Lintang, ia merelakan lelaki itu lebih banyak waktu dengan madunya karena mereka sedang melakukan program hamil. Embun masih ingat, terakhir kali ia tidur dengan suami adalah sehari sebelum pernikahan Lintang dan Jasmine.

Setelah Jasmine hamil ternyata hidupnya semakin pahit. Keluarga yang semakin menganggapnya tidak ada dan suami yang mulai berubah. Sebuah kenyataan pahit yang harus ia telan sendiri.

"Mas, bau apa ini? Kenapa tidak enak sekali?" Suara Jasmine memecah kebisuan.

"Tidak ada bau apa-apa?" sahut Lintang sambil fokus menyetir.

"Ada … perutku mual, huek!" rengek Jasmine manja sambil memegangi perut. Embun hanya melirik tingkah Jasmine lewat ekor mata.

"Kau tidak apa-apa?" Lintang terlihat khawatir.

"Baunya tidak enak sekali, rasanya aku ingin muntah," tambah Jasmine.

"Apa bau pewangi ini?" Lintang menunjuk pewangi mobil yang menggantung di kaca. Jasmine menggeleng pertanda bukan benda tersebut yang membuat perutnya terasa diaduk-aduk.

"Apa bau, Mas?" Lintang menoleh ke arah Jasmine sekilas. Lelaki itu menambah kecepatan mobil agar segera tiba di rumah sakit.

"Tidak, sepertinya bau parfum Mba Embun, baunya sangat menyengat. Aku tidak tahan!" Jasmine menyandarkan kepala pada kursi, ia terlihat lemas.

Embun menoleh ke arah Jasmine mendengar kalimat tersebut. Tidak tahu apa maksud dan rencana sang madu, yang jelas perasaannya mengatakan jika wanita itu akan membuatnya semakin terluka.

"Tadi kau tidak apa-apa, kenapa sekarang tiba-tiba seperti ini?" Lintang mengerutkan kening.

Lihat selengkapnya