Embun tergelak dalam hati, bagaimana bisa Lintang berkata demikian. Padahal, pertanyaan yang dilontarkan oleh lelaki itu jelas menyalahkannya.
"Sungguh, Mas. Aku tidak bohong," jawab Embun sambil menekan sesak di dada.
"Baiklah. Istirahatlah, mungkin kau lelah. Coba ingat-ingat lagi, besok kau harus ke rumah sakit," titah Lintang. Embun sangat kecewa karena lelaki itu tetap percaya jika dirinya telah mencelakai keponakan Jasmine. Apakah karena dirinya tidak bisa memiliki anak lantas ia tega mencelakai anak orang? Tidak, dia tidak sejahat itu. Ia justru sayang dengan gadis kecil itu.
"Aku sendiri?" Embun menunjuk dirinya sendiri.
"Tidak, Jasmine akan menemanimu," ujar Lintang. Kepala Embun berdenyut mendengarnya, Lintang selalu saja membuat hidupnya terasa berat.
"Mengapa tidak kau saja yang menemaniku, Mas?"
"Aku harus bekerja Embun, besok ada meeting dengan klien dari luar negeri."
Embun menghela napas panjang, hatinya pedih. Tidak bisakah lelaki itu ada di sampingnya barang sebentar, tidak membiarkannya menghadapi masalah sendirian. Ia rindu Lintang yang dulu, Lintang yang selalu menjadi garda terdepan untuknya. Sekarang ia kehilangan pelindung.
"Baiklah." Embun kemudian berbalik dan menutup pintu kamar, meninggalkan Lintang yang masih berdiri di depan pintu.
"Aku semakin tidak berarti untukmu, mas." Embun tersenyum getir. Semakin merasa sebatang kara di dunia ini, harus menghadapi semuanya sendiri. Tidak ada bahu untuk bersandar atau sekedar tempat berkeluh kesah.
*****
"Kau pasti telah memberikan sesuatu yang berbahaya untuk keponakanku," tuduh Jasmine sambil melirik Embun yang fokus menyetir. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Tidak mungkin hanya diberi air mineral. Katakan, apa yang telah kau lakukan pada keponakanku kemarin? Tidak usah berlagak bodoh, aku tidak akan tertipu," cecar Jasmine. Namun, Embun terlihat biasa saja sambil tetap fokus menyetir, meski hatinya bergejolak. Embun menganggap suara Jasmine hanyalah dengungan nyamuk, malas meladeni madunya yang hanya akan membuat energi terkuras.
"Kau ingin meracuni keponakanku, ya? Mengaku saja," tambah Jasmine. Wanita itu belum puas sebelum mendapatkan jawaban dari Embun.
Embun mencengkram erat setir mendengar tuduhan tersebut, ingin rasanya dia menjatuhkan wanita yang duduk di sampingnya itu ke jalan. Andai Jasmine tidak hamil, ia pasti sudah melakukan sesuatu yang tidak akan pernah dilupakan oleh wanita tersebut.
"Oh, aku tau, kau iri dengan kak Jenar karena dia baru saja melahirkan, sementara kau tidak akan pernah bisa seperti kakakku," tuduh Jasmine lagi, "bagaimana mau melahirkan, hamil saja tidak bisa," tambahnya menghina dengan wajah meremehkan. Telinga Embun panas mendengar kalimat tersebut, dadanya bergemuruh. Namun, ia masih berusaha meredam amarahnya.