Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #25

Bab 25 | Cerita Jasmine

"Heh Wanita mandul, kalau jalan pakai mata!" sarkas bu Riana yang merupakan ibu Eros dengan tatapan bengis.

"Ma, jangan teriak-teriak ini rumah sakit," ujar Eriska yang merupakan adik Eros mencoba menenangkan sang ibu.

"Sini kamu!" tiba-tiba bu Riana menarik lengan Embun dan menyeretnya ke tempat yang agak sepi. Amarahnya meledak-ledak melihat mantan menantunya itu, apalagi setelah mendengar cerita Jenar semalam.

"Kau apakan cucuku? Katanya kemarin kau yang membawanya pergi?" sembur bu Riana.

Embun terdiam, bingung harus menjelaskan seperti apa lagi. Sebab, mereka semua tidak percaya dan menganggap dirinyalah sebagai penyebab putri Eros diare. Terlebih, wanita paruh baya itu memang tidak menyukai Embun. Sudah pasti, apa pun yang keluar dari mulutnya akan tetap salah. .

Embun tidak menyangka hanya karena sebuah hal kecil yang ia lakukan kemarin justru berbuntut panjang seperti ini. Ia dituduh sana sini.

"Jawab! Kenapa diam saja?" Bu Riana mendorong lengan Embun membuat tubuh Embun sedikit mundur.

"Ma, saya bisa jelaskan …."

"Jangan memanggilku Mama karena kau bukan menantuku! Menantuku tidak mandul sepertimu," sela bu Riana.

Embun menahan sakit yang menghunjam jantung karena ucapan tajam bu Riana. Orang-orang sangat suka mengejek kekurangannya. "Baik, Tante. Kemarin saya hanya …."

"Cukup!" Bu Riana mengangkat telunjuknya menghentikan ucapan Embun. "Kau pasti sudah mengarang kebohongan untuk menutupi kesalahan yang telah kau lakukan. Aku tau betul siapa kamu, aku tidak akan tertipu," lanjutnya.

Embun kembali terdiam, jika sudah seperti itu bagaimana ia mau menjelaskan. Belum apa-apa wanita paruh baya itu sudah menganggapnya berbohong. Bahkan, diberi kesempatan bicara pun tidak.

"Oh, kau sengaja ingin meracuni cucuku? Kau iri karena kau tidak bisa memiliki anak?" tuduh bu Riana, "aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai terjadi apa-apa pada cucuku!" lanjutnya dengan bengis.

"Kau dendam pada putraku karena telah menceraikanmu?" Lagi, bu Riana mendorong lengan Embun, sungguh ia geram terhadap bekas menantunya tersebut.

Embun juga tidak mengerti mengapa wanita paruh baya itu sangat membencinya. Apakah karena dirinya tidak sempurna? Bukankah bu Riana tahu cerita lengkapnyai. Ia juga tidak menginginkan mengalami semua itu, tetapi tidak bisa menolak takdir yang sudah ditetapkan.

"Tidak, Embun sudah melupakan …."

"Lalu kenapa kau buat cucuku celaka? Kau ingin membunuhnya?" sela Bu Riana tidak memberi kesempatan Embun bersuara.

Embun beristighfar dalam hati mendengar tuduhan - tuduhan menyakitkan itu. Meskipun, dirinya tidak memiliki anak, tetapi ia tidak mungkin melakukan hal keji yang dituduhkan oleh mantan ibu mertuanya. Tidak mungkin ia tega mencelakai anak kecil yang tidak tau apa-apa.

"Pantas saja Tuhan tidak memberimu keturunan, menjaga anak sekali saja sudah membuatnya celaka," hina Bu Riana. Kata-kata tersebut bagai anak panah yang menancap tepat di jantung Embun. Terluka dengan kalimat yang sama.

Setelah puas menumpahkan amarahnya terhadap Embun, wanita paruh baya itu segera beranjak meninggalkan Embun.

"Maafkan sikap Mama ya, Mba. Aku percaya Mba tidak melakukan itu. Mama hanya terlalu menyayangi cucunya," ucap Eriska. Wanita muda itu tetap bersikap baik padanya, meski sudah tidak menjadi kakak iparnya lagi.

Embun hanya mengangguk sebagai jawaban sambil menahan kepedihan hati. Matanya memanas, semua orang menuduhnya dan tidak ada yang percaya termasuk sang suami. Ia benar-benar tidak ada tempat bersandar, tidak ada yang melindungi disaat semua orang menghakiminya.

"Kau lihat, Mas bagaimana mereka memperlakukan aku?" Embun teringat akan suaminya, setetes air mata berhasil lolos dan ia segera menghapusnya. Embun mulai melangkah menuju pintu keluar.

Embun membuka pintu mobil. Namun, gerakannya terhenti dikala suara seseorang yang dikenalnya memanggil.

Lihat selengkapnya