Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #26

Bab 26 | Mari Kita Bercerai

Pukul empat sore Embun pulang, sebelum masuk ke dalam ia menarik napas panjang terlebih dahulu, terasa berat ingin melangkah ke rumah yang kini terasa sempit. Sejujurnya ia sangat malas untuk pulang karena tempat itu tidak lagi nyaman untuknya.

Embun cukup terkejut mendapati Lintang tengah bersantai seorang diri di ruang keluarga. Ia bertanya-tanya dalam hati, ada apakah gerangan sang suami sudah berada di rumah di jam yang tidak biasanya lelaki itu kembali.

Cemburu mulai merasuki hati Embun, ia berpikir Lintang pulang cepat karena merindukan Jasmine dan calon anaknya. Wanita itu tersenyum getir mengenang nasibnya.

Jika saja dirinya bisa hamil pasti setiap saat ia akan dirindukan oleh suaminya, betapa bahagia hidupnya andai itu terjadi. Embun menggelengkan kepala menepis bayangan yang tidak mungkin menjadi nyata.

Embun menetralkan hati dan perasaan kemudian mendekati suaminya. "Mas kok sudah pulang? Tumben?"

Lintang hanya melirik sekilas pada sang istri membuat hati Embun tersayat-sayat karena merasa tidak dianggap. Bukan hanya tidak menjawab pertanyaannya, tetapi ia juga mendapatkan tatapan kebencian dari lelaki itu.

Entah apa salahnya, Embun tidak mengerti atau memang ia yang terlalu kelelahan sehingga salah mengartikan sorot mata sang suami. Akhir-akhir ini perasaannya begitu sensitif dan mudah sekali tersinggung.

"Dari mana kamu?" tanya Lintang dingin.

"Dari Embun's Cake seperti biasa," jawab Embun, "aku ke atas dulu, ya," tambahnya lalu melesat menuju kamar.

Tanpa Embun sadari ternyata Lintang mengikutinya. Ia terkejut saat ingin menutup pintu, tetapi ada yang mendorong dari luar.

"Kenapa, Mas?" Embun membiarkan Lintang masuk. Ekspresi lelaki itu datar dan berjalan ke dekat jendela. Embun bingung dengan sikap sang suami dan membuntutinya.

"Kenapa kau tidak berhenti membuat masalah, Embun?" Lintang berbalik dan melontarkan pertanyaan yang menusuk jantung wanita itu.

Embun mengernyitkan dahi, tidak mengerti apa yang telah ia perbuat sehingga lelaki itu berkata demikian.

"Tidak bisakah kau menahan egomu untuk tidak berbuat sesukamu?" lanjutnya.

"Memangnya apa yang kulakukan?" tanya Embun, ia benar-benar bingung.

"Dengan mudahnya kau melupakan apa yang telah kau lakukan? Seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal kau hampir saja membuat orang celaka!" Lintang menatap tajam sang istri.

"Aku sungguh tidak mengerti apa yang kau katakan, Mas? Kalau aku punya salah katakan saja, aku manusia biasa yang bisa saja lupa." Embun membalas tatap Lintang dengan hati sangat terluka.

"Kau hampir saja mencelakai calon anakku! Di perjalanan kau menginjak rem mendadak membuat perut Jasmine hampir terbentur!" kata Lintang dengan suara tinggi.

Lihat selengkapnya