Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #27

Bab 27 | Di Mana Buku Itu?

Embun melajukan mobil menuju rumah peninggalan orang tuanya, malam ini ia ingin menginap di sana. Mencari ketenangan lewat kenangan yang melekat di tempat itu.

Air mata Embun tidak bisa berhenti untuk keluar seraya otaknya terngiang-ngiang perkataan Lintang tadi sore. Hatinya sangat sakit. Dari apa yang diterimanya hari ini, kata-kata dari mulut Lintanglah yang paling sakit. Sesekali tangannya menghapus air mata yang membuat pandangan buram.

"Kenapa, Mas? Kenapa? Tidak bisakah kau menjadi rumah yang nyaman lagi untukku? Kalau memang tidak bisa, untuk apa aku tetap berada di sisimu," racau Embun sambil menyetir.

"Tapi mengapa kau tidak membiarkanku pergi? Apakah hanya dirimu saja yang berhak bahagia dan aku tidak?" tambahnya pedih.

Embun menepikan mobil di pinggir jalan karena jarak pandangnya terganggu akibat air mata, fokusnya juga hilang. Embun menangis tersedu-sedu, sesekali ia memukul-mukul dada yang terasa menusuk-nusuk.

Tiba-tiba muncul sebuah ide di kepala Embun yang perlahan menghentikan tangisnya. Wanita itu segera menyalakan mobil dan putar balik menuju rumah, ia akan menyiapkan berkas-berkas untuk perceraian secepatnya sebelum sang suami mengetahui niatnya.

Embun menambah kecepatan mobil agar segera tiba di rumah, ia benar-benar tidak sabar segera berpisah dari Lintang, meskipun sakit.

"Berpisah darimu seperti mencabut pisau yang menancap di tubuh, memang terasa menyakitkan, tapi sakitnya hanya sebentar dan perlahan luka itu pasti akan sembuh," gumam Embun sambil menambah kecepatan mobil sambil menyeka sisa air mata.

"Itu lebih baik daripada membiarkan pisau itu tetap menancap, hanya akan membuat luka semakin parah dan sakit berkepanjangan," lanjutnya menyemangati diri, menghibur hati yang lara.

Embun akhirnya tiba di rumah dan segera masuk. Rumah itu sepi dan beberapa lampu sudah dimatikan karena memang sudah larut.

Sesampainya di kamar Embun segera mencari berkas-berkas yang akan digunakan untuk mengajukan gugatan ke pengadilan. Namun, buku nikahnya tidak ada. Wanita itu membuka seluruh laci dan menjarah segala tempat di kamar mencari buku tersebut. Namun, hasilnya nihil.

Embun berdecak, sang suami pasti sudah menyembunyikan benda itu. Tubuh Embun lemas perlahan meluruh ke lantai. Apakah hidupnya hanya dihabiskan dengan penderitaan, perlahan air matanya menetes.

"Mengapa kau begitu jahat, Mas!" ucapnya lirih.

Embun menyesali mengapa ia tidak segera mengamankan buku tersebut, tidak disangka ternyata Lintang sudah mencium niatnya.

Wanita itu mengumpat kebodohannya. Ia merasa seperti burung yang terkurung dalam sangkar, Lintang telah mematahkan sayap-sayapnya agar tidak bisa terbang bebas. Menahannya untuk tetap tinggal dan menikmati setiap derita yang ia suguhkan.

"Argh!" pekik Embun, tidak peduli jika suaranya mengganggu ketenangan penghuni rumah yang terlelap.

Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Namun, Embun enggan membukakan pintu. Ia hanya terdiam sambil memandangi daun pintu yang terus berbunyi serta suara Lintang yang memanggil-manggil namanya.

"Embun, kamu kenapa?"

"Embun!" Lintang memutar-mutar handle pintu yang terkunci.

"Embun, buka pintunya, plis."

"Embun!"

Embun tetap bergeming, tidak peduli pada teriakan suaminya di luar. Wanita itu kemudian naik ke atas tempat tidur kemudian menutupi telinga dengan bantal.

******

"Mas, aku mau bicara!" ucap Embun setelah tiba di meja makan dan melihat sang suami dengan madunya.

"Ya, bicara saja." Lintang mempersilakan, seolah-olah kemarin tidak terjadi apa-apa.

Lihat selengkapnya