Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #28

Bab 28 | Lintang Sakit

Aku pasti menemukan buku itu dan kupastikan kita akan segera bercerai, Mas!" gumam Embun menatap pantulan dirinya di cermin setelah membenahi rasan wajah.

"Sudah cukup, Mas! Aku tidak mau lagi bertahan dalam kubangan derita," tambahnya.

Embun meraih tas dan keluar dari kamar. Dari anak tangga ia melihat sang suami dan Jasmine sedang sarapan bersama. "Egois!" Embun berdecih dan langsung melesat menuju mobil, tidak ingin bergabung dengan suami dan madunya.

"Bisa-bisanya kau mengatakan kau mencintaiku dan menerima apa adanya, sementara yang terjadi sekarang adalah bukti bahwa yang kau katakan tidaklah benar," monolog Embun sambil fokus menyetir.

Embun memejamkan mata sejenak menarik napas lalu menghembuskannya perlahan, mengurangi sesak yang bersarang di rongga dada. "Tuhan, beri aku kekuatan."

*****

Lintang meraih gagang telepon dan menekan nomor yang menghubungkan ke ruangan sekretarisnya. Setelah menutup telepon kepalanya terasa berat. Lintang menggelengkan kepala dan mengerjapkan mata guna menormalkan keadaannya.

Tidak lama kemudian terdengar suara ketukan pada pintu, lelaki itu menoleh dan berkata,"Masuk!"

Seorang wanita cantik dengan rambut sebahu yang tak lain adalah Oscania sekretarisnya muncul dengan membawa berkas di tangan.

Suara sepatu sang sekretaris beradu dengan lantai membuat pendengarannya sedikit terganggu, Lintang merasa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Setelah pertengkaran dengan Embun pagi tadi ia merasa ada yang tidak beres dengan dirinya.

"Bagaimana progres pembangunan apartemen di kota Karang Baru? Sudah sejauh apa?" tanya Lintang sambil. mengarahkan pandangan pada sang sekretaris. Wanita muda itu pun langsung membuka map yang dibawanya tadi.

"Sudah 20% berjalan pak, kemarin pihak kontraktor sudah mengajukan invoice-nya," jawab Osca.

"Jangan lupa diperiksa dulu semua pekerjaannya, apakah sudah sesuai dengan SPK yang ditandatangani," tambah Lintang. Ia mengerutkan kening karena kepala terasa semakin berdenyut. Namun, bisa masih menahannya.

"Baik Pak. Hari ini Pak Akbar sudah datang langsung ke lokasi untuk meninjau langsung hasil pekerjaan Mega Beton," sahut Osca lagi.

"Kenapa kepalaku rasanya pusing sekali," batin Lintang, ia kembali mengerjapkan mata dan menggelengkan kepala. Suara sekretaris sangat mengganggu pendengarannya sehingga kepalanya terasa semakin berat. Lelaki itu tidak tahan lagi.

"Bapak baik-baik saja?" tanya Osca melihat gelagat aneh pada bosnya.

"Saya baik-baik saja," sahut Lintang sembari memberikan kode dengan tangan agar wanita itu keluar dari ruangannya. Osca menutup berkas yang ia bacakan tadi dan segera keluar dari ruangan itu.

"Aku kenapa?" Lintang memegangi kepala yang berdenyut-denyut, keringat mengalir di pelipisnya. Lintang mencoba berdiri. Namun, matanya berkunang-kunang, ia berpegangan pada meja agar tidak jatuh.

Lintang menelungkupkan kepala di atas meja dan memejamkan mata, tidak peduli jika rambutnya jadi berantakan. Cukup lama dengan posisi seperti itu kemudian tangannya terulur meraih gagang telepon menghubungi asistennya.

"Tolong ke ruangan saya sekarang!" titah Lintang setelah telepon tersambung dan langsung mengakhirinya. Lelaki itu kembali menelungkupkan kepalanya di atas meja karena kepalanya terasa semakin berat.

*****

Lintang turun dari mobil dan menyuruh sang asisten kembali ke kantor. Lelaki itu melangkah gontai masuk ke dalam rumah, baru saja tangannya hendak menyentuh handle pintu, pintu dibuka dari dalam.

"Mas!" Jasmine menyambut kedatangan suaminya, wajah wanita itu sumringah.

"Mas kenapa?" tanya Jasmine melihat wajah suaminya yang pucat. Ia langsung meraih tangan Lintang dan membantunya naik ke kamar. Jasmine dapat merasakan suhu tubuh sang suami panas.

"Aku mau istirahat, kepalaku pusing," ujar Lintang.

"Tubuhmu panas, Mas. Kau demam."

"Iya, makanya aku mau istirahat." Lintang mendudukkan diri di tepi ranjang, mengendurkan dasi lalu membuka pakaian hendak berganti. Jasmine inisiatif mengambilkan pakaian Lintang di dalam lemari.

"Kau ingin sesuatu, Mas?"

"Tidak, aku ingin tidur." Lintang berbaring dan Jasmine membatu menyelimuti lelaki itu.

"Sebentar, aku hubungi dokter …."

Lihat selengkapnya