Setelah berganti pakaian, Embun turun ke lantai utama dan duduk di ruang keluarga menunggu sang suami menghampirinya. Jantungnya berdegup cepat, hatinya resah hendak mendengar apa yang Lintang sampaikan.
Cukup lama Embun menunggu suaminya. Namun, yang ditunggu tidak kunjung datang. Yang datang justru Bi Mar yang membawakan sepiring rujak mangga muda.
"Saya tidak minta, Bi," ujar Embun sambil menegakkan badannya.
"Tadi, Nyonya Jasmine yang minta, Nya. Saya kira Nyonya adalah Nyonya Jasmine karena Nyonya Jasmine tadi juga di sini sebelum saya pergi ke pasar," papar Bi Mar.
"Jasmine baru saja pergi, katanya dia akan menginap di rumah papanya."
"Kok tiba-tiba ya, Nya." Bi Mar menggaruk kepala yang tidak gatal, sementara Embun hanya mendelikkan bahu.
"Apa karena Tuan Lintang sakit, ya," ucap Bi Mar dan langsung menutup mulutnya, Embun langsung mengarahkan pandangan pada wanita paruh baya tersebut.
"Sakit? Bibi tahu dari mana? Kan suami saya kerja."
"Tadi saya Lihat Tuan Lintang pulang, Nya. Tuan sepertinya sakit karena terlihat pucat dan Nyonya Jasmine menggandeng beliau naik ke atas," papar Bi Mar. Embun mengangguk-anggukan kepala, mengerti mengapa Tuti menelponnya, Jasmine pasti yang meminta sang ART berbohong dengan mengatasnamakan Lintang. Ia berdecak karena merasa telah dibodohi.
"Oh, ternyata itu hanya akal-akalannya saja untuk lari dari tanggung jawab, dia hanya mau sehatnya saja. Dasar iblis!" batin Embun geram.
Embun pun memerintah Bi Mar membawa kembali rujak mangga muda ke belakang, setelah itu Embun melesat ke kamar ingin melihat kondisi suaminya.
Embun membuka pintu kamar Jasmine dan melihat suaminya menggigil di bawah selimut. Hatinya terenyuh, ia merasa sedih.
Embun mendekati Lintang dan menempelkan telapak tangan pada kening lelaki itu, suhunya sangat tinggi. Lelaki tersebut membuka mata saat merasakan sentuhan pada kepalanya serta aroma body lotion yang menguar.
"Embun …," ucapnya lirih, "Kau di sini?" lanjutnya.
"Iya, Mas. Aku akan menjagamu. "
"Terima kasih," ucap Lintang lemah.
Embun kemudian mengajak sang suami pindah ke kamarnya, ia tidak sudih berada lama-lama di dalam kamar madunya, hanya akan membuat hati sakit.
Istri tua Lintang itu kemudian melesat ke luar kamar, tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah wadah berisi air dan handuk kecil untuk mengompres sang suami.
"Wanita itu sungguh keterlaluan! Apa otaknya tidak bisa jalan memikirkan apa yang harus dilakukan terhadap orang demam? Dia lebih memilih pergi," geram Embun seraya memeras handuk kecil lalu meletakkannya di kening Lintang.
"Mas, ayo kita pergi ke Dokter," ucap Embun tiba-tiba.
"Tidak usah, Embun. Aku hanya demam biasa."
"Mas …."
"Tidak, Embun. Aku hanya ingin istirahat," sela Lintang.
"Tubuhmu sangat panas, Mas. Biar dapat obat dari Dokter dan pastinya akan lebih cepat membaik."