Madu yang Beracun

Dara Kirana
Chapter #30

Bab 30 | Tidak Perlu Mengajakku

Beberapa hari kemudian …

Lintang sudah sembuh dari sakitnya dan sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Itu semua berkat Embun yang telaten merawatnya. Lintang merasa haru, sang istri sudah ia lukai hatinya, tetapi masih sudih meluangkan waktu untuk merawat dirinya. Andai keluarganya tidak memintanya untuk menikah lagi, tentulah ia tidak akan pernah menduakan wanita setulus Embun. Hati wanita di sampingnya ini sebening namanya.

Sore ini, Lintang mengajak Embun pergi ke taman kota menikmati cuaca sore yang cerah. Mereka duduk pada sebuah kursi di bawah pohon. Selagi Jasmine belum kembali pasangan itu memanfaatkan waktu berdua.

"Embun, terima kasih, ya," ucap Lintang sambil menggenggam erat sebelah tangan Embun.

"Terima kasih untuk apa? Telingaku Sampai sakit mendengarnya." Embun menoleh ke samping menatap sang suami.

"Terima kasih karena kebaikanmu."

"Memangnya apa yang sudah aku lakukan? " Embun mengernyitkan dahi. "Aku sudah seperti pahlawan saja," lanjutnya tersenyum kecil sambil meluruskan pandangan, tetap saja hatinya ada yang mengganjal.

"Kau mau es krim?" tanya Lintang saat melihat tukang es krim lewat. Embun hanya mengangguk sebagai jawaban dan Lintang pun segera menghampiri tukang es krim itu.

Embun memandangi sang suami dari kejauhan seraya otaknya memutar kenangan saat belum ada Jasmine diantara mereka, semua begitu indah seolah mereka akan menua berdua. Embun juga meyakini jika ia tidak akan terluka lagi karena telah menemukan pengobat hati. Namun, ternyata semua itu salah, ekspektasinya terlalu tinggi yang membuatnya terbuai harapan dan akhirnya terhempas oleh kenyataan.

Sementara itu, Jasmine dan Jenar juga berada di taman kota. Kakak beradik itu berjalan-jalan sore mencari udara segar.

"Jasmine, kau belum ingin kembali ke rumah suamimu?" tanya Jenar.

"Belum, aku belum tahu apakah Mas Lintang sudah sembuh," jawab Jasmine ringan.

"Harusnya kau merawat suamimu bukannya melarikan diri seperti ini."

"Kakak, kakak, kan tahu, aku tidak pernah merawat orang sakit, aku tidak mau karena Mas Lintang manja sekali seperti anak kecil, merepotkan!"

"Seperti itulah orang berumah tangga Jasmine. Kau harus menunjukkan kepedulianmu padanya."

"Biarkan saja wanita mandul itu yang merawatnya" sahut Jasmine, "itu bagiannya," lanjutnya.

"Apakah kau tidak mencintai suamimu?"

"Tentu saja aku mencintainya, mengapa Kakak bertanya seperti itu?" Jasmine melirik Jenar yang berada di sampingnya.

"Tidak hanya bertanya saja," sahut Jenar. Langkah dan obrolan mereka terhenti tatkala mata dua wanita itu melihat Embun yang duduk seorang diri.

"Wanita mandul itu? Buat apa dia sendiri saja di sini," ujar Jasmine lalu menyunggingkan senyum miring karena mengira Embun kesepian.

"Meratapi nasib, mungkin," sahut Jenar santai.

"Kasihan sekali, dia selamanya akan seperti itu. Anak tidak punya, sedangkan Mas Lintang nantinya pasti akan lebih perhatian padaku dan anak kami," ujar Jasmine, "atau mungkin juga Mas Lintang akan menceraikan wanita yang tidak berguna itu, haha!" lanjutnya. Kakak beradik itu kembali tergelak mengejek nasib Embun.

Seketika tawa mereka berhenti saat melihat Lintang datang menghampiri Embun dengan membawa dua buah es krim. Mata dua wanita itu membulat.

Lihat selengkapnya