"Aku bertahan demi kamu, Mas. Aku khawatir siapa yang akan menemanimu di saat-saat sulit, saat kau tidak berdaya seperti kemarin, tapi mengapa kau tidak sedikit pun memikirkan perasaanku," gumam Embun sambil memperhatikan mobil sang suami yang kian menjauh. Air matanya kembali tumpah karena hati tidak bisa menahan apa yang dirasakan.
"Aku seperti orang bodoh dibuatmu, tapi anehnya aku memilih tetap bertahan dalam kebodohan itu. Aku sangat ingin membunuh rasa peduliku padamu, tapi hati ini tidak sanggup melakukannya walaupun selalu kau lukai." Mata Embun menerawang jauh, dadanya terasa sesak.
"Baiklah, aku akan tunggu sampai anakmu lahir, Mas. Setelah itu aku akan benar-benar pergi dari hidupmu," ujar Embun sambil menghapus air mata, "aku akan pergi setelah memastikan kau sudah benar-benar bahagia," lanjutnya sambil sesenggukan.
"Mulai saat ini, anggap saja aku sedang mengukir kenangan di sisa waktu kebersamaan kita, yang entah suatu hari nanti kau masih mengingatnya atau tidak." Embun mulai melangkah meninggalkan taman itu.
****
Embun melirik jam dinding yang menunjukkan angka tujuh malam. Namun, Lintang belum juga kembali. Apa mungkin mereka jalan-jalan dulu untuk melepas rindu, pikirnya. Hati Embun terasa seperti di remas-remas membayangkan hal itu, mengingat Lintang tadi sore mengajaknya pergi, tetapi akhirnya batal.
Wanita itu berjalan menuju meja makan karena sudah waktunya makan malam, perut pun sudah protes minta segera diisi. Tiba-tiba ponsel di tangganya berdering, Embun tersentak dan segera menjawab panggilan dari sang suami. "Iya, Mas?" jawabnya tanpa basa basi lagi.
"Embun, aku tidak pulang malam ini, kami menginap di rumah papa."
"Oh, iya, Mas," sahut Embun singkat tanpa ingin bertanya alasanya. Untuk beberapa saat wanita itu diam sembari pikirannya melanglang buana.
"Embun?" Suara Lintang menyandarkan Embun sari lamunan.
"I-iya, Mas."
"Kau tidak apa-apa?"
"Ya, aku selalu baik-baik saja," sindir Embun.
"Embun … tadi sore tiba-tiba Jasmine pusing saat mencium bau pewangi mobilku, besok kami akan kembali ke rumah setelah aku selesai mengganti pewanginya, lagipula ini sudah malam, kasihan nanti Jasmine kelelahan," papar Lintang.
"Kalau dia bisa pergi kenapa tidak bisa pulang," batin Embun. Madunya itu kemarin baik-baik saja saat pergi menggunakan taksi dan mengapa hari ini wanita itu membuat alasan konyol. Bukankah sejak Jasmine dinyatakan hamil, selalu menggunakan pewangi mobil yang sama.
Entahlah dia tidak mengerti, mungkin juga karena dirinya tidak hamil sehingga menganggap hal itu tidak masuk akal.
"Embun?" Suara Lintang memecah pikiran wanita itu.
"Kenapa diam saja?" lanjut lelaki tersebut.