Bel rumah berbunyi, Embun yang sudah berada di ujung tangga pun melesat ke depan melihat siapa yang datang berkunjung pagi-pagi.
Embun membukakan pintu dan nampaklah sang suami dan madunya, Jasmine tidak melepaskan belitan tangan pada lengan Lintang.
Lintang mengulurkan tangan agar Embun mencium punggung tangannya. Dengan berat hati Embun menyambut uluran tangan itu dan melakukan apa yang sang suami inginkan, kalau dulu dia sangat senang melakukannya, tetapi sekarang berbeda.
"Kau baik-baik saja," tanya Lintang basa basi.
"Seperti yang kau lihat, Mas," sahut Embun singkat, sementara Jasmine memutar bola mata malas mendengarnya. Setelahnya pasangan bak perangko itu masuk ke dalam.
"Embun, boleh aku meminta tolong," ujar Lintang, menghentikan langkah dan menghadap istri tua.
"Apa?" sahut Embun, perasaannya mengatakan ada yang tidak beres.
"Jasmine ngidam sangat ingin memakan makanan masakanmu, bisakah kau memenuhinya?" tanya Lintang, mata Embun melirik madunya yang terlihat lugu di samping sang suami, "dia tidak berani bicara langsung padamu karena takut kau tidak mau," lanjut Lintang.
"Hah! Apa yang direncanakan oleh wanita beracun ini?" batin Embun, "maaf, Mas aku bukan pembantu," tolaknya.
Mendengar penolakan Embun Lintang langsung meradang. Ia meminta baik-baik. Namun, Embun tidak ingin memenuhi. Tega sekali pikirnya.
"Tidak bisakah kau mengerti sedikit, Embun? Jasmine itu sedang hamil, anak yang dikandung Jasmine itu anak kita, anak kamu juga! Apa kau tidak kasihan? Bagaimana perasaanmu jika berada di posisi Jasmine?" sembur Lintang.
Embun terdiam. Tubuhnya membeku, matanya memanas karena ada cairan yang mendesak ingin segera keluar. Namun, ia mati-matian membendung air itu. Ini bukan pertama kalinya Lintang membentaknya, tetapi tetap saja rasanya sakit.
Jasmine tersenyum tipis dan tertawa dalam hati melihat apa yang terjadi di depan matanya, ia sungguh bahagia.
"Dia tidak pernah hamil, mana paham rasanya ngidam," celetuk Bu Inggrid yang tiba-tiba muncul dan menatap sinis Embun. Embun masih terdiam, kehadiran wanita paruh baya itu menambah luka pada hatinya.
"Mama, kapan Mama datang?" Lintang langsung menghampiri Bu Inggrid yang berdiri di ambang pintu.
"Mama, kenapa tidak memberi kabar terlebih dahulu," timpal Jasmine sambil menyusul suaminya.
"Mama mau ke rumah anak Mama, kenapa harus memberi kabar? Sudah seperti orang lain saja," sahut Bu Inggrid sambil melirik Lintang dan Jasmine secara bergantian setelah pasutri itu menyalaminya.
"Embun!" Bu Inggrid melangkah mendekati menantu pertamanya. Embun menoleh ke arah sang mertua.
"Kau tidak boleh egois seperti ini, orang hamil itu memang keinginannya banyak dan susah ditebak. Apa salahnya kau penuhi keinginan Jasmine, aku tidak mau cucuku nanti ileran," tukas wanita paruh baya tersebut.
"Ma, itu cuma mitos. Bayi …."
"Mama tidak mau dengar. Entah mitos atau bukan kau tetap harus memenuhi keinginan Jasmine, lagi pula tidak sulit hanya membuatkan makanan," sela Bu Inggrid, Embun melirik sang suami berharap sedikit pembelaan. Namun, lelaki itu acuh dan memalingkan wajah ke arah lain.
"Maaf, Embun. Bukan aku ingin membiarkanmu, tapi agar kau paham," batin Lintang.